Mohon tunggu...
Senny Pellokila
Senny Pellokila Mohon Tunggu... Guru - Kebun binatang safari

Perubahan yang lebih baik

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Anak Tuhan atau Anak Harta

5 April 2022   19:25 Diperbarui: 5 April 2022   19:37 746
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
komikalkitabanak.com

Banyak orang mungkin mengakui kita adalah anak Tuhan karena terlihat dari aktifitas kehidupan yang kita lakukannya, Buktinya kita rajin ke gereja, pada waktu makan kita berdoa tetapi minum bisa jadi kita lupa, pada waktu ketemu orang kita katakan Syalom, kita sering mengirim kata-kata dan gambar rohani di FB, dan banyak orang katakan amin.

Orang di kantorpun mengatakan kita adalah pegawai yang baik, masuk kantor tepat waktu, bahkan  pulang selalu lembur, kita selalu kerja walaupun orang lain hanya kerja kalau ada duit, kita pun menghormati atasan dan mengasihi bawahan. Wah hebat sekali.

Tetapi tunggu dulu, ternyata yang kita lakukan hampir sama dengan anak muda yang kaya, yang di ceritakan dalam injil Matius  tetapi ternyata dia bukan anak Tuhan.

Kalau kita melihat anak muda yang kaya ini, dia begitu percaya diri, dia datang kepada Tuhan dan katakan : Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal ? Jelas ini bukan pertanyaan tanpa modal, karena ia sudah punya modal  yaitu mengikuti hukum-hukum Allah.

Lalu Tuhan katakan turutilah perintah Allah, : "Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."

Maka apa yang di katakannya ? Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang? Wah hebat sekali, pernyataan anak muda ini membuat semua murid yang ada di situ terkejut, bahkan mungkin Petrus matanya melotot dengan mulut yang terbuka dan katakan "Wao" kamu luar biasa.

Karena siapa yang menyangka walaupun masih muda  ternyata ia sudah setia mengikuti Allah. Ia  tidak membunuh, tidak berzinah, tidak mencuri, kitapun sama, tidak membunuh, tidak berzinah tetapi terkadang  mencuri. Hak orang lain kita ambil, uang kantor kita tilep, walaupun tidak berzinah tetapi kita suka akan selingkuh tipis-tipis. Tetapi anak muda ini tidak seperti itu, hebat.

 Kalau di kampus dia dapat nilai A, bahkan yang membuat murid-murid semakin terkejut dan rambut kepala mereka berdiri karena anak muda ini katakan : Akupun sangat menghormati dan mengasihi orang tuaku dan sesamaku. "Wao" sempurna, apa lagi yang kurang, ini adalah suami idaman, anak mantu idaman, karena sudah kaya, takut akan Tuhan dan mengasihi orang tuanya.

Tetapi ternyata masih ada yang kurang, dan itu adalah kebutuhan dia selama ini yang tidak ia sadari. Maka Yesus menyadarkannya. Yesus berkata: "Jikalau engkau hendak sempurna, (berarti anak muda hampir sempurna ) pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga.

Ternyata selama ini kebutuhan dari anak muda adalah mengumpulkan harta di sorga, dan dia tidak menyadari hal itu. Selama ini, Ia hanya mengumpulkan harta di bumi, ia mengira harta itulah yang menjadi pengharapan buat dia, harta itulah yang bisa menolong dirinya sehingga menggunakan harta itu untuk kemuliaan diri sendiri bukan untuk kemuliaan Tuhan, bukan untuk jadi berkat bagi sesama.

Oleh karena itu ia meninggalkan Yesus, pergi dengan sedih karena ia tidak bisa menjadi anak Tuhan dengan kehilangan hartanya.

Jadi dalam  banyak bidang kehidupan anak muda ini sudah mengikuti apa yang Allah mau, ia hidup menurut hukum Allah tetapi untuk harta ia memilih hidup menurut apa yang dia mau, bukan apa yang Allah mau. Allah ingin dia mengumpulkan harta di sorga tetapi dia tetap memilih mengumpulkan harta di bumi.

Dan bisa jadi inipun kejatuhan kita. Kalau kita anak Tuhan, maka seharusnya semua bidang harus di hidupi seperti apa yang Allah mau, bukan hanya bidang-bidang tertentu saja.

Jangan hanya di pelayanan saja kita rajin beribadah, rajin menyanyi, kita mengerjakan seperti apa yang Allah mau tetapi di kantor kita orang yang malas, datang selalu terlambat, tidak banyak kerja, tetapi banyak cerita, kita mengerjakan seperti apa yang kita mau bukan seperti apa yang Allah mau. 

Jangan hanya dalam relasi kita menghormati orang lain, tetapi dalam kehidupan rumah tangga kita tidak menghormati pasangan kita, kita seenaknya melakukan KDRT, kita menangani rumah tangga  seperti apa yang kita inginkan bukan seperti apa yang Allah inginkan.

Kita ini sebenarnya anak Tuhan, atau bukan. Kalau kita anak Tuhan, maka seharusnya seluruh bidang kehidupan harus di hidupi seperti apa yang Allah mau. Memang kita tidak sempurna melakukan semuanya itu, tetapi kita punya usaha untuk melakukannya walaupun juga sering jatuh-bangun.

Anak muda ini dalam hal harta ia mempertahankan mati-matiaan, ia tidak mau Tuhan yang menguasinya tetapi ia ingin dirinya yang menguasainya, karena itulah yang bisa menolongnya dalam berbagai keperluan hidup, hatinya sangat melekat pada harta, tidak mau melekat pada Tuhan sehingga akhirnya ia rela meninggalkan Tuhan.

Jadi kalau kita anak Tuhan yang tidak mau menyerahkan seluruh bidang kehidupan pada Tuhan maka bisa jadi kita akan meninggalkan Tuhan. Teman-teman yang belum menikah kalau dalam mencari pasangan hidup hanya berdasarkan pada keinginan sendiri maka bisa meninggalkan Tuhan dan berpindah keyakinan karena menikah beda agama.

Orang yang suka korupsi tidak mau bertobat, tidak mau hidup jujur, terus melakukan hal itu dengan tidak merasa bersalah, tidak mau hidup berdasarkan apa yang Tuhan mau maka sudah pasti ia telah meninggalkan Tuhan walaupun masih berbaju Kristen.

Dia hanya agama saja yang Kristen, tetapi sebenarnya bukan anak Tuhan lagi, karena tidak ada rasa bersalah melakukan semuanya itu

Suatu waktu seorang ibu membuat kue dengan dengan menggunakan 6 telur, lalu dia memacahakan satu-persatu, tetapi ternyata tanpa di sadarinya maka telur yang keenam di pecahkannya adalah telur busuk dan masuk ke dalam wadah adonan yang siap di untuk di bakar. Maka apa yang terjadi adonan itu menjadi bau busuk sehingga harus di buang, sayang sekali

Begitu juga dengan diri kita pada waktu ada satu bidang kehidupan saja yang kita pertahankan, tidak mau menyerahkannya pada Tuhan maka kita sudah menjadi adonan yang busuk, masih adonan tetapi seperti adonan yang sudah berbau dan tidak layak di hadapan Allah.

Oleh karena itu walaupun kita jatuh tetapi kita mau bangun lagi, hidup seperti apa yang Allah mau, jangan ada satu bidangpun yang kita pegang erat-erat dan tidak mau di berikan kepada Allah untuk Allah kuasai.

Pada waktu raja Daud berzinah dan membunuh uria sepertinya tidak ada penyesalan, dia terus hidup seperti biasa, tetapi pada waktu nabi Natan menegurnya maka barulah ia sadar akan dosanya yang sangat keji dan menyesal karena telah melakukan semuanya itu sehingga ia bertobat dan mengekspresikan pertobatannya melalui mazmur 51, dan akhirnya Tuhan selalu menyebut hambaku Daud yang setia.

Jadi walaupun kita jatuh-bangun tetapi kita harus menyerahkan semua bidang kehidupan seperti apa yang Tuhan mau, baik keluarga, pekerjaan, relasi, pelayanan, dan lain-lain.

Tidak boleh ada satupun yang harus kita pertahankan, mungkin dalam bidang-bidang tertentu kita bisa jatuh tetapi kita bisa bangkit lagi karena kita ingin hidup seperti apa yang Tuhan inginkan. Oleh karena itu teruslah berjuang dan teruslah di dalam Tuhan, jangan meninggalkan Tuhan dalam satu bidangpun.

Selanjutnya, sebenarnya kekayaan bukanlah suatu masalah karena dalam Alkitab banyak juga anak-anak Tuhan yang kaya, Abraham sangat kaya, Ayub luar biasa kayanya sehingga di katakan orang yang terkaya di sebelah timur

Mereka kaya tetapi hati mereka tetap pada Tuhan, walaupun kekayaan itu hilang tetapi pengharapan mereka tidak hilang, karena pengharapan mereka bukan pada harta tetapi pada Tuhan yang terus memelihara hidup mereka.

Ayub pada waktu kehilangan seluruh harta bendanya, ia tetap katakan, mengapa kita mau menerima yang baik saja dan tidak mau menerima yang buruk, dan dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa. Jadi kehilangan harta bisa terjadi tetapi pengharapan tidak hilang karena hanya pada Tuhan saja.

Anak muda ini tidak bisa menjadi anak Tuhan, karena pengharapan hidupnya pada hartanya bukan pada Tuhan, hartalah yang bisa menolong hidupnya bukan Tuhan, hati dia melekat pada harta bukan pada Tuhan sehingga ia tidak mau kehilangan harta.

 Dengan kata lain lebih baik kehilangan Tuhan dari pada kehilangan harta, karena hartalah yang bisa menolong hidup saya bukan Tuhan. Gila, tidak.

Tetapi kenyataan ini jugalah yang terjadi dalam kehidupan banyak anak Tuhan di dunia. Mereka bisa rela kehilangan Tuhan dari pada kehilangan harta. Kalau tidak ada uang hati mereka sangat gelisah, tetapi kalau tidak berdoa, tidak bersekutu dengan Tuhan maka hati mereka tidak gelisah.

Pada waktu sakit dan tidak ada uang maka akan semakin stress dan depresi walaupun masih ada Tuhan dalam hidup kita yang bisa menolong kita. Pada waktu menolong orang lain dengan berbagai berkat kita mulai perhitungan tetapi pada waktu di tolong oleh orang lain, maka kita bersyukur pada Tuhan

Sebenarnya dalam hidup ini kita mencari Tuhan atau mencari berkat Tuhan (uang). Kita berdoa untuk dekat Tuhan, atau kita berdoa agar bisa mendapatkan berkat yang banyak. Kita ke gereja untuk menemui Tuhan ataukah kita ke gereja untuk di berkati Tuhan.

Tanpa sadar dalam hidup ini kita melenceng dari Tuhan, Banyak orang yang tidak mencari Tuhan tetapi hanya mencari berkat Tuhan, sehingga kelihatan dalam hidupnya yang rakus, serakah dan kikir untuk membantu orang lain karena ia berpikir uanglah yang bisa menolong dia bukanlah Tuhan. Ia sudah kehilangan Tuhan dalam hidupnya

Uang itu adalah berkat yang di pakai Tuhan untuk menolong hidup kita, dia hanya berkat bukan Tuhan tetapi tanpa sadar sudah mengantikan Allah dalam hidup kita.

Tuhan berikan hikmat kepada kita untuk menata hidup kita melalui uang yang ada, tetapi ternyata hati kita melekat pada uang dan dialah yang menjadi Tuhan sehingga kalau tidak ada dia hati kita sangat gelisah.

Maka orang-orang seperti ini akan terus menumpuk kekayaannya, sudah ada tanah, terus membeli tanah sebagai asset, semakin banyak barang mas yang di miliki, terus menumpuk kekayaan padahal banyak orang disekitarnya yang hidup kelaparan dan ia hanya membantu seadanya padahal ia bisa lakukan lebih dari pada itu.

Maka pada orang-orang seperti ini Tuhan katakan dalam sebuah pepatah : lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah. Maka hati-hati, uang dan harta tidak boleh mengantikan Tuhan dalam hidup kita.

Saya bertemu dengan beberapa orang yang sangat kaya tetapi yang tetap mencintai Tuhan, hati mereka tidak melekat pada kekayaan tersebut.

Ada orang yang cukup kaya setiap bulan dia bisa memberikan persembahan 40%, karena dia sadar dia bisa hidup dengan 60% yang ada, lalu orang bertanya mengapa mau hidup seperti itu, bukankah kita juga butuh tabungan yang banyak untuk berjaga-jaga.

Lalu ia katakan : Kalau bisa hidup cukup mengapa mau hidup berlebih,Tuhan memberikan kita uang yang banyak untuk menjadi berkat bukan untuk di nikmati. Wah hebat sekali orang ini, hatinya tetap untuk Tuhan tidak pernah berubah.

Bahkan ada orang tertentu terkadang menghadapi kesulitan sampai titik terendah dalam hidupnya  ia tetap damai sejahtera, ia katakan : Walaupun sampai titik terendah dalam hidupku aku  tahu siapa Tuhanku. Tugasku hanya mencukupkan diri dengan apa yang ada. Tuhan bisa menolong saya bersyukur tetapi kalaupun tidak menolong saya sudah siap.

Orang-orang seperti ini, memandang harta itu hanya berkat, hati mereka tidak melekat pada harta tetapi pada Tuhan, dan tetap tenang, tidak geliasah walaupun tidak punya tabungan untuk masa depan. Maukah kita hidup seperti ini. Tuhan Memberkati.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun