Buku ini merupakan pertanggungjawaban penulis sebagai 'intelektual publik' dalam
rentang waktu selama 25 tahun (1998-2023), yang menyaksikan, mengalami, berpikir, dan
bergerak yang terangkum dalam beberapa kata kunci yakni tentang persoalan-persoalan Spritualitas Kmenusiaan, Islam dan Ikhtiar penyegaran Ajaran serta Keindonesiaan dan Kemajemukan.
Buku ini menyuarakan dan mentengahkan kembali apa yang pernah disampaikan oleh para maha guru kehidupan dan kebijaksanaan, seperti tentang pentingnya solidaritas kemanusiaan dan cinta kasih, gambaran manusia berkualitas, pentingnya memberi penghormatan terhadap orang yang berbeda keyakinan serta tentang penderitaan dan kebahagiaan umat manusia.
Isi Buku
 Didalam buku ini secara umum dibagi kedalam tiga bagian. Bagian pertama berisi tentang ' Spritualitas Kemanusiaan dan Kesemestaan'. Bagian kedua berisi tentang 'Islam dan Ikhtiar Penyegaran Ajarannya'. Dan bagian terakhir berisi tentang 'Keindonesiaan dan Kemajemukan'. saya sebagai pembaca akan mereview lebih singkat tentang buku ini.
Spritualitas Kemanusiaan dan Kesemestaan
Â
Pada bab pertama ini berisi beberapa tulisan tentang topik yang diantaranya adalah konsep manusia unggul yang dikemukakan oleh Allamah Iqbal, seorang pemikir besar Islam asal Pakistan. Ia menulis tentang betapa pentingnya bagi manusia untuk mencapai tingkat pencapaian tertinggi dalam hidup. Orang yang berprestasi tertinggi diibaratkan rajawali dan manusia kurcaci yang mematikan akal dan memalingkan hatinya diibaratkan seperti semut yang merayap di tanah dan mudah diinjak oleh orang yang lewat dan dirinya tidak pernah dihargai. Dan Iqbal juga menekankan pentingnya orang bekerja keras. Menurutnya, pekerja keras akan menaklukkan dunia dan orang malas akan ditinggalkan dunia.
Pada pembahasan selanjutnya ini erat kaitannya dengan pandangan Muhammad Iqbal dan merupakan pembahasan penting dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional pada tanggal 8 Maret 2019. Tentang konsep menjadikan orang yang diyakini perempuan dari tulang rusuk laki-laki. Perempuan juga mempunyai cara pandang yang terdistorsi karena keberadaannya telah dirusak kesadaran dan pemikirannya oleh sistem makna yang dibangun masyarakat. Sistem makna ini mentransfer nilai-nilainya dari yang kuat ke yang lemah dan dari kelompok masyarakat dominan ke kelompok Masyarakat kecil. Pierre Bourdy menyebut tindakan ini sebagai kekerasan simbolik, suatu bentuk
kekerasan yang bersifat ambigu, halus, dan tersembunyi, sehingga maknanya tampak tidak bermasalah dan diterima sebagai hal yang sah di banyak budaya di seluruh dunia. Faktanya, kekerasan simbolik tersebut, serta kekerasan fisik dan psikis, berdampak negatif terhadap perempuan dengan menimbulkan rendahnya harga diri, ketakutan, kecemasan, ketidakberdayaan, dan bentuk kelemahan lainnya.