Mereka menghukum diri mereka dengan frustrasi yang berlebihan dan berakibat pada kejatuhan. Dalam pemahaman Origenes Allah telah memberikan roh yang telah jatuh dengan sebuah tubuh. Alasannya adalah dengan demikian roh yang jatuh itu dapat menghadapi tantangan-tantangan yang dihadapi tubuh. Origenes menegaskan bahwa tubuh manusia sejenis dengan gymnasium bagi roh-roh yang malas.[14]
- Sumbangsih Pemikirannya Dalam Teologi
Origenes memberikan kepada Kristologi Yunani sejumlah istilah ilmiah yang amat membantu untuk mengungkapkan secara intelektual dan konseptual apa yang diimani mengenai Yesus sang Kristus (physis=kodrat, hypostasis=substansi, ousia=hakikat, homousios=sehakikat, dan theanthropos=kesatuan dari sang Allah-manusia)[15], akan tetapi, ada pula kekurangan dalam Kristologi Origenes yang disebabkan oleh kerangka filosofis yang dipakainya, yang berakibat bahwa gagasan inkarnasi kurang ditegaskan.
Penjelmaan sabda dipandang sebagai ensomatosis (hal memasuki tubuh) dari jiwa kristus yang pra-ada , sama seperti semua jiwa lainnya dipandang pra-ada baru kemudian dipersatukan dengan tubuh, sesuai dengan ajaran Plato. Pandangan ini terlalu berbeda dengan apa yang lazimnya dipandang sebagai kodrat manusia yang sungguh-sungguh. Begitu pula Origenes berpendapat bahwa sesudah kebangkitan tubuh mulia Kristus semakin diresapi oleh kerohanian-Nya (bertentangan dengan iman kristiani dan ini sama dengan pandangan gnostik).
Ia menjelaskan bahwa: Logos sebagai gambar Allah memegang peranan Pewahyu: gambar menyatakan dia yang digambarkan. Logos bagi origenes merupakan sujek dan objek wahyu dalam waktu serentak. Origenes berargumen bahwa inkarnasi menjadi puncak pertama yang dicapai wahyu Allah, dan Parusia adalah puncak kedua. Dengan mengaitkan penjelmaan dengan kedatagan Kristus pada akhir zaman, origenes mengembangkan paham wahyu yang dinamis.
- Filsafat yang mempengaruhi pemikiran Origenes
Pemikiran Origenes sangat dipengarhi oleh filasafat Plato dan Stoa. Platonisme dan stoisme sangat mempengaruhi pemikiran Origenes.[16] Fokus pandanganya yang dipengaruhi oleh kedua aliran ini adalah bagaimana menjelaskan dan memahami hubungan antara passion (dorongan atau kekuatan non-rasional) dan kebijaksanaan atau kebajikan.
Hal kedua yang menjadi concernya adalah bagaimana menjelaskan perpindahan atau transisi dari kesatuan ilahi (divine unity) kepada banyak hal di dunia material (multiplicity of things in the material world). Filsafat Platonisme dan Stoisisme telah memberi cara baru bagi Origenes untuk memahami konsep-konsep penciptaan.
Baca Juga Renungan menarik di sini
Refrensi
[1] Perbedaan ini dapat ditemukan dalam Buku G. R. Evans, The first Christian Theologians, 133
[2] G. R. Evans, The first Christian Theologians, 133.