"Bisa saja ada orang yang memfitnahku. Aku memiliki musuh karena profesiku pemburu hantu."
Irma tertegun. Hal ini di luar nalarnya sebagai hantu. Tapi, ia tak ingin mempercayai kata-kata Ray.
"Irma, apakah kau akan menerima nasibmu? Kau seharusnya tenang di alam sana. Jika kau tetap mengganggu manusia, aku terpaksa memerangkapmu dalam Jurnal Hantu."
Irma melolong murka. "Beraninya kau mengancamku. Aku tak takut padamu, Ray."
"Jadi, ini pilihanmu. Sekali lagi kutegaskan. Apakah kau tetap memilih jalan sebagai hantu penasaran?"
"AKU BENCI DIRIMU. AKU SANGAT BENCI MANUSIA," jerit Irma. Tiba-tiba kuku-kuku tangannya bertambah runcing hingga setengah meter. Ia melompat dan mencakar leher Ranko. "AKU AKAN MEMBUNUH RANKO, GADIS KESAYANGANMU. BARU AKAN MEMBUNUHMU."
Tama mengibaskan buntutnya dengan tenang. "Apa yang kau tunggu, Ray? Irma bukan temanmu lagi. Ia sudah menjadi roh jahat."
"Ranko, buka Jurnal Hantu-nya," perintahku. "CEPAT!"
Dengan gugup, Ranko membuka Jurnal Hantu. Aku pun segera merapal mantera pengusir hantu.
Makhluk kegelapan kembalilah ke asalmu.
Aku membebaskanmu dari perjanjian terkutuk.