Di Asia Tenggara, Singapura yang konon sebagai salah satu negara terkuat secara ekonomi juga sempat mengalami dampak dari perang dagang. Negara yang dulu dikenal dengan nama Temasek ini mencatat pertumbuhan ekonomi terendah dalam sepuluh tahun terakhir.
Menurut laporan situs CNBC per 21 Mei 2019, pertumbuhan ekonomi Singapura hanya menjangkau angka 1,2 persen year on year. Sebelum itu estimasi pemerintah negara tetangga ini, mereka bisa mencatat pertumbuhan 1,3 persen.
Patut dicatat, 10 tahun lalu, Singapura sempat mencatat pertumbuhan ekonomi hingga 1,7 persen. Maka itu, kondisi terkini dapat dikatakan sebagai sebuah pukulan serius terhadap negeri jiran ini. Penyebabnya, hanya lantaran sektor manufaktur mengalami kontraksi lantaran perang dagang.
Menyikapi itu, pemerintah Singapura terpaksa menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2019. Mereka hanya dapat menetapkan proyeksi 1,5 hingga 3,5 persen untuk tahun ini.Â
Persiapan BI dan pemerintah
Bank Indonesia (BI) sudah memprediksi berbagai kemungkinan tersebut. Bahkan "suhu panas" ekonomi global itu akan sangat dipengaruhi oleh semakin memanasnya perang dagang AS dan Tiongkok.
The Fed sebagai "penguasa" urusan moneter di AS, juga sudah diprediksi akan menahan laju peningkatan Fed Fund Rate atau suku bunga antar bank "Negeri Paman Sam".Â
Selain itu, juga masih ada persoalan terkait dengan no-deal Brexit, atau masalah keluarnya Inggris dari Uni Eropa (UE). Perdana Menteri Theresa May berpolemik dengan parlemen Inggris, dan di sisi lain mereka harus memastikan kesepakatan dengan UE.Â
Saat pemerintah Inggris ingin keluar dengan tetap menjalin hubungan dengan UE, parlemen menginginkan Inggris keluar begitu saja tanpa perlu memusingkan organisasi negara-negara "Benua Biru" tersebut.
Theresa May berkali-kali sudah mengajukan proposalnya, namun parlemen tak kunjung merestuinya. Di pihak lain, para petinggi UE sendiri sudah tak sabar dengan sikap Inggris. Tak pelak, PM Inggris itu sendiri belakangan mempertaruhkan posisinya.