Mbok Marni hapal dengan kelakuan Sari setiap usai berbelanja, dan mampir ke warungnya cuma sekedar membeli kue kacang dengan uang lima ribuan. Dan jika beberapa hari tak muncul, pasti tanpadi duga si empunya tiba-tiba sudah muncul dengan senyum malu mengucapkan jajanan yang dicarinya.
Awalnya Mbok Marni biasa saja di kemunculan pertama Sari di warung itu. Seperti tetangga-tetangga lainnya yang biasa berbelanja. Tapi sejak melihat jajanan jadul yang aneh, sekedar itu saja bisa bolak-balik ke warung membuat Mbok Marni sering mengingatkan.
"Mbak, itu yang buat kue kacang belum datang-datang, mungkin dua hari lagi ya."
"Jadi di stoples si mbok ya cuma ada 4 buah itu saja."
Dengan malu Sari mengambil keempat kue tersebut dan membayarnya dengan pecahan empat ribu rupiah. Kue kering kacang tanah buatan kampung yang jelas tampilannya saja sederhana, murah, justru membuat Sari ketagihan.
Sebetulnya bisa saja dirinya yang pandai memasak kue membuat kue itu sendiri. Namun ada selera yang dirasanya kurang saat membuat sendiri. Rasa manis yang biasa, dan kacang yang terkadang masih kurang halus itu membuat berbeda, aroma desa dan tangan ibu yang dahulu biasa membuatkan persis seperti itu.
Sari tidak kuat jika harus membuatnya sendiri, sebab rasa rindunya pada ibu yang telah tiada, perasaan luar biasa yang saat ini dirasakannya dan tak bisa diungkapkan pada Ronny. Ia takut lelaki itu akan lebih berpikir panjang untuk mewujudkan semua inginnya.
Sejak pertama berumah tangga, dengan semua keterbatasan yang mereka miliki, tidak pernah dirinya memiliki keinginan macam-macam. Usaha yang mereka bangun bersama juga berjalan seperti biasa, ada pasang dan surut. Terkadang warung ramai, terkadang pun sepi pembeli. Setiap hari yang ada tak bisa diprediksi, dan semua mereka syukuri.
Pasti keinginan mudik akan terendus oleh lelaki tersebut, dan saat ini kondisi mereka belum memadai untuk bepergian. Baru genap dua tahun lebih mereka membina rumah tangga. Dengan sejumlah kebutuhan di tengah krisis ekonomi yang mereka hadapi. Apalagi anak-anak dari Sari saat ini tengah membutuhkan banyak keperluan sekolah dan kebutuhan sehari-hari.
Mengendapkan rasa dan keinginan tersebut tidak mudah ditengah kekurangan mereka untuk mengungkapkannya. Rasa yang membuncah membuat Sari sakit. Sempat Ronny mengira bahwa Sari tengah hamil. Prediksi tersebut salah, meski ia mengetahui bahwa Sari sudah tak mungkin memiliki keturunan lagi, sejak mereka menikah dirinya tahu bahwa Sari mandul.
Melayang-layang pikiran Sari hingga tak terasa hari sudah menjelang Zhuhur, sementara Ronny belum juga tiba, sedari pagi. Perasaan khawatir hingga melupakan semua keinginannya.
Beri Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!