2. Banyak pengamen serta pengemis yang masuk ke bus, sehingga akan sangat mengganggu perjalanan.
3. Kurang aman. Apabila bus sedang penuh sesak, baik penumpang,pedagang asongan maupun pengamen bercampur baur, sehingga terkadang apabila kita tidak waspada, kita bisa kecopetan di dalam bus.
Sewaktu menjadi pelajar dan mahasiswa, saya sering menggunakan bus sebagai alat transportasi sehari-hari. Hal itu saya pilih karena uang saku saya sebagai pelajar dan mahasiswa sangat terbatas. Saat itu, saya sama sekali tidak pernah merasakan takut meskipun sopir bus menyopir dengan kecepatan tinggi. Justru, saya akan merasa dongkol apabila sopir dengan pelan melajukan kendaraannya, karena bisa dipastikan saya bakal terlambat tiba di tempat.
Karena terlalu sering bahkan hampir setiap hari naik bus, saya sangat tahan dan tidak pernah mengalami mabuk perjalanan, meskipun bus dikemudikan dengan ugal-ugalan atau saat melewati jalur yang super ekstrim.
Sebenarnya, sopir bus itu tidak perlu mengemudikan kendaraan dengan kecepatan tinggi, karena akan banyak resiko yang diterima di tengah perjalanan. Antara lain:
1. Untuk jangka panjang, penumpang akan merasa kapok untuk naik bus yang sama
2. Besar kemungkinan akan mengalami kecelakaan. Secara logika, mengemudikan kendaraan dengan kecepatan tinggi akan sulit mengontrol laju kendaraan bila terjadi sesuatu secara mendadak.
Banyak kejadian disekitar kita terjadi kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh lalainya sopir, baik karena ugal-ugalan maupun karena faktor kerusakan armada.
Sebagai penumpang, ada beberapa harapan dari kami, yaitu:
1. Tidak perlu mengejar waktu, karena bagaimanapun juga, keselamatan penumpang adalah yang utama.
2. Kontrol spare part serta kelaikan mesin kendaraan secara berkala, agar ketika terjadi kendala segera bisa dibenahi.