Goa Selomangleng Tulungagung terletak di dusun Sanggrahan Kidul, desa Sanggrahan, kecamatan Boyolangu. Dari pemukiman warga berjarak sekitar 500 meter, berada di tepi dusun. Jalur menuju lokasi cukup mudah. Setelah melewati jalan setapak, kebun, dan ladang dusun, pengunjung akan segera tiba di lokasi berpemandangan asri klasik.
Jalan tidak begitu nanjak. Beda cerita ketika menjujug candi Dadi yang terletak di pucuk bukit di arah timur goa Selomangleng Tulungagung.
Dari pusat kota Tulungagung sudah terpampang plang penunjuk arah goa Selomangleng, arahnya ke selatan berjarak tempuh sekitar 10 kilometer tiba di dusun Sanggrahan Kidul. Pengunjung yang baru pertama datang, tak bakalan kesesat, asal tanya pada warga dusun, dimana arah goa Selomangleng Tulungagung yang asri klasik ini.
Â
[caption id="attachment_338170" align="aligncenter" width="300" caption="tiba di tepi halaman goa"]
[caption id="attachment_338172" align="aligncenter" width="300" caption="sore yang emas"]
Goa Selomangleng sebenarnya goa atau lobang buatan yang berada di sebuah batu andesit hitam besar. Lobang bangunan goa berjumlah dua. Dua lobang bini erada di dua sisi batu andesit hitam besar.
Goa pertama hadap barat, berbentuk rongga segiempat, berhias relif yang terpahat pada dinding bagian utara dan timur. Relief ini menggambarkan episode dalam kakawin Arjunawiwaha, yaitu kisah ketika Dewa Indra menugaskan para bidadari menggoda Arjuna yang sedang bertapa di gunung Indrakila.
[caption id="attachment_338173" align="aligncenter" width="300" caption="ada dua goa"]
[caption id="attachment_338174" align="aligncenter" width="300" caption="relif di goa Selamangleng Tulungagung"]
Â
Kakawin Arjunawiwaha merupakan karya sastra pertama Jawa Timur karya Mpu Kanwa pada masa Erlangga. Berdasarkan ulasan Zoetmulder, kakawin Arjunawiwaha mengisahkan seorang raksasa bernama Niwatakawaca yang sedang mempersiapkan diri menyerang kahyangan Dewa Indra. Lantaran raksasa itu tak dapat dikalahkan, baik oleh dewa maupun golongan raksasa lain, Dewa Indra meminta bantuan bangsa manusia.
Dan Arjuna yang sedang bertapa di gunung Indrakila ditetapkan sebagai Sang Jagoan Dewa.
Untuk memastikan Sang Jagoan benar benar sosok unggulan, Dewa menguji Arjuna dengan mengirim bidadari.
Maka dipanggil tujuh bidadari berkecantikan menakjubkan. Kedua bidadari terpenting bernama Dewi Suprabha dan Dewi Tilottama. Mereka semua mendapat titah mengunjungi Arjuna, menggunakan segala rayuan untuk menggoda keteguhan Sang Jagoan Dewa.
Maka para bidadari utusan Dewa segera turun menuju gunung Indrakila tempat Arjuna tapa. Tetapi setelah sekuat upaya menggoda, para bidadari gigit jari alias gagal menggoda Sang Jagoan Dewa.
Penuh rasa kecewa para bidadari pulang kampung naik kayangan, melapor kegagalan itu pada Dewa Indra. Kegagalan para bidadari itulah yang sebenarnya diharapkan. Dewa Indra gembira karena Arjuna tidak mempan goda. Artinya sangat layak dimajukan sebagai Sang Jagoan Dewa menghadapi raksasa Niwatakawaca.
Itu sekilas kisah penggambaran relif pada bangunan pertama goa Selomangleng Tulungagung yang asri klasik ini.
Adapun pada bangunan kedua goa Selomangleng yang terletak di sisi selatan goa pertama, tidak berhias relif. letak goa kedua ini lebih tinggi dari goa pertama. Mulut goa hadap selatan ke arah bukit.
[caption id="attachment_338176" align="aligncenter" width="300" caption="goa kedua lebih tinggi"]
Sisi selatan dan timur goa Selomangleng adalah bebukitan bergunduk gunduk. Musim kemarau gersang, tapi musim hujan hijau sedap dipandang.
Naik ke atas tebing di sisi timur goa Selomangleng, terdapat bangunan batu berbentuk kaki dan datur candi berdenah segi empat, berukuran panjang 490 cm, dan lebar 475 cm. bagunan ini seperti bekas candi atau altar. Belum diketahui pasti fungsi bangunan ini.
[caption id="attachment_338178" align="aligncenter" width="300" caption="pak Edi Weliang dan pak Bambang Eko dari Save Trowulan naik tebing"]
[caption id="attachment_338179" align="aligncenter" width="300" caption="akhirnya sampek juga. indah sangat!"]
Bernet Kempers berpendapat, situs sejarah goa Selomangleng Tulungagung muncul dibangun dan mulai difungsikan pada akhir abad sepuluh masehi.
[caption id="attachment_338194" align="aligncenter" width="300" caption="watu kendang?"]
[caption id="attachment_338198" align="aligncenter" width="300" caption="siwi sang, ema emink sujalma, edi weliang, dan bambang eko ariadi"]
[caption id="attachment_338200" align="aligncenter" width="300" caption="selamat datang di goa Selomangleng Tulungagung"]
__________
SIWI SANG
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H