Ada kalanya perubahan perubahan yang terjadi berlangsung begitu cepatnya, sehingga membingungkan masyarakat dalam penerimaannya maupun dalam menghadapinya.
Karena terkadang masyarakat masih memiliki reaksi yang bersifat menggunakan akar warisan sistem tradisi, sejarah dan budaya dan ada pula yang bereaksi dengan tidak tersistem, seperti ingin cepat sukses tanpa harus melalui rumit dan sulitnya sebuah proses.
Jadi berlatar belakang dari penjabaran penulis, maka dapat diambil benang merahnya, yaitu pemerintah agar dapatnya mengambil pelajaran berharga.
Bagaimana kepercayaan didalam masyarakat itu masih berlaku kompleks, baik terhadap pemerintah itu sendiri dalam menyelenggarakan negara, terhadap akar tradisi, sejarah dan budaya nusantara ataupun terkait hal hal lainnya yang telah dijabarkan dalam artikel ini maupun hal hal baru lainnya.
Sehingga berkaitan dengan maraknya kerajaan fiktif maka pola asah asih dan asuh dari pemerintah dalam perhatiannya dan pengakuannya serta keberpihakan terhadap masyarakat harus lebih menyentuh langsung.
Agar kiranya pemerintah lebih mengedepankan praktik praktik sistem tatanegara yang mengedukasi, berkaitan dengan sistem penyelenggaraan negara yang etis dan elegan yang sesuai dengan ke- tatanegara-an yang sejati
Sehingga dapat memberi kepercayaan dan kesadaran yang seutuhnya bahwa masyarakat hidup dalam satu republik, dalam satu wadah yang utuh yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Semoga bermanfaat.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H