Mohon tunggu...
Sigit Eka Pribadi
Sigit Eka Pribadi Mohon Tunggu... Administrasi - #Juara Best In Specific Interest Kompasiana Award 2023#Nominee Best In Specific Interest Kompasiana Award 2022#Kompasianer Terpopuler 2020#

#Juara Best In Specific Interest Kompasiana Award 2023#Nominee Best In Specific Interest Kompasiana Award 2022#Kompasianer Terpopuler 2020#Menulis sesuai suara hati#Kebebasan berpendapat dijamin Konstitusi#

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kerajaan Kutai, Pasir, dan Berau hingga Jelang Kedatangan Belanda di Kaltim

19 Oktober 2020   10:37 Diperbarui: 19 Oktober 2020   10:42 935
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi gambar : Prasasti Yupa via Newswantara.com/Wikipedia

Oleh karena Sultan Hassanuddin menikah dengan putri raja Solok, Kepulauan Sulu, Filipina, maka pusat pemerintahannya dipindahkan dari Benua Marancang ke Benua Kuran.

Pada saat meninggal, Sultan Hassanuddin dimakamkan di sana yaitu pada tahun 1767 M, sehingga dikenal sebagai "Marhum di Kuran." kemudian yang menjadi giliran Penggantinya adalah Sultan Zainal Abidin, keponakan Sultan Aji Kuning.

Ternyata sistem penggiliran raja, sangat rawan perselisihan, akhirna perpecahan terjadi pada masa pemerintahan Sultan Zainal Abidin atau Sultan Aji Kuning II.

Pengangkatannya sebagai raja menimbulkan kemarahan keturunan Pangeran Tua yang merasa diperlakukan kurang adil.

Hal ini karena, keturunan Pangeran Dipati telah lima kali mendapat giliran menjadi raja, sedangkan keturunan Pangeran Tua baru tiga kali.

Oleh karena kelompok Pangeran Tua tidak mengakui Sultan Aji Kuning II, selanjutnya mereka memisahkan diri dan pada tahun 1833 mendirikan Kerajaan Sambaliung dengan rajanya yang pertama yaitu Raja Alam.

Riwayat Kerajaan Berau akhirnya berakhir di sini, sebab Sultan Aji Kuning II pun akhirnya kemudian mendirikan kerajaan baru dengan nama Kerajaan Gunung Tabur.

Perselisihan di antara kedua kerajaan inilah yang pada perkembangannya kedepan melibatkan Belanda yang mulai masuk ke berbagai wilayah Nusantara.

***

Demikianlah artikel ini penulis tuangkan, yang diulas dan diolah berdasarkan referensi sumber pustaka dari:

1. Yayasan Bhakti Wawasan Nusantara (1992). Profil Provinsi Republik Indonesia: Kalimantan Timur.
2. Lembaga ANRI.
3. www.kaltim.go.id
4. www.wikipedia.org

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun