1. Latar belakang konflik korea utara dan korea selatan
Konflik antara Korea Utara dan Korea Selatan berakar dari pembagian Semenanjung Korea setelah Perang Dunia II, yang kemudian diperparah oleh ketegangan ideologis, politik, dan militer. Berikut adalah latar belakang konflik tersebut:
1. Pembagian Korea (1945)
*Setelah Jepang menyerah pada Perang Dunia II, Semenanjung Korea yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Jepang (1910-1945) dibagi menjadi dua zona pendudukan.
*Di utara, Uni Soviet mendukung pembentukan rezim komunis, sementara di selatan, Amerika Serikat mendukung pemerintahan pro-demokrasi.
*Garis pembagian ditetapkan di Paralel 38 LU.
2. Pembentukan Dua Negara (1948)
*Pada 1948, dua pemerintahan yang saling bersaing terbentuk:
*Korea Utara (Democratic People's Republic of Korea) di bawah Kim Il-sung, yang mendapat dukungan dari Uni Soviet dan China.
*Korea Selatan (Republic of Korea) di bawah Syngman Rhee, didukung oleh Amerika Serikat dan sekutunya.
*Perbedaan ideologi antara keduanya (komunisme vs. demokrasi) menciptakan ketegangan yang semakin meningkat.
3. Perang Korea (1950-1953)
*Pada 25 Juni 1950, Korea Utara melancarkan invasi ke Korea Selatan dengan dukungan Uni Soviet dan China.
*Pasukan PBB, yang dipimpin oleh Amerika Serikat, membantu Korea Selatan, sementara China mendukung Korea Utara.
*Perang berakhir dengan gencatan senjata pada 27 Juli 1953, tetapi tidak ada perjanjian damai, sehingga kedua negara secara teknis masih berperang hingga sekarang.
*Garis Demiliterisasi Korea (DMZ) ditetapkan di dekat Paralel 38, sebagai zona penyangga.
4. Perang Dingin dan Eskalasi Ketegangan
*Selama Perang Dingin, Korea Utara dan Korea Selatan saling memusuhi. Korea Utara sering melakukan provokasi, termasuk serangan militer dan upaya sabotase di Selatan.
*Korea Utara mengembangkan ideologi Juche (kemandirian) dan fokus pada pembangunan militer, sementara Korea Selatan mengalami kemajuan ekonomi yang pesat dengan dukungan Barat.
5. Masalah Nuklir dan Modernisasi Militer