Kebetulan ada satpam di pos jaga, lalu saya bilang saya mau bertamu dan sudah janjian ketemu kawan saya tersebut, tapi ternyata saya kecele, rumah tersebut bukan rumah kawan saya.
Karena pas saya sebut nama kawan saya tersebut satpamnya bilang nama yang saya sebutkan tersebut bukan nama pemilik rumah. Lalu saya tanya lagi soal kawan saya tersebut dimana rumahnya, ternyata satpamnya nggak kenal sama sekali dengan kawan saya ini.
Wahduh, gimana ini padahal satu kompleks kok bisa satpamnya nggak kenal sih, saya telpon lagi kawan saya, ternyata rumahnya agak kesana sedikit, hanya beda jarak satu rumah dari rumah yang saya kira rumah kawan ini.
Setelah masuk rumah dan kelar dengan urusan bisnis, saya ungkapkan apa yang saya alami tadi waktu kebingungan mencari letak rumahnya.
Ternyata menurut teman saya di lingkungan tempatnya tinggal ini memang begitu yang berlaku di kawasan perumahan elit tersebut, kental dengan perilaku gaya hidup yang individualistis, istilahnya "elo-elo" dan "gue-gue".
Saling bertetangga tapi nggak saling kenal, bahkan tetangga terdekat saja yang cuma ada di depan samping dan belakang rumah bisa saling tidak kenal.
Wah repot dan runyam juga kalau individualistis seperti ini kalau pas ada apa-apa misalnya, ada kejadian kriminal seperti pencurian dan perampokan bisa-bisa nggak ada yang tau.
Atau pas ada hal-hal darurat ada yang sakit atau terjadi musibah seperti kebakaran bisa-bisa jadi nggak saling bantu.
Tapi kata kawan saya tersebut memang adanya seperti itu yang berlaku di kawasan perumahannya warganya banyak yang berlaku individualistis.
Suasana guyub dan saling silaturahmi saja jarang sekali terbentuk di kawasan perumahannya tersebut, hanya kalau ada hajatan saja sesekali ramai dan saling berkunjung.
Gotong royong juga jarang banget tercipta, mereka lebih memilih membayar orang untuk membersihkan lingkungan rumah masing-masing atau donasi sumbangan untuk kebersihan sektor umum.