Mohon tunggu...
Sarkoro Doso Budiatmoko
Sarkoro Doso Budiatmoko Mohon Tunggu... Dosen - Penikmat bacaan

Bersyukur selalu.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Legacy Pak Ketua RT

8 Maret 2021   22:11 Diperbarui: 8 Maret 2021   22:16 236
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Orang kadang suka jahil ketika secara sembarangan menggolong-golongkan orang dengan kategori yang tidak jelas dasarnya. Apalagi dasar ilmiah, dasar logika sederhana pun sering diabaikan. 

Contohnya ketika melihat orang berkepala botak, langsung dianggap sebagai orang pandai, pemikir dan ahli dalam bidang tertetu. Padahal kenyataannya, Einstein berambut gondrong, BJ Habibie tidak botak, dan banyak Rektor Perguruan Tinggi yang jelas-jelas intelektual, cerdik pandai dan pemikir tidak semuanya botak. 

Contoh lain, orang yang berbadan besar dan berperut buncit, dengan gampang digolongkan sebagai orang kaya dan makmur sejahtera. Dianggap orang banyak duit dan tidak pernah kurang makan.   

Orang yang berpakaian dekil, berwajah sangar, rambut gondrong awut-awutan dengan segera akan mendapat cap sebagai preman. Preman pasar atau preman jalanan. Padahal tidak selalu demikian, tidak sedikit orang dengan penampilan sangar tetapi berhati lembut dan rajin beribadah. 

Sebaliknya orang yang berpakaian rapi, bersih, necis, rambut tercukur rapi, muka kelimis, segera juga mendapat cap sebagai orang berpendidikan, intelek, pekerja kantoran dan berduit banyak. Padahal tidak selalu demikian. Banyak penjahat, maling, koruptor dan kriminal lainnya berpenampilan rapi, licin dan necis. 

Meskipun kadang ada benarnya, tetapi pandangan mata seringkali membuat orang bergerak salah arah. Maka waspadalah. Apalagi tidak semua mampu dengan cepat memahami bahwa tampilan yang tertangkap mata seringkali hanyalah bungkus yang bisa berubah tergantung keperluan. 

Begitulah kenyataan disekeliling kita. Kita hidup dalam kubangan persepsi, citra, image, stereotype dan prasangka. Orang sering menjadi korban cara berpikirnya sendiri atau menjadi korban dari kerangka yang dibangun pihak lain dengan tujuan tertentu. 

Kita bisa amati berita tentang pelaku kriminal di depan hukum. Seperti apapun tampilan sebelumnya dan sejahat apapun perbuatannya, tetapi saat berurusan dengan aparat hukum, mereka tampil penuh dengan simbol-simbol religi dilengkapi ekspresi wajah alim. Anda tentu tahu maksud dan tujuannya. 

Untuk maksud dan tujuan itu pula sebagian orang membangun dan memanipulasi tampilan dirinya. Harapannya antara lain agar kekurangannya tertutupi, kebodohannya tak kentara, kesalahannya termaafkan dan kinerjanya terangkat. 

Selain juga dengan citranya itu dia berusaha memperoleh simpati. Simpati dari boss, bawahan, dan masyarakat luas. Berbagai cara ditempuh baik di dunia nyata maupun di alam maya, dari membual hingga berbuasa-busa atau bahkan berbohong. 

Mengapa berbohong? Karena kebohongan jika diulang-ulang secara masif dari waktu ke waktu bisa dianggap kebenaran (JPNN, mengutip Adi Prayitno Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia dan Pengajar di Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah Jakarta, 7 Januari 2019). 

Maka kemudian terciptalah citra sebagai pihak yang tampak polos, tulus, ikhlas, bijaksana, merakyat, pintar dan seabreg citra positif lainnya. Atau di sisi sebaliknya, terbangun persepsi sebagai pihak yang tampak jahat, kriminal, kasar, keras, radikal dan sekarung citra negatif lainnya. 

Pencitraan tidak selalu jelek. Citra juga tentu saja diperlukan. Iklan dan promosi adalah juga upaya membuat citra bagus sebuah produk sebagai salah satu strategi pemasaran. Pencitraan yang canggih atas sebuah produk bisa membuat pelanggan sangat loyal. 

Pencitraan lebih cenderung pada upaya mewujudkan keinginan seseorang untuk diakui, dipandang dan dipersepsikan sesuai dengan citra yang dibangunnya. Tentu saja di dunia yang fana ini tidak ada yang sempurna. 

Banyak kejadian yang pada akhirnya membuat orang berkesimpulan bahwa pencitraan itu sifatnya sangat sementara. Apalagi di jaman teknologi super canggih seperti sekarang. "Kamera" bukan hanya dimiliki wartawan. Hampir semua orang sekarang punya "kamera" dan "koran". Maka tidak ada lagi yang bisa disembunyikan dengan "primpen". 

Apalagi, di sisi lain, masyarakat sasaran pencitraan dari waktu ke waktu pun semakin cerdas. Semakin cerdas dalam melihat dan mencerna sesuatu. Bisa saja terjadi, maksud hati membangun citra baik, citra negatiflah yang didapat. 

Sebenarnya tanpa berbuat apapun, setiap individu memiliki citranya masing-masing. Citranya terbangun dari kesan dan kenangan yang diingat orang lain atas apa yang ditinggalkannya. 

Bicara tentang kesan dan kenangan, jadi teringat pada Pak Ketua RT di sebuah pemukiman. Pak Ketua RT ini dipilih hingga berulang kali setiap lima tahun. Itu terjadi karena masyarakat yang dipimpinnya memilihnya lagi, lagi dan lagi setelah merasakan langsung hasil kerjanya. Dia tidak tampak repot membangun, membuat dan memanipulasi citranya. Kerja nyatanya yang menyentuh hati telah menjadi citra positifnya di mata masyarakat. 

Sayangnya dia hanya Ketua RT, prestasi, kinerja dan torehan nyata hasil kerjanya terlalu mewah untuk disebut sebagai legacy.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun