Mohon tunggu...
Reno Dwiheryana
Reno Dwiheryana Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Blogger/Content Creator

walau orang digaji gede sekalipun, kalau mentalnya serakah, bakalan korupsi juga.

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Ironi Minyak Goreng, Menteri Saja Bingung, Bagaimana Lagi Rakyat?

21 Maret 2022   11:02 Diperbarui: 22 Maret 2022   08:49 249
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Seperti Anda ketahui bersama bahwa pemerintah secara resmi mencabut Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk minyak goreng kemasan yang semula Rp 14.000 per liter dan kemudian menyerahkan harga minyak goreng kemasan ke pasar.

Sontak minyak goreng kemasan yang tadinya langka, kini stoknya kembali berangsur-angsur normal dan banyak terisi di gerai maupun supermarket.

Fenomena melimpahnya minyak goreng pasca aturan HET dicabut membuat Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengaku kebingungan.

"Saya juga bingung barang ini dari mana? Tiba-tiba keluar semua," kata Lutfi saat berdialog dengan ibu-ibu di sebuah ritel modern di Jakarta dikutip dari Tribunnews, Minggu (20/3/2022).

Lutfi menyebut, meski saat ini harga minyak goreng jauh lebih mahal dari HET, ada sisi positifnya yakni stok minyak goreng yang kini tak lagi langka dan bisa didapatkan dengan mudah oleh masyarakat.

"Jadi mending mana murah tapi barangnya tidak ada, atau sedikit mahal tapi stok banyak," tanya Lutfi ke beberapa ibu-ibu yang tengah berbelanja.

Dia juga menjamin tidak lama lagi harga minyak goreng akan turun apabila ketersediaan di pasar semakin banyak. Menurutnya, penurunan harga terjadi sesuai dengan prinsip mekanisme pasar.

Menanggapi respon dari Mendag Muhammad Lutfi membuat Penulis miris. Logisnya kalau sekelas Menteri saja sampai bingung dengan fenomena yang terjadi terhadap minyak goreng, lantas bagaimana lagi dengan rakyat?

Rakyat yang sebelumnya senang dengan HET minyak goreng yang terjangkau dan sampai rela antri guna mendapatkan minyak goreng murah saat kelangkaan terjadi, kini mereka harus kembali gigit jari karena HET minyak goreng dicabut meski stok minyak goreng tiba-tiba melimpah bak pertunjukan sulap.

Sikap Mendag Muhammad Lutfi ini Penulis menilainya sebagai blunder kedua dimana sebelumnya ia menyampaikan permintaan maaf saat melangsungkan Rapat Kerja dengan Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) beberapa waktu lalu.

Kala itu ia mengungkapkan bahwa Kemendag telah melakukan berbagai kebijakan untuk mengontrol harga minyak goreng di pasaran. Sayangnya, kebijakan tersebut tidak efektif karena ulah oknum mafia minyak goreng.

Lutfi mengaku memiliki keterbatasan kewenangan untuk mengusut tuntas masalah mafia dan para spekulan minyak goreng.

Dia meminta bantuan kepada Satuan Tugas (Satgas) Pangan Polri untuk menindak mafia dan para spekulan minyak goreng tersebut. - Kompas.com

Kiranya wajar bilamana permohonan maaf Mendag Muhammad Lutfi menjadi ragam olokan netizen di media sosial. Kok bisa ya Pemerintah dengan segala resources yang dimilikinya sampai-sampai tidak mampu menghadapi mafia minyak goreng?

Bukankah Kementerian dan elemen pemerintahan didalamnya bisa bekerjasama untuk menyingkap, mengusut serta menindak siapa-siapa saja mafia dibalik kelangkaan minyak goreng? 

Lantas kalau HET dicabut, kemudian minyak goreng melimpah di pasaran, lalu bagaimana cara mengusut dugaan mafia yang dimaksud? Bagaimana caranya menuntut pihak-pihak yang bermain curang sedangkan tidak ada bukti real bahwa mereka telah melakukan penimbunan minyak goreng dan menyebabkan kelangkaan?

Boleh-boleh saja selaku Menteri meminta maaf dengan apa yang terjadi dan hal itu patut diapresiasi, namun hal itu bukan berarti Kementerian lepas tangan dan membiarkan fenomena akan minyak goreng ini dikuasai oleh mafia rakus nan serakah. Sangat dinanti-nanti perkembangan selanjutnya, jangan sampai dugaan mafia minyak goreng ini nantinya hanya menguap tak berbekas.

Entah apa yang terjadi dibalik layar, fokus utama ialah masyarakat mau tidak mau menerima kenyataan bahwa harga minyak goreng kemasan kembali tinggi. Suka tidak suka, ketika Anda butuh maka Anda harus membelinya. Berat sudah pasti, apalagi minyak goreng merupakan komoditi harian yang dibutuhkan oleh setiap rumah tangga.

Apakah dengan membeludagnya minyak goreng kemasan di pasaran maka akan mendorong turunnya harga sesuai prediksi prinsip mekanisme pasar? Tentu hal tersebut perlu proses pembuktian, karena jika dugaan adanya mafia minyak goreng menguasai pasar maka rasa-rasanya kecil harapan masyarakat akan kembali merasakan minyak goreng murah.

Demikian artikel Penulis. Mohon maaf bilamana ada kekurangan dikarenakan kekurangan milik Penulis pribadi. Terima kasih.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun