Mohon tunggu...
Siti Masliah Hayati
Siti Masliah Hayati Mohon Tunggu... Lainnya - Hai!

Saya pernah menempuh pendidikan jurnalistik, tapi sudah jarang sekali menulis dan karenanya saya merasa agak tumpul di bidang itu. Saya ingin kembali belajar menuangkan isi pikiran dengan berbagi topik yang saya anggap menarik. pasti akan ada banyak minus di sana-sini, tapi semoga ada manfaatnya baik untuk penulis dan pembaca. terima kasih, semoga berkenan

Selanjutnya

Tutup

Lyfe

Bakatku Tuh Apa, Ya?!

22 November 2022   11:05 Diperbarui: 22 November 2022   11:10 102
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Saya mendengarkan lagu Blue ft. Elton John - Sorry Seems To Be The Hardest Word sambil menuliskan ini, dan saya tersenyum beberapa kali. Bagian favorit saya adalah saat bisa mengikuti lirik "sorry" dengan nada agak tinggi itu, kalau bisa melewatinya saya merasa puas dan tersenyum lebih lebar. hahaha! 

Tidak apa-apa membuat diri bahagia, kita harus sering melakukannya, kan. Tak peduli sesederhana apapun caranya, bahagiakanlah diri sendiri terlebih dahulu. 

Ngomong-ngomong soal bahagia, level dan jenis kegiatan yang membuat orang bahagia ini tentunya beragam sekali. Kebahagiaan ini bisa ditentukan oleh banyak hal, dari bahasa kasih, hingga minat dan bakat yang dimiliki orang bersangkutan.

Untuk bahasa kasih, bagi saya pribadi ini cukup mudah dideteksi, tidak sulit, karena semua bahasa kasih pada dasarnya adalah menyenangkan, tinggal temukan apa preferensinya, bisa dengan bertanya langsung atau dengan mengamati, selesai. Tapi tidak begitu dengan bakat. Kadang kita menyukai banyak sekali hal tapi sering mandek, hingga muncul pertanyaan yang sama berulang kali, Apa aku sebenarnya nggak berbakat dalam hal apapun, ya? . Tapi masa, sih? Masa iya bisa begitu, emang aku beneran nggak pintar dalam hal apapun? Waduh! Bahaya. Teori ini bertentangan dengan keyakinan saya bahwa setiap orang itu sebenarnya cerdas. Tapi kalau mandeknya dalam hampir semua hal apa tetap bisa dibilang cerdas? Kebingungan saya kian akut.

Atau kalau level percaya diri sampai menurun, saya seringkali bertanya pada orang-orang yang saya percaya, Ka, aku tuh sebenarnya orang yang kayak gimana, sih? Karena seringkali diberi pertanyaan serupa sampai bosen banget, saya sering kena lemparan bantal, pakaian kotor, atau potongan sayuran. Padahal awalnya dijawab manis, lalu nasihat yang membangun, lalu nasihat yang nyebelin, lalu hal-hal yang menyebalkan tadi. Atau sebenarnya sayalah yang nyebelin, hahaha. Yah, gimana, saya kalau nanya emang kadang nggak lihat sikon. 

Shinkk penting (ada usaha biar) kebingungan dalam diri tertuntaskan ya gaes ya :) .

Baik, dulu saya mikir kalau bakat itu adalah kemampuan yang menonjol di diri kita. Entah itu menggambar, menulis, melukis, menjahit, dst. Saya menempatkan bakat itu sebagai sesuatu yang tunggal dan sudah jadi plek ketimplek, tanpa melihat asal muasal dari bakat itu sendiri. 

Untuk menentukannya, saya banyak membaca dan menonton video, ikut tes A,B,C, dan seterusnya, tapi masih juga muncul kebingungan-kebingungan yang serupa di hari-hari berikutnya. Dahaga penasaran saya belum tuntas, GAIS! 

Saya mencari dan terus mencari hingga saya melihat satu video yang mengubah hidup saya, HiYyyyyYYaaaaaAAaaaTtttt !!! 

Video itu berjudul.. Apa ya, saya lupa sekali judulnya, serius. Tapi akan saya coba jabarkan di sini. Ilmu ini saya peroleh dari video dr. Aisyah Dahlan (jazakillah khoir, dokter). Saya menyukai fakta yang beliau jabarkan karena semuanya menegaskan bahwa setiap orang adalah cerdas.

Bakat itu berasal dari kecerdasan yang berjumlah 8 dan posisinya ada di otak bagian tengah di kepala kita. Kecerdasan itu adalah:

1. Kecerdasan Intrapersonal, adalah kecerdasan yang membuat pemiliknya bisa merenung, orang dengan bakat dominan ini akan bagus sebagai trainer, konselor, filsuf, psikolog, psikiatri, wiraswasta, penulis, peneliti, dan hal-hal yang berkaitan dengan spiritual;

2. Kecerdasan Musik, adalah kecerdasan yang bisa berdiri sendiri, orang dengan bakat dominan ini bagus sebagai penyanyi, pemain musik, produser, guru musik, guru vokal, penggubah lagu, konduktor musik, teknisi musik, dan pemilik toko musik;

3. Kecerdasan Linguistik, adalah kecerdasan bahasa, orang dengan kecerdasan ini baik untuk berhubungan dengan karya jurnalistik, debator, penulis, penerjemah, PR, marketing (harus dibersamai dengan kecerdasan interpersonal dan logis-matematis), guru, dan pengacara;

4. Kecerdasan Interpersonal, adalah kecerdasan yang berhubungan dengan orang lain, bagus menjadi trainer, guru, konselor, manajer, marketer, politisi, pekerja sosial, aktor, terapis;

5. Kecerdasan Matematika dan Logika; kecerdasan yang berkaitan dengan angka dan logika; 

6. Kecerdasan Visual dan Spasial;

7. Kecerdasan Natural;

8. Kecerdasan Kinestetik.

Setiap orang pasti memiliki 8 bakat itu di kepalanya, tapi hanya ada 4 (mentok-mentok 5) bakat dominan yang dimiliki, inilah yang disebut bakat sebenarnya. yang jika ditekuni akan ngageleser seperti air mengalir atau nyerelek seperti kait gorden di jalurnya. Mulus sekali dan berkali-kali. kecerdasan dominan ini akan menghasilkan kemampuan yang sangat baik jika ditekuni.

Kadang kita menyukai satu hal, katakanlah menggambar (masuk dalam kecerdasan visual spasial) tapi kok mentok ga maju-maju. Penyebabnya bisa beragam, tapi kalau sudah berlatih dan tetap mentok, penyebabnya mungkin adalah karena itu bukan kecerdasan dominan kita. Betul bahwa kita bisa menggambar dan kita punya bakat itu, tapi bukan termasuk ke dalam bakat yang dominan.

Bakat atau kecerdasan dominan pun bisa ditelisik lagi berdasarkan urut-urutannya. Misal, kecerdasan pertama kita adalah linguistik, kecerdasan yang kedua adalah interpersonal, maka orang tersebut akan baik di bidang public relation. Kalau kecerdasan linguistik dan interpersonal itu diikuti dengan matematika dan logika, maka orang tersebut akan baik di bidang marketing. Dan seterusnya demikian. Jangan sampai kecerdasan linguistik di nomor 7, kecerdasan interpersonal di nomor 8, lalu kita memaksakan diri masuk ke jurusan ilmu sosial, atau melamar menjadi seorang PR, pasti akan keteteran nantinya. Betul bahwa bakat itu harus diasah dan dipelajari, tapi kalau bukan bakat dominan yang ditekuni, perjuangannya tentu akan lebih berat. 

... Dan tak jarang menimbulkan kebingungan tak berujung, yeah.

Dengan mengetahui hal ini, harapannya tentu kita bisa memaksimalkan bakat-bakat dominan yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita. 

Selamat memahami mencintai diri sendiri! :)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun