Mohon tunggu...
Shena Firanti
Shena Firanti Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Without dialogue there is no true education (Freire, 1970).

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Alam & Tekno Pilihan

Krisis Sampah Plastik di Indonesia: Peran Mahasiswa dalam Mendukung SDG 12 untuk Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan

14 November 2024   21:15 Diperbarui: 14 November 2024   21:24 215
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dengan perkiraan 3,22 juta ton sampah plastik yang dihasilkan setiap tahunnya, Indonesia menempati urutan kedua di dunia dalam hal produksi sampah plastik dan saat ini sedang menghadapi tantangan yang serius (Bank Dunia, 2020). Ekonomi, kesehatan masyarakat, dan keanekaragaman hayati laut terancam secara serius oleh bencana ini, yang membutuhkan tindakan cepat dan menyeluruh. 

Untuk mengatasi masalah sampah plastik, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 12 menyoroti pentingnya pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan. Mahasiswa sangat penting dalam memajukan praktik berkelanjutan dan konsumerisme yang beretika karena mereka adalah pemimpin masa depan dan anggota masyarakat yang terlibat. Keterlibatan mereka memiliki kekuatan untuk mempengaruhi rekan-rekan, komunitas, dan legislator, membawa perubahan di beberapa bidang.

Krisis Sampah Plastik di Indonesia

Lebih dari 17.000 pulau yang membentuk Indonesia membuat pengelolaan sampah menjadi lebih sulit. Plastik menyumbang hampir 10% dari produksi sampah tahunan Indonesia, yang berjumlah sekitar 65 juta ton (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2021). Sebagian besar dari sampah plastik ini berakhir di sungai dan laut, membahayakan ekosistem laut dan merusak lingkungan. 

Pada tahun 2050, mungkin akan ada lebih banyak plastik di lautan daripada ikan jika tidak ada tindakan yang dilakukan, menurut World Economic Forum (2016). Angka yang memprihatinkan ini menekankan betapa mendesaknya upaya memerangi polusi plastik demi ekosistem dan kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada sumber daya laut.

Sampah plastik memiliki dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat selain merusak lingkungan. Konsumsi makanan laut oleh manusia telah ditemukan mengandung mikroplastik, yang menimbulkan kekhawatiran akan dampak kesehatan yang mungkin terjadi (Rochman et al., 2015). Selain itu, konsekuensi finansial dari polusi plastik sangat besar.

Menurut proyeksi Bank Dunia, hilangnya pendapatan dari pariwisata dan perikanan dapat menyebabkan dampak ekonomi tahunan sebesar $1,3 miliar bagi masyarakat pesisir Indonesia akibat polusi plastik (Bank Dunia, 2020). Oleh karena itu, mengatasi epidemi sampah plastik merupakan kebutuhan sosial ekonomi dan lingkungan.

Teori Tata Kelola Lingkungan

Kerangka kerja untuk memahami bagaimana banyak aktor berinteraksi untuk mengelola sumber daya alam secara efisien disediakan oleh teori tata kelola lingkungan. Kerangka ini mencakup berbagai strategi, termasuk tata kelola polisentris, yang menekankan kerja sama beberapa badan pemerintahan pada berbagai skala untuk mencapai tujuan bersama (Ostrom et al., 2010). 

Gagasan ini sangat relevan dengan Indonesia karena menekankan betapa pentingnya menggabungkan upaya mahasiswa, organisasi pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan sektor komersial untuk memerangi polusi plastik.

Berbagai otoritas yang tumpang tindih dengan berbagai ukuran merupakan ciri dari tata kelola polisentris yang mendorong kerja sama para pemangku kepentingan (Ostrom et al., 2010). Dengan menawarkan wawasan tentang isu-isu akar rumput dan mendorong perubahan kebijakan berdasarkan temuan mereka, mahasiswa dapat bertindak sebagai penghubung antara masyarakat lokal dan entitas resmi dalam upaya Indonesia untuk memerangi sampah plastik. 

Selain itu, menurut teori tindakan kolektif, orang lebih cenderung mendukung tujuan bersama ketika mereka percaya bahwa akan ada keuntungan bagi kedua belah pihak (Ostrom et al., 2010). Mahasiswa dapat mengambil keuntungan dari gagasan ini dengan mendukung proyek-proyek kelompok yang mempromosikan keterlibatan kelompok dalam inisiatif keberlanjutan, termasuk kompetisi antar sekolah yang bertujuan untuk mengurangi konsumsi plastik atau program daur ulang di universitas.

Memahami SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab

Pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan adalah fokus dari SDG 12. SDG 12 mendorong pencegahan, pengurangan, daur ulang, dan penggunaan kembali sebagai cara untuk mengurangi produksi sampah. Untuk mencapai tujuan ini di Indonesia, diperlukan kerja sama dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk sektor publik dan bisnis, organisasi masyarakat sipil, dan lembaga pendidikan. Mahasiswa memainkan peran yang sangat penting karena mereka dapat menggunakan advokasi dan edukasi untuk mempengaruhi komunitas dan teman sebayanya.

Menerapkan Kerangka Kerja Program 10 Tahun untuk Pola Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan (Target 12.1), menurunkan produksi limbah secara signifikan (Target 12.5), dan memastikan bahwa setiap orang memiliki akses terhadap informasi yang relevan untuk pembangunan berkelanjutan (Target 12.8) merupakan beberapa tujuan utama SDG 12 (United Nations, 2018). Mahasiswa dapat berkontribusi pada pengembangan budaya berkelanjutan yang melampaui komunitas lokal mereka dengan secara aktif terlibat dalam proyek-proyek yang mendukung tujuan-tujuan ini.

Peran Mahasiswa dalam Mengatasi Sampah Plastik

Mahasiswa dapat memulai inisiatif pendidikan untuk meningkatkan kesadaran akan dampak sampah plastik di komunitas dan kampus mereka. Mahasiswa dapat mengedukasi masyarakat tentang pentingnya mengurangi penggunaan plastik dengan mengadakan lokakarya dan seminar tentang praktik-praktik berkelanjutan, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai atau menerapkan gaya hidup tanpa sampah. Kampanye yang menyoroti alternatif pengganti plastik sekali pakai, misalnya, memiliki kekuatan untuk mengubah perilaku konsumen secara drastis. Dengan membuat kampanye ini lebih mudah diakses dan efektif, latihan interaktif atau teknik narasi yang menarik dapat meningkatkan keampuhannya.

Mahasiswa dapat mempraktikkan jawaban yang dapat diterapkan untuk dilema plastik dengan berinteraksi dengan masyarakat setempat. Selain membantu mengurangi sampah yang ada, merencanakan kampanye bersih-bersih di pantai atau sungai terdekat juga dapat meningkatkan rasa tanggung jawab di antara penduduk setempat. Untuk meningkatkan dampaknya, LSM dan pemerintah kota dapat membantu upaya-upaya tersebut. Mahasiswa juga dapat bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan terdekat untuk mendorong praktik-praktik ramah lingkungan, termasuk mendorong restoran untuk menggunakan kemasan yang dapat terurai secara hayati atau memberikan diskon kepada pelanggan yang membawa wadah yang dapat digunakan kembali.

Di tingkat kota dan nasional, mahasiswa dapat mempromosikan peraturan lingkungan yang lebih ketat. Mereka dapat mengadvokasi undang-undang yang mendukung teknik pengelolaan sampah yang ramah lingkungan dengan cara ikut serta dalam forum atau organisasi mahasiswa yang membahas isu-isu lingkungan. Prinsip-prinsip teori tata kelola pemerintahan bertingkat, yang memprioritaskan kerja sama antara berbagai tingkat pemerintahan, sejalan dengan advokasi ini (Partelow et al., 2020). Selain itu, mahasiswa dapat mendiskusikan temuan penelitian atau kekhawatiran masyarakat tentang polusi plastik dalam konsultasi publik atau acara kemasyarakatan.

Mendorong mahasiswa untuk melakukan penelitian pengelolaan sampah dapat menghasilkan solusi kreatif yang sesuai dengan lingkungan regional. Inisiatif penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa yang menyelidiki bahan yang dapat terurai secara hayati atau teknik daur ulang yang inovatif sebagai pengganti plastik tradisional dapat didanai oleh universitas. Mahasiswa dapat, misalnya, mencari sumber sampah organik di sekitar yang dapat diubah menjadi bahan kemasan yang dapat terurai secara hayati atau membuat aplikasi yang membantu pengguna dalam menemukan fasilitas daur ulang di daerah mereka.

Masalah sampah plastik di Indonesia adalah masalah serius yang membutuhkan tanggapan segera dari semua lapisan masyarakat. Melalui pendidikan, keterlibatan masyarakat, lobi perubahan kebijakan, dan inovasi, mahasiswa memiliki kesempatan khusus untuk memberikan kontribusi besar dalam mencapai SDG 12. Mahasiswa dapat berhasil mengorganisir sumber daya dan pemangku kepentingan menuju praktik konsumsi dan produksi yang berkelanjutan dengan menerapkan konsep-konsep teori tata kelola lingkungan-seperti tata kelola polisentris dan aksi kolektif-untuk digunakan. Partisipasi mereka tidak hanya meningkatkan kesadaran tetapi juga memberikan kemampuan kepada masyarakat untuk memerangi sampah plastik secara efektif. Pada akhirnya, mengembangkan budaya berkelanjutan di kalangan mahasiswa sangat penting untuk membawa perubahan jangka panjang dalam strategi pengelolaan sampah plastik di Indonesia. Mahasiswa, yang akan menjadi pemimpin dan inovator di masa depan, memiliki imajinasi dan semangat untuk memelopori proyek-proyek yang mendorong kebiasaan konsumsi yang bijaksana dan melindungi lingkungan untuk generasi mendatang.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Alam & Tekno Selengkapnya
Lihat Ilmu Alam & Tekno Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun