Mas Yudha segera mengambil kursi rodaku dan mendorongnya ke dekat tempat tidur. Perlahan Mas Yudha mengangkat dan mendudukkanku di atas kursi roda. Dibenahinya selimut untuk menutup kakiku. Suasana sekolah sangat sepi karena senja telah menjelang. Mas Yudha merapatkan pintu UGD dan mendorong lembut kursi rodaku menyusuri koridor kelas yang telah terkunci rapat.
Di dekat gerbang sekolah, Jasmine berdiri berurai air mata, tidak percaya bahwa ibu guru disable yang selama ini mengajarnya matematika adalah ibu kandungnya.
"Ibu...," teriak Jasmine dan berlari memelukku.
"Anakku Jasmine, ya Allah...sudah sebesar ini dirimu Nak."
Aku mencium buah hatiku dan rasanya tidak ingin melepaskannya lagi.
"Tampaknya aku harus segera pulang Mas, pasti Yovella sudah meraung kelaparan di rumah."
"Yovella? Siapa dia?"
"Kucingnya bu Lestari namanya Yovella. Papa pasti senang kalau bertemu dia, the sweetiest black cat."
"Jasmine, sekarang kamu sudah menahu bu Lestari adalah ibumu, sekarang kamu panggil Mama ya,"
"Oh...okey Pa...tidak nyangka ya ternyata Mama yang kita cari selama ini berada di sekolahku. Aku senang banget ketemu dengan Mama," Jasmine kembali memelukku dengan erat. Aku tidak pernah membayangkan Jasmine adalah putriku yang terpisah karena bencana yang menimpa keluarga kami.
"Iya Sayang. Mama juga senang ketemu lagi dengan Jasmine."