"Banyak orang bilang banyak jalan menuju roma. Tapi ini jalan hidup kawan. Tentukan satu jalan yang tepat dan terus berjalan. Sebab ini jalan hidup, bukan jalan-jalan"
Dalam kehidupan kita, tentunya memiliki sesuatu yang sangat kuat filosofinya. Seluruh aktivitas yang kita lakukan, tidak terlepas dari pada sebuah keputusan. Artinya, kalau keputusan sudah diambil. Kita juga harus menerima resikonya.
Disini saya menggunakan logika (Jalan bercabang) dalam keseharian kita. Suatu hal sekecil apapun, keputusan adalah jawaban paling tepat untuk bergerak cepat.Â
Misal, pada jalan yang bercabang. Satu kearah kiri dan satu kearah kanan, ujung jalan (tujuan akhir) kita nantinya akan sama. Kita di perhadapkan dengan pilihan.Â
Ini hal paling sederhana dalam keseharian kita, untuk menentukan kita sampai ke tujuan akhir. Kedua cabang jalan harus kita pilih antara satunya. Setelah memilih, keputusan baru diambil.Â
Yang jelas, setelah keputusan kita ambil, sudah barang tentu resiko dan kemungkinan-kemungkinan juga harus diterima.Â
Kemungkin di tengah jalan kalau menggunakan mobil, kita bertemu kemacetan, ban mobil bocor atau kemungkinan lain. Hal yang sama jika menggunakan kendaraan roda dua (Motor atau sepeda)Â
Kalau hanya jalan kaki, tentunya pilihan kita adalah jalan yang di lewati kendaran. Paling tidak dalam 30 puluh menit ada kendaraan yang melewati jalan yang sama. Ini berkaitan dengan kemungkinan-kemungkinan kita kehabisan beka di jalanan.Â
Untuk membuat keputusan bukanlah hal muda untuk kita, tetapi setidaknya kita dengan rasional haru memilih satu diantara dua pilihan yang ada didepan.Â
Pada aktivitas keseharian kita, tidak ada yang mudah dalam hal pilihan kalau di perhadapkan dengan dua, tiga dan banyak pilihan.Â
Bisa jadi keputusan menentukan pilihan itu mudah kalau yang di depan kita adalah satu pilihan saja. Itupun kalau kita sudah dapat menjangkau sejauhmana kemungkinan keberhasilan.
Sebab, walaupun hanya satu pilihan. Banyak orang di banyak organisasi, orang belum dengan bijak dapat menentukan pilihan.Â
Kembali lagi kita pada logika jalan bercabang, adalah analogi sebuah pilihan dengan dua kemungkinan. Kemungkin berhasil untuk pilihan kita sebesar 70% dan 30% adalah kemungkinan lain. Bisa jadi nyasar kalau salah pilihan.
Seseorang di hadapkan dengan tiga atau empat pilihan, secara ukuran pengetahuan dia menggunakan pilihan paling rasional dengan besar kemungkin untuk suskses. Hal itu lah mengapa filosofi jalan bercabang sangat penting untuk kita yang suka melakukan aktvitas.
Berbeda hal dengan orang ceroboh, orang bijak melakukan atau menentukan pilihan dari banyak pilihan adalah satu pilihan saja, bisa jadi dua pilihan dalam bahasa strategi adalah planning A dan B.Â
Ketika pilihan A gagal maka pilihan B adalah pilihan kedua yang harus diambil. Sedangkan orang ceroboh, akan mengambil lima atau enam pilihan secara menyeluruh. Sehingga ukuran kesuksesannya nihil. Karena besar resikonya.Â
Bagaimana dengan relevansi analogi jalan bercabang diatas?Â
Dalam hal memilih pilihan seperti dua jalan bercabang, untuk pejalan kaki tentunya hanya satu jalan yang di pakai. Jadi orang ceroboh tidak mungkin memilih dua jalan dalam satu waktu bersamaan. Akibatnya adalah fatal.Â
Ukuran pengambilan keputusan untuk menemtukan pilihan pada kedua jalan yang bercabang, disini kita menggunakam emosi dan mengontrol pikiran kita. Focus pada satu pilihan setelah kemungkina-kemungkinan dapat didikte oleh akal sehat.Â
Padi pada prinsipnya keputusan lahir mengambil satu keputusan datang dari cara berpikir kita yang jernih dan tentunya sudah sangat logis dari keseluruhan pertimbangan
Kecerdesan emosional dan intelektual merupakan ukuran inti untuk menciptakan wawasan yang jernih pertimbangkan segala resiko yang datang.Â
Pada jalan bercabang, kita menggunakan filosofinya sebagai dasar keputusan bahwa kedua jalan tidak bisa kita susuri dalam waktu bersamaan. Sehingga satu jalan menjadi pilihan yang kita putuskan.Â
Analogi dan filosofi ini terlihat sangat sederhana. Tetapi dalam banyak keputusan. Orang banyak salah kaprah, salah menentukan pilihan dan nyasar.Â
Bulatnya satu keputusan terbentuk antara kesesuaian hati dan pikiran. Pikiran kita bukan pikiran orang lain. Abaikan pribahasa orang lain adalah cermin. Dalam filosofi jalan bercabang, pribahasa orang lain adalah cermin tidak berlaku. Disamping mempertimbangkan potensi lainnya.Â
Seya sebut pilihan dan keputusan adalah proses galau paling akut yang semua manusia sering temukan pada aktivitas kesehariannya. Untuk membunuh akutnya galau seperti ini, kita di anjurkan untuk rasional, bijak dan lapang dada.Â
Keputusan tidak akan berhasil kalau emosional kita tidak terkontrol, atau mengambil pilihan karena gegabah. Indikator kesuksesan ada pada sejauh mana hati memerintahkanmu bukan akalmu yang memerintahkan hati mu.Â
Meminjam bahasanya Imam Al, Ghazali dalam "Rahasia Ketajaman Mata Hati". Hati adalah rajanya jasad. Semua bentuk yang telah keluar sebagai aktivitas, artinya pola tindak dan pola laku kita ditentukan dari sejauh mana hati kita menguasai seluruh organ tubuh kita.Â
So, dalam filosofi jalan bercabang, kembalikan seluruh keputusan untuk memilih kepada hati kita. Sehingga yang kita pilih adalah satu dari sepuluh pilihan terbaik yang sudah disaring dalam akan dan pikiran.Â
Sukses adalah jalan terakhir (Ujung Jalan) atau tujuan. Sekali lagi focus, putuskan dan jalankan. Kalau sudah sampai pada tingkat ini tentunya resiko, sekali lagi resiko datang sebagai ukuran efek keputusan antara tergesa-gesa dan pilihan tepat.Â
Semua resiko datang, sekalipun pilihan kita sudah tepat. Karena logika japan bercabang dan filosofinya belum berakhir sampai disitu. Perjalanan masih jauh, kita baru sampai pada 800km dan tujuan akhir adalah 1000km. Maka yang kita gunakan adalah sisa tenaga dan sisa kekuatan dari cara kita memenej pikiran dan wawasan.Â
Lebih tepatnya keputusan dalam ilmu manajemen disebut dalam pohon keputusan. Jadi ada tahap-tahap. Intinya ada filsafat diri atau manajemen diri (Self Managemen) yang harus kita kuasai sebelum keputusan pada satu pilihan di buat.Â
Keterampilan diri dan pengetahuan kita merupakan faktur penentu hasilnya.Â
Nah, itulah bagian terpenting dari filosofi jalan bercabang yang harus kita tau. Selain itu, satu hal penting adalah orang bijak dan orang sukses pernah salah dalam mengambil keputusan dan menentukan pilihan. Maka, pilih, putuskan dan jalankan. Ambil semua resiko dan kembali evalusi lagi.Â
Jangan bilang hal sulit menentukan pilihan adalah berada pada kedua atau tiga pilihan. Karena sesungguhnya hal tersulit adalah tidak mengambil pilihan atau tidak bisa memberikan satu keputusan sama sekali. Dan memilih tidak mengambil keputusan serta tidak menentukan pilihan adalah kita melakukan keputusan yang kita sendiri tidak sadari itu.Â
Demikian filosofinya jalan bercabang. Semoga bermanfaat.Â
Salam hormat*
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI