Doa bisa menjadi sekolah harapan, tempat untuk belajar berpengharapan. Di saat tidak ada seorang pun yang bisa membantu dan menolong, dalam keadaan yang mencekam, berserah diri pada Tuhan menjadi solusi baik ketimbang menyalahkan diri sendiri (Paus Benediktus XVI, Ensiklik Spe Salvi, art. 32). Doa bisa menjadi latihan kerinduan untuk bisa berdiri teguh dan kokoh menghadapi pandemi.
Di akhir permenungan tentang covid-19 ini, saya ingin menegaskan kembali bahwa poin pentingnya ialah bagaimana berdamai dengan penderitaan dan selalu ada dalam keadaan berpengharapan.
Berdamai dan berpengharapan adalah dua hal yang mesti digaungkan dalam diri di tengah merebaknya wabah ini. Corona memberikan spasi baru bagi kita untuk bermenung tentang penderitaan dan membangun kesadaran.
Kesadaran akan realitas kelemahan dalam diri membuat kita selalu mencari sosok lain. Akhirnya, gejolak yang mestinya ada saat ini ialah menjadi sandaran bagi sesama dengan peduli dan bertanggungjawab.
Kepudilan diartikan dengan ketaatan pada anjuran pemerintah untuk menjaga jarak, menerapkan pola hidup bersih dan bersolider dan juga lebih care lagi dengan ibunda bumi. Menerima penderitaan ala sisifus dan Ayub berarti berdamai dengan penderitaan, diri sendiri, sesama, alam dan Tuhan.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI