Pada masa lalu sebelum internet mewabah dan menyediakan berbagai informasi, sulit mengakses informasi -- informasi statistik dan keuangan dari lembaga pemerintah dan internasional. Di perpustakaan kampus -- kampus tak tersedia data -- data segar berkait dengan perkembangan keuangan dan tata kelolanya.
Millenialis sesungguhnya sangat beruntung, disaat menduduki bangku kuliah lebih mudah mengakses literatur -- literatur penting, Â di era 80 -- 90 an sangat sulit mendapatkannya.Â
Terkadang saya heran, mengapa hoax soal hutang negara ditelan mentah -- mentah tanpa analisa kritis dengan membanding data primer dan sekunder di internet dari situs -- situs resmi. Padahal bila ingin mengetahui kebenarannya sangat mudah, kita dapat melihat history hutang negara, perkembangan inflasi dari tahun ke tahun, perubahan kurs mata uang, Pendapatan Domestik Brutto (PDB), belanja pemerintah dari APBN atau APBD dan lain - lain.Â
Hutang pemerintahan Jokowi memasuki tahun ke-4 berkuasa secara value saat ini sudah mencapai 4.636 Triliun berdasarkan data rilisan Bank Indonesia pada awal tahun 2018. Sengaja saya kutipkan dari dari Kompas.com (16/01/2018) untuk memperkuat paparan ini.
Bank Indonesia (BI) melaporkan, utang luar negeri (ULN) Indonesia pada akhir November 2017 tercatat sebesar 347,3 miliar dollar AS atau sekitar Rp 4.636,455 triliun dengan kurs Rp 13.350 per dollar AS.
Bisa jadi siapapun akan tercengang - cengang dengan jumlah hutang bernilai fantastistersebut, apalagi bila dibandingkan dengan nilai hutang negara dari pemerintahan - pemerintahan sebelumnya. Tanggapan masyarakat menjadi sinis terhadap pemerintah, bahkan teman saya seorang manager di sebuah perusahaan jasa transportasi udara pun termakan dengan sentimen negatif dari isu hutang tersebut.Â
Padahal secara literasi seharusnya dia bisa melakukan analisa dengan baik, mengingat jabatannya adalah Corporate Communications Manager. Entah mengapa sebagian orang lebih suka menerima saja semua informasi yang beredar di media massa dan media sosial tanpa berusaha memahami dan langsung menyikapinya dengan komentar.Â
Padahal saat ini tersedia media untuk mencari data pembanding lewat internet, tapi inilah fakta era  post truth dimana orang lebih suka mencari, membaca, mendengar informasi dan membuat kesimpulan dan tafsir sesuai keinginannya. Â
Pada akhirnya tidak ada ruang lagi untuk membandingkan informasi yang tidak sesuai keinginannya, hilangnya daya kritis terhadap suatu masalah. Â Seperti halnya dalam membacainfografis soal hutang negara era Jokowi yang kini banyak berseliweran di media sosial dan blog, orang lupa untuk mengartikan angka - angka itu perlu data lain, yakni PDB sehingga nilai hutang tersebut dapat dimaknai dengan tepat.Â
Data tentang PDB Indonesia terkini sudah melejit jauh, menurut catatan ekonomi awal tahun ini dari ekonom CIMB Niaga, Adrian Panggabean  masuk kategori 15 negara dengan PDB 1 USD 1 trilyunÂ
Beri Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!