Anak-anak awalnya ketawa tak percaya apa yang mereka dengar. Sampai akhirnya yang sulung menjawab, "Mau main game seharian."Â
Persis banget dengan yang saya sangkakan. Sebenarnya, hadiah main game seharian ini sudah pernah dia dapatkan juga saat selesai ujian sekolah kelulusan SD beberapa waktu lalu. Atas kerja kerasnya belajar, saya menghadiahinya main seharian, tidak pakai protes. Namun, jam salat dan makan tetap harus dilaksanakan.
Namun kemudian, kalau harus memberikan hal sama tersebut padanya saat yes day, saya  berpikir ulang. Apakah sebanding dengan kewajiban yang sudah dia lakukan? Apa dia sudah laksanakan semua tugasnya dengan baik? Apakah nilai memberikan hadiah ini akan bermanfaat untuknya? Apakah saya akan dapat nilai sama seperti dalam film?
 Selama pandemi, kami selalu bersama di rumah 24 jam. Waktu yang nyaris langka sebelumnya. Bersama dalam waktu lama memang sangat berat. Bosan membuat konflik mudah terjadi. Bukan hanya yes atau no, rasa saling memahami dan tenggang rasa antara kami perlu lebih longgar lagi. Percakapan dan negosiasi harus seimbang. Bukan anak dilihat sebagai lawan tapi kawan. Orang tua bukan untuk berdebat tapi bersahabat. Saya yakin belum sempurna juga, tapi berusaha ke arah sana.
Jadi, Anda siap terapkan yes day di keluarga?
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI