Mohon tunggu...
Seto Wicaksono
Seto Wicaksono Mohon Tunggu... Human Resources - Recruiter

Menulis, katarsis. | Bisa disapa melalui akun Twitter dan Instagram @setowicaksono.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Generalisasi Merek dalam Kehidupan Sehari-hari, dari Aqua sampai Odol

6 Januari 2020   15:30 Diperbarui: 6 Januari 2020   15:53 571
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi merek Odol: New Mexico Historical Bottle Society --Facebook

Melansir dari Tirto, pada masanya, Odol memproduksi obat perawatan gigi, gusi, mulut dan tenggorokan. Baik berupa obat kumur atau pasta gigi. Produk tersebut dijual ke 20 negara, salah satunya Hindia Belanda---yang kemudian menjadi Indonesia.

Dan lagi, alih-alih menyebutnya sebagai pasta gigi, kebanyakan orang Indonesia malah lebih familiar dengan nama Odol. Sekali lagi, bagi kebanyakan orang di Indonesia, semua pasta gigi adalah Odol.

Karena sudah dimaklumi oleh kebanyakan orang, rasanya sulit untuk menghilangkan kebiasaan ini. Rasa-rasanya, dalam jangka waktu yang cukup panjang, banyak orang yang akan tetap menggeneralisasi merek. 

Bahkan untuk beberapa produk, termasuk camilan. Saya juga cukup yakin, sampai dengan saat ini masih banyak orang yang menyebut camilan ringan---apa pun itu---dengan istilah chiki. Padahal, chiki kan salah satu merek snack ternama. Hehehe.

Kendala lain, ketika ada seseorang mengatakan hal yang memang benar adanya soal penyebutan merek, biasanya malah dicap sebagai sosok kaku juga ribet. Dan bagi kebanyakan orang, intinya kan sama dan terpenting, sama-sama mengerti apa yang dimaksud. 

Tapi, sudah sewajarnya jika memang ada yang berniat meluruskan, menyampaikan yang benar terkait penyebutan merek suatu produk. Kan, nggak selamanya kita ada dalam pusaran kesalahan yang dianggap benar hanya karena suatu informasi terus disampaikan berulang-ulang.

Merek yang sudah terlanjur dikenal sekaligus disebut oleh banyak orang kemudian digeneralisir, tentu memiliki perjalanannya sendiri dalam meraih pangsa pasar khususnya di Indonesia. 

Bahkan, lebih dari itu, disadari atau tidak, mereka sudah menjadi pionir bagi merek lain dengan produk yang sama. Entah AQUA, Odol, Chiki, Honda (untuk kendaraan bermotor), dan lain sebagainya. Secara personal, bisa jadi ada romantisasi bagi para penggunanya.

Seperti saya misalnya, yang sewaktu kecil seringkali diminta ke warung oleh Ibu untuk membeli Rinso. Kemudian ketika tiba di rumah membawa detergen bermerek So Klin, Ibu tidak marah sama sekali. 

Bagi beliau, yang penting itu fungsinya sama. Persoalan beda merek, bukan menjadi masalah. Ya, seperti itu mungkin gambaran banyak orang yang menggeneralisir merek dalam kehidupan sehari-hari.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun