Mohon tunggu...
Shafira MiftahulJannah
Shafira MiftahulJannah Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa Pendidikan Sosiologi FIS UNJ

💪🏼✨

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Pemuda: Bonus atau Beban?

21 Oktober 2021   10:02 Diperbarui: 21 Oktober 2021   10:19 161
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Oleh: Shafira Miftahul Jannah

(Mahasiswa Pendidikan Sosiologi FIS UNJ)

Pemuda menurut UNESCO adalah  periode transisi dari ketergantungan masa kanak-kanak ke masa dewasa dan sadar akan kemandirian atas kebebasan dalam menjadi bagian dari masyarakat (kematangan mentalitas). Menurut Koentjaraningrat pemuda adalah suatu fase dalam siklus kehidupan manusia, dimana fase tersebut mengarah pada perkembangan atau perubahan.

Pemuda secara sosiologis adalah individu yang terwarisi masa lalu dan terbebani masa depan. Maksudnya adalah dipundak para pemuda harapan bangsa dititipkan. Pemuda memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam perkembangan suatu bangsa dan negara karena, pemuda merupakan kelompok sosial yang dapat menentukan masa depan bangsa. Seperti kata presiden RI yang pertama sekaligus bapak proklamator Indonesia yaitu Ir. Soekarno "Seribu orang tua hanya dapat bermimpi. Satu orang pemuda dapat mengubah dunia".

            Jika melihat pemuda secara pembangunan masyarakat, pemuda adalah suatu identitas yang memiliki potensial sebagai penerus cita-cita perjuangan bangsa dan menjadi sumber daya manusia dalam pembangunan bangsa. Pemuda memiliki peran seperti pemuda adalah salah satu agen perubahan sosial, dimana tindakannya berdampak langsung kepada masyarakat; menjadi pemimpin di masa depan; menjadi teladan bagi masyarakat; menjadi inovasi dan penemuan yang dapat membantu masyarakat; sebagai kontrol sosial, memberikan edukasi kepada masyarakat, mengontrol pemerintah, dan menjadi teladan bagi masyarakat.

            Namun demikian muncul kekhawatiran tentang bagaimana pemuda memproyeksikan masa depan bangsa. Di tahun 2045 menuju Indonesia Emas yang juga bertepatan dengan 100 tahun usia kemerdekaan Indonesia dan Indonesia akan mengalami bonus demografi. Bonus demografi dengan jumlah penduduk usia produktif akan mengalami proporsi yang jauh lebih besar daripada penduduk usia nonproduktif. Disinilah peran pemuda harus dioptimalkan. Karena, jika para pemuda ini gagal membangun kapasitas menuju Indonesia Emas maka bonus demografi hanya menjadi beban bagi bangsa dan negara.

            Agar suatu bangsa dan negara menghasilkan keuntungan dari bonus demografi ini perlu ada pengelolaan dan perencanaan yang baik dan matang. Dengan meningkatkan produktifitas para pemuda mampu memanfaatkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk menjadi bonus demografi bukan justru menjadi beban. Terlebih lagi di masa pandemi Covid 19 yang sudah satu tahun lebih mewabah di Indonesia dan didukung dengan kebijakan untuk melakukan segala aktivitas sosial dari rumah. Kelompok pemuda sangat rentan di masa pandemi ini. Mulai dari hilangnya pekerjaan, peluang ekonomi, kesehatan dan pendidikan yang menjadi beberapa faktor yang terdampak pada fase kehidupan remaja. Para pemuda disaat yang bersamaan ini sebenarnya memiliki kemampuan untuk merespons kondisi kritis yang sedang dihadapi ini.

Sejak Covid-19 mewabah di Indonesia pada awal bulan Maret 2020, segala macam aturan atau regulasi dikeluarkan pemerintah guna menekan angka penyebaran semakin meningkat. Mulai dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) telah dilakukan. Pandemi ini menjadi tantangan juga peluang bagi para pemuda untuk mencapai bonus demografi.

Pandemi ini patutnya dijadikan momentum untuk para pemuda bisa bersaing dan berkompetisi secara lebih produktif sehingga dapat memajukan bangsa dan negara. Pandemi seharusnya bukan menjadi halangan untuk tidak produktif, justru seseorang akan kehilangan kesempatan jika tidak produktif di masa pandemi ini. Sudah seharusnya para pemuda memanfaatkan waktu yang lebih fleksibel ini dengan produktif, bukan justru terlena dengan bermalas-malasan.

Himbauan pemerintah untuk di rumah saja, bukan berarti kita terus berdiam diri dengan tidak melakukan hal-hal produktif. Tidak pergi ke sekolah atau kampus bukan berarti kita hanya  bersantai menonton banyak drama, series dan film. Justru yang seharusnya kita lakukan dan pikirkan adalah kontribusi atau kegiatan produktif apa yang bisa kita kerjakan di masa pandemi ini. Selain itu perkembangan teknologi yang pesat dengan ditawarkan segala kemudahan didalamnya  harus dimanfaatkan sebaik dan semaksimal mungkin. Kesadaran para pemuda untuk mengambil peran atau kontribusi di masa pandemi ini tentunya sangat dinantikan. Pemuda Indonesia diharapkan mampu menunjukkan effort dan etos di tengah krisis pandemi, dengan tetap berkontribusi dalam bonus demografi ini. Dengan adanya aturan dan kebijakan baru selama masa pandemi ini mau tidak mau gaya hidup para pemuda juga harus menyesuaikan.

Kegiatan produktif ini bisa berupa aktif mengikuti kegiatan relawan sosial, aktif menyebarkan informasi terkait Covid-19 ini kepada lingkungan sekitarnya, turut serta membantu perekonomian keluarga dengan berjualan secara online sesuai dengan minat dan kemampuannya misalnya, dan lain sebagainya. Dengan mengandalkan inisiatif dan kreativitas berbagai kegiatan positif dan produktif bisa dilakukan pemuda di masa pandemi ini. Sudah banyak contohnya para pemuda yang produktif di masa pandemi dan dapat dilakukan secara online. Seperti membuka bisnis jualan online di media sosial dan e-commerce, mengikuti berbagai webinar yang tersedia sesuai minat untuk mendapatkan insight baru, melakukan kegiatan sosial sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, rutin melakukan aktivitas fisik seperti berolahraga, mencari dan belajar skill baru dan masih banyak lagi.

Istilah "generasi rebahan" di masa pandemi ini rasanya sangat melekat pada pemuda. Ketidak produktifan ini tentunya hanya akan menyia-nyiakan waktu. Dalam membangun dan menciptakan kegiatan yang produktif dengan mengubah mindset dari hanya sekedar konsumen atau penikmat tetapi menjadi produsen atau creator.

Dalam teori tindakan sosial Max Weber individu individu dalam merupakan aktor yang kreatif dan realistis yang juga statis tidak ada paksaan fakta sosial masyarakat. Dalam artian tindakan manusia tidak sepenuhnya ditentukan nilai, norma dan kebiasaan yang termasuk didalam konsep fakta sosial. Weber tidak memisahkan dalam masyarakat terdapat struktur sosial dan pranata sosial. Struktur sosial dan pranata sosial merupakan konsep yang saling berhubungan dalam membentuk suatu tindakan sosial yang penuh makna dan arti.

Tindakan sosial adalah tindakan individu yang sepanjang tindakannya mempunya makna atau arti subjektif bagi dirinya sendiri dan diarahkan kepada tindakan orang lain. sebaliknya, tindakan individu yang diarahkan kepada benda mati atau objek fisik dengan tanpa dihubungkan dengan tindakan orang lain maka bukan termasuk tindakan sosial. Teori tindakan sosial Weber ini melihat bahwa pemuda melakukan segala aktivitasnya karena ada motif..

Teori tindakan sosial Weber berorientasi pada motif atau tujuan dari aktor atau pelaku. Dengan teori ini kita mampu memahami bahwa setiap perilaku individu atau kelompok masing-masing memiliki motif dan tujuan yang berbeda terhadap individu atau kelompok dalam melakukan tindakan. Weber membagi tindakan sosial menjadi empat, yaitu:

1) Tindakan tradisional, yaitu tindakan yang berdasarkan pada kebiasaan yang sudah mengakar secara turun-temurun atau berasal dari kepercayaan dan faktor keturunan garis keluarga;

2) Tindakan afektif, yaitu tindakan yang ditentukan dari kondisi dan orientasi emosional aktor;

3) Tindakan rasional instrumental, yaitu tindakan yang merujuk pada pencapaian tujuan-tujuan dipertimbangkan secara rasional serta diperhitungkan dan diupayakan sendiri oleh aktor yang bersangkutan;

4) Tindakan rasional nilai, yaitu tindakan yang berdasarkan pada nilai yang dilakukan untuk alasan dan tujuan berkaitan dengan nilai yang diyakini secara personal aktor tanpa memperhitungkan peluang berhasil atau gagalnya tindakan tersebut.

Dilihat melalui tindakan tradisional sebelumnya nilai-nilai kebudayaan di masa pandemi ini harus disesuaikan lagi dan mengalami adaptasi. Peran pemuda bisa dilihat melalui bagaimana nilai gotong royong dan kerja sama selama pandemi ini seperti selalu menjalankan protokol kesehatan dan membantu menyebarkan informasi berdasarkan data dan fakta terkait Covid-19 kepada masyarakat luas.

Dalam tindakan afektif peran pemuda bisa dilihat melalui adanya pemberian bantuan kepada masyarakat yang terdampak dan mengikuti kegiatan sosial sebagai bentuk pengabdian masyarakat. Hal ini didasarkan pada empati para pemuda sehingga muncul keinginan untuk menolong sesama.

Tindakan rasional nilai ini berarti para pemuda bertindak mengutamakan apa yang dianggap baik dan wajar di dalam masyarakat diatas tujuan individualnya dan apabila tidak maka tindakan tersebut berpotensi dianggap tidak wajar bahkan mendapat penolakan. Hal ini dapat dilihat dari senantiasa menjalankan aktivitasnya sesuai dengan protokol kesehatan yaitu 5M (Mencuci tangan, Memakai Masker, Menjauhi kerumunan, Mengurangi mobilitas, dan Menjaga Jarak), apabila memang harus beraktivitas di luar rumah.

Usaha pemuda yang produktif sebagai bentuk respons dari pandemi Covid-19 ini bisa dilihat melalui tindakan rasional instrumental, dimana para pemuda yang melakukan kegiatan produktif yang sudah disebutkan sebelumnya ini berdasarkan tujuan yang dipertimbangkan secara rasional dan diupayakan dengan baik buruknya diperhitungkan secara rasional yaitu untuk mengisi dan memanfaatkan waktu luang selama di rumah saja.

Peran pemuda sebagai agent of change. Pemuda yang diberkahi energi yang berlimpah, ketajaman berfikir, kedinamisan gerak menjadi bekal bagi para pemuda. Kemampuan dan kekuatan ini juga bisa menjadi kekurangan apabila tidak dikelola dengan baik dan optimal. Keputusan akhirnya nanti berada di tangan pemuda, apakah akan bergerak mengembangkan dirinya atau hanya berdiam diri pasrah dengan keadaan, apakah akan memanfaatkan kemajuan teknologi yang ada dengan sebaik dan seoptimal mungkin, atau hanya rebahan dan bersenang-senang terlena dengan dengan segala kemudahan yang ada, atau justru bersiap diri untuk bekal masa depan. Di masa pandemi inilah menjadi jawaban atas usaha dan tindakan pemuda dilakukan, apakah pemuda Indonesia akan menjadi bonus demografi atau justru beban demografi.

 
Referensi:

Azmi, R. D., & Aji, R. H. S. (2020). Kebangkitan Nasional: Pemuda Melawan Pandemi Global. ADALAH, 4(1).

Generasi Milenial Produktif Kunci Kemajuan Bangsa Indonesia. (28 Oktober 2020). Diakses pada 18 Oktober 2021. (https://biz.kompas.com/read/2020/10/28/214405828/generasi-milenial-produktif-kunci-kemajuan-bangsa-indonesia)

Kementrian Agama. (2020). Peran Pemuda di Masa Pandemi Covid-19. Diakses pada 19 Oktober 2021 (https://kemenag.go.id/read/peran-pemuda-di-masa-pandemi-covid-19-rxjl1)

Mia, A. (2021, May 30). Pemuda Indonesia, Jadilah Bonus Bukan Beban Demografi. Diakses pada 18 Oktober 2021. (https://kumparan.com/ruhbanullail/pemuda-indonesia-jadilah-bonus-bukan-beban-demografi-1vqNNaYp4OL)

Syahri, M. (2017). Teori Pertukaran Sosial Goerge C. Homans Dan Peter M. Blau. Jurnal. Dari: Researchgate.(Online),(http:/www. researchgate. net), diakses, 2.

Umanailo, M. C. B., Max Weber. (https://osf.io/ep7bn/download/?format=pdf)

Utami, Niken. (2020). Tindakan Sosial Masyarakat Indonesia di Tengah Pandemi Covid-19 (Perspektif Teori Tindakan Sosial Max Weber). Diakses pada 20 Oktober 2021. (https://www.kompasiana.com/nikenutm76559/5fd2001c8ede487b500df3b2/tindakan-sosial-masyarakat-indonesia-di-tengah-pandemi-covid-19-perspektif-teori-tindakan-sosial-max-weber?page=all)

Zulfikar, A. (2019). Pemuda, Politik dan Masa Depan Indonesia 2045.

  

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun