Memupus seluruh harapan yang sudah ada. Tepat di hari Minggu, 6 Maret 2022, Jam 13.55. Anakku, lahir dan juga wafat. Air mataku belum mampu keluar, rasanya pergulatan dua hari ini masih terasa.
"Allahu Akbar Allaahu Akbar ...." Menghadap kiblat, suamiku mengadzani mayat anaknya sendiri.
Menangis? Sudah tentu. Orang tua mana yang tidak hancur ketika anaknya meninggal? Putra yang dia harapkan!
Aku baru tersadar. Jagoanku benar-benar tiada. Dalam tangis kukataan, "jangan nangis, jangan nangis. Kalau kamu nangis, bagaimana aku bisa kuat?"
Bodoh! Aku sendiri menangis!
Jagoanku, kau begitu tampan, nak. Tubuhmu tinggi dan gempal. Aku merindukanmu sejak lama, bahkan sebelum kau hadir, hingga saat ini kau tiada.
Harapan Ibu benar-benar pupus, nak. Allah lebih menyayangimu. Ya, Ibu harus ikhlas. Kau hanya titipan. Terima kasih sudah memberi kenangan atas tendangan kuatmu di rahim Ibu selama ini.
Rendra Aditya Rakhshan, Ibu kangen, nak ... Ibu rindu hingga fotomu kerap dipandang berlama-lama.
Pipi cabi itu, bibir merah itu, kulit yang bersih serta tubuh mulus. Bahkan Ibu masih merasa kau di sini, di perut Ibu.
Anakku, aku tak tahu siapa yang patut disalahkan dalam hal ini. Entahlah, karena mencari kambing hitam tak akan mengubah kenyataan, jika kau telah tiada.
Sukabumi, 23 Maret 2022.