Mohon tunggu...
Sendi Suwantoro
Sendi Suwantoro Mohon Tunggu... Mahasiswa - Ketua SEMA FTIK IAIN Ponorogo 2023/2024

Jangan pernah meremehkan orang walaupun bersalah jangan memandang diri sendiri ketika punya kelebihan

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Benang Kasih Terjalin Ulang: Kisah Ibu dan Perahu Kertas

12 Januari 2024   14:43 Diperbarui: 12 Januari 2024   15:38 115
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
https://pixabay.com/id/photos/ibu-bayi-senang-keibuan-balita-84628/

Hujan sore mengiringi langkahku pulang. Deretan rumah petak di gang sempit tampak kuyu, dibasuh air langit yang dingin. Dari sela jendela rumahku, sebuah cahaya kuning merembes, hangat dan mengundang. Di dalamnya, Ibu tengah sibuk mengaduk sup di dapur, aroma kaldu ayam dan bawang goreng memenuhi udara.

Senyumku mengembang. Meski lelah seharian bekerja, pulang ke pelukan aroma masakan Ibu selalu jadi obat penat yang ampuh. Aku melepaskan sepatu, meletakkan tas sembarangan di lantai, dan langsung menghampiri Ibu.

"Bu, hujan deres banget ya?" kataku, sambil memeluknya dari belakang.

"Iya, Nak. Tapi nanti pasti reda," jawab Ibu, tangannya tak henti mengaduk.

Aroma masakannya selalu ajaib. Setiap sup yang dimasak Ibu seperti menyimpan ribuan untaian doa dan cinta. Saat ini, sup itu tak sekadar makanan, tapi pelukan hangat yang menyiram jiwaku yang dingin.

Duduk di meja makan, aku memandangi Ibu. Wajahnya yang keriput, rambutnya yang mulai memutih, semua menuturkan kisah kasihnya yang tak pernah habis. Aku teringat masa kecilku, di mana Ibu biasa menghabiskan waktunya mengajariku membuat perahu kertas dari halaman buku bekas.

Kami akan duduk di teras, memandangi sungai di belakang rumah, dan menerjunkan perahu-perahu kertas itu ke aliran air yang tenang. Setiap perahu membawa harapan dan doa, mengarungi sungai kehidupan yang entah ke mana perginya.

"Bu, masih ingat perahu kertas?" tanyaku sambil menyeruput sup.

Ibu tersenyum, matanya berbinar. "Bagaimana mungkin Ibu lupa? Dulu kau suka sekali membuatnya, Nak."

"Sekarang aku nggak pernah lagi main perahu kertas, Bu," kataku pelan.

Kehidupan dewasa terasa terlalu deras, terlalu nyata untuk dihibur oleh perahu kertas. Perahu-perahu harapan masa kecilku seolah telah karam ditelan sungai kehidupan yang penuh badai.

Ibu tak berkata apa-apa. Dia hanya meletakkan mangkuk supku, mengambil halaman kosong dari buku yang ada di meja, dan melipatnya dengan cekatan. Dia menggarap kertas itu dengan tangannya yang lembut, membentuknya menjadi perahu kecil yang mungil.

"Buat perahu lagi, Nak. Kali ini, jangan biarkan dia karam," katanya sambil menatapku.

Aku melihat mata Ibu, di dalamnya aku melihat harapan, cinta, dan keyakinan yang tak pernah lekang. Tiba-tiba, tanganku terasa gatal, ingin sekali membentuk kertas itu, mengikuti aliran jemari Ibu.

Bersama, kami membuat perahu kertas. Tak ada lagi anak kecil dan ibunya, hanya dua insan yang tengah menjalin kisah lama dengan benang kasih. Perahu kecil itu pun selesai, sederhana namun penuh arti.

Kami membawanya ke teras, berdiri di tepian sungai yang sama. Hujan sudah reda, digantikan langit senja yang berwarna jingga. Dengan perlahan, kami meletakkan perahu kecil itu ke air.

Perahu itu berlayar, perlahan mengikuti arus. Aku tak tahu ke mana dia akan pergi, tapi satu hal yang pasti, doa dan cinta Ibu menumpang di dalamnya. Dan di hatiku, perahu itu tak akan pernah karam, dia akan terus berlayar, menjadi pengingat tentang kekuatan cinta Ibu yang tak pernah padam.

Malam itu, aku tidur dengan nyenyak, mimpi dihantar oleh suara gemericik sungai dan perahu kertas kecil yang sedang mengarungi petualangannya. Aku tahu, perahu itu tak hanya membawa harapan dan doa, tapi juga cinta Ibu yang akan selalu menjadi jangkar, menjagaku agar tak terseret arus kehidupan yang deras.

Dan setiap kali aku merasa lelah, terluka, atau kehilangan arah, aku akan kembali ke sungai di belakang rumah. Aku akan membuat perahu kertas, ditemani oleh Ibu, dan melepasnya ke aliran air. Sebab, perahu itu adalah pengingat bahwa di tengah lautan kehidupan yang luas, aku tak pernah sendirian. Selalu ada benang kasih Ibu yang terjalin ulang, membawaku pulang ke pelukan cinta yang tak pernah lekang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun