Mohon tunggu...
Samhudi Bhai
Samhudi Bhai Mohon Tunggu... Penulis - Penulis
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Kompasianer Brebes Community (KBC)-68 Jawa Tengah -Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Politik

Demo Tuntut UMP: Maju Kotanya Sengsara Buruhnya

21 November 2021   15:37 Diperbarui: 21 November 2021   16:01 305
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Lalu kenapa masyarakat Jakarta diam melihat hal ini? Apakah mereka bahagia? Atau apakah diamnya itu sekedar untuk menutupi rasa malu sebab suda salah dalam memilih, atau apakah biar dianggap santuy dengan pilihannya?.

DKI Jakarta tiak kekurangan ahli dan orang pintar dari berbagai penjuru bidang. Tapi mengapa mereka hanya diam seribu bahasa melihat kemunduran akan carut marutnya DKI Jakarta.

Bisa jadi mereka telah merasakan bahagia mempunyai gubernur yang hanya bisa membual. Sehingga Jakarta hancur tidak apalah yang penting gubernurnya seiman. Jika begini dangkal dan bodoh sekali pemahamannya.

Bahkan tempo lalu Aa Gym yang pernah mengunggah foto banjir untuk menyerang secara politik untuk pihak Ahok, namun ternyata foto tersebut telah kadaluwarsa, sehingga hanya bisa mingkem belaka.

Jelas si Aa telah terdamprat sama postingannya soal banjir beberapa tahun lalu. Orang yang paham agama sebenarnya harus berlaku adil pada siapapun termasuk dalam menyikapi banjir jaman Ahok dan banjir jaman Anies.

Namun tidak demikian dengan Aa. Ia justru menyikapi soal situasi banjir super melimpah ini, dia mendukung Anies namun telah salah logika. Tetapi ya sudahlah biarkan saja, sebab itupun hak Aa Gym untuk bersikap, toh kita sudah tahu seberapa mampunya dia untuk dapat menjaga hatinya.

Oleh karena itu Maju kotanya dan bahagia warganya hanyalah jargon bualan belaka yang dalam faktanya masih samar dan kabur lalu gelap.

Penulis juga yakin bahwa masyarakat Jakarta mampu merasakan bedanya kebahagiaan masa lalu, dengan kebahagiaan masa sekarang.

Walaupuu pencitraan-pencitraan terus dilakukan Anies Baswedan, namun sebenarnya dia sudah terperosok kedalam kubangan yang dia buat sendiri.

Ada juga yang menyebut Gubernur rasa pleciden. Ya tidak mengapa, toh itu sebatas ungkapan yang diciptakan pembela Anies sendiri yang kian lama semakin tercium bau busuknya demi tujuan politik Anies untuk mendulang suara lebih tinggi.

Sah-sah saja ada ungkapan seperti itu namun harus sesuai dengan skillnya dan kerjaanya. Pantas jika Presiden Jokowi memecatnya dari menteri pendidikan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun