Beberapa ratus meter dari lubang-lubang itu. Sebuah rumah bersuasana eropa milik seorang meneer,  tampak dari kejauhan, dan jika setiap pagi di rumah itu selalu terdengar alunan musik-musik dari komponis Renaissance, pendengaran Seruni cukup terbuka terhadap musik-musik seperti itu. Meskipun dia pikir musik semacam itu cukup begitu rumit baginya.Â
  Rumah tersebut di isi oleh satu keluarga yang ber-anggota suami,istri dan 2 anak-anaknya. Orang-orang di sekitar menyebut mereka keluarga Pieter. Beberapa penduduk desa senantiasa meminta bantuan pada Pieter. Entah itu perihal air,makanan, dan sebagainya.
Seruni selalu melewati rumah tersebut jika hendak akan pergi ke pasar untuk berjualan.
  Pada halaman depan rumah Pieter tersebut terdapat kursi panjang yang mengarah tepat ke arah jalan kecil itu. Marrie, orang sekitar mengenalnya dia istri meneer pemilik rumah eropa itu. Selalu duduk di kursi panjang bersama kedua anak-anaknya. Anak pertama Martin berumur 5 tahun, adiknya Ludwig berumur 3 tahun, bila melihat Seruni lewat, Marrie memanggil nama Seruni dengan lidah Belanda nya. "Seruni!,kemari!." Seruni menghampiri perlahan seraya menunduk mendengarkan suara Marrie yang terus berbicara dalam bahasanya. "Kowe, pakai alas kaki?, jangan buka. Pakai saja. Pakai," Seruni hendak melepas alas kakinya di lantai rumah Pieter tersebut.Â
  Halaman rumah Pieter cukup terawat, dengan lantai mengkilap dan beberapa vas bunga yang tersusun di atas rumput-rumput kecil di sekitar lantai-lantai tersebut. Seruni duduk di lantai menunjukan beberapa jenis kue-kuenya. Serta Marrie duduk di atas kursi tepat di hadapan kue-kue Seruni itu.
Anak-anaknya berlarian dari dalam rumah menuju mama mereka. Martin memilih-milih kue, sedangkan Ludwig duduk di pangkuan Marrie dan terlihat mengantuk sepertinya.
"kowe,buat ini kue?," tanya Marrie.
"ibu saya,nyonya," Seruni menunduk menjawabnya.
  Di pasar. Seruni sudah memiliki tempat untuk menjual kue-kuenya. Seruni membawa beberapa kain dan di ampar kan di atas meja lalu kue-kue tersebut di letakan nya di atas kain tersebut. Pembeli kue-kue Seruni hanya dari kalangan orang-orang tak ber-alas kaki.Â
  Pieter, suami Marrie itu biasanya mengunjungi Seruni di pasar. Dia sengaja berkunjung karena menyenangi kue-kue buatan ibu Seruni. Pieter, seorang berpostur tinggi khas Eropa. Dengan sepatu dan topi vilt yang sering di gunakannya. Seruni selalu mencuri-curi pandang saat Pieter beberapa kali lewat di hadapannya. Wajar saja, perempuan seumur seruni masih memiliki gejolak untuk merasakan sesuatu hal. Apalagi pada seorang pria seperti Pieter.
  Seruni memang sangat mengidam-idamkan pria totok seperti Pieter. Karena menurut seruni, dengan jalan seperti itu, hidupnya akan jauh lebih terjamin. dari berbagai hal apapun.