Tenaga   kesehatan   dalam   menjalankan   praktiknya  berhak  memperoleh  perlindungan atas   keselamatan   dan   kesehatan   kerja, Ketentuan ini terdapat dalam Pasal 57 Undang-Undang   Nomor   36   Tahun   2014   tentang   Tenaga  Kesehatan.  Ketentuan  ini  juga  sejalan  dengan  ketentuan  yang  terdapat  dalam  UU  Ketenagakerjaan yang mengatur hak normative pekerja  untuk  mendapatkan  perlindungan  atas  K3. Â
Dalam  rumusan  pasalnya  baik  UU  Tenaga  Kesehatan  maupun  UU  ketenagakerjaan  juga  menambahkan perlindungan untuk memperoleh perlakuan  yang  sesuai  dengan  harkat  dan  martabat  manusia,  moral,  kesusilaan,  serta  nilai-nilai agama
Tenaga   kesehatan   sebagai   bagian   dari   pekerja  juga  berhak  mendapatkan  jaminan  kecelakaan  kerja  apabila  mengalami  kejadian  kecelakaan  akibat  kerja  atau  penyakit  akibat kerja. Pengaturan hak jaminan kecelakaan kerja ini dalam kerangka sistem jaminan sosial nasional yang  diatur  dalam  Undang-Undang  Nomor  40  Tahun  2004 Â
tentang  Sistem  Jaminan  Sosial  Nasional. Tenaga kesehatan akan mendapatkan manfaat  jaminan  kecelakaan  kerja  ini  apabila  menjadi  peserta  dalam  BPJS  Ketenagakerjaan.
Pada masa pandemik ini, perlindungan jaminan kecelakaan  kerja  telah  dijelaskan  oleh  Menteri  Ketenagakerjaan  melalui  Surat  Edaran  Menteri  Ketenagakerjaan  Nomor  M/8/HK.04/V/2020 tentang  Perlindungan  Pekerja/Buruh  Dalam Program  Jaminan  Kecelakaan  Kerja  Pada  Kasus  Penyakit  Akibat  Kerja  Karena  Corona  Virus Disease 2019  (COVID-19). Â
Dalam  Surat  Edaran  tersebut  Covid-19  dapat  dikategorikan  PAK  dalam  klasifikasi  penyakit  yang  disebabkan pajanan  faktor  yang  timbul  dari  aktifitas pekerjaan yaitu kelompok faktor pajanan biologi. Surat Edaran ini memasukkan tenaga media dan tenaga kesehatan, tenaga pendukung kesehatan pada rumah sakit, fasilitas kesehatan dan/atau tempat lain yang ditetapkan untuk menanganai pasien terinfeksi Covid-19,Â
dan relawan sebagai pekerja/buruh  dan/atau  tenaga  kerja  yang dapat  dikategorikan  memiliki  risiko  khusus/spesifik yang dapat mengakibatkan Penyakit Akibat Kerja (PAK) karena Covid-19.
Dalam Surat Edaran Menteri Pengelompokan tenaga kerja yang dikategorikan memiliki resiko PAK karena COVID-19 diantaranya tenaga medis dan tenaga Kesehatan, tenaga pendukung Kesehatan dan tim relawan.
Upaya Penerapan K3 di Rumah Sakit di Rumah sakit menyangkut tenaga kerja, cara / metode kerja, alat kerja, proses kerja, dan lingkungan kerja yang meliputi peningkatan, pencegahan, pengobatan, dan pemulihan. Pelaksanaan k3 dalam melindungi tenaga medis di pelayanan kesehatan.Â
Berupa pengendalian yang dilakukan terhadap resiko kecelakaan kerja di Rumah Sakit adalah dengan mengadakan penyediaan APD berupa masker, handscoon, kacamata, sepatu bot, helm dan untuk mencegah terjadinya kebakaran pihak rumah sakit juga sudah menyediakan APAR dan petunjuk cara penggunaannya.
Penerapan Kesehatan dan keselamatan tenaga kerja di lingkungan medis sangat penting mengingat besarnya peran mereka dalam membantu percepatan penanganan COVID-19. Pemerintah dan pihak rumah sakit serta industry Kesehatan lainnya wajib melakukan peningkatan dan pengawasan terkait K3 di Rumah Sakit.Â