Kali ini komentar saya tentang undang-undang pesantren yang disahkan DPR di akhir bulan September lalu. Baik, di dalam undang-undang ini dimuat ada setidaknya 5 unsur yang harus dipenuhi dalam sebuah lembaga pendidikan Islam yakni "pesantren". Yang pertama harus ada lembaga yang mandiri, kemudian harus ada pemangku atau Kyai yang lulusan pesantren, lalu lembaga itu harus melakukan proses pembelajaran yang menghasilkan lulusan dengan ijazah yang setara lembaga-lembaga pendidikan yang lain, selanjutnya yang dikaji adalah kitab kuning atau ada pengkajian kitab kuning disana, dan yang terakhir lembaga pesantren itu akan mendapatkan dana abadi dari pemerintahan.
Pada kesempatan kali ini saya tidak akan membahas tentang sebagian kalangan atau ormas Islam yang menolak ketika rancangan undang-undang pesantren ini digulirkan atau dijalankan dengan alasan bahwa ini bisa memicu munculnya tuntutan serupa dari lembaga pendidikan lain atau sebagian juga menolak karena di dalam rancangan undang-undangnya tidak memuat atau mengakomodir keberadaan pesantren-pesantren yang tidak lagi sebagaimana pesantren yang disebutkan.Â
Akan tetapi ada pesantren-pesantren dengan dinamisasi yang sesuai kebutuhan zaman, misal ada pesantren agrobisnis dan banyak sebagainya, saya juga tidak akan membahas itu. tapi saya, ingin mengajak anda semua untuk melihat bagaimana keseriusan pemerintah, bagaimana keseriusan para penyelenggara negara untuk memberikan hak-hak umat agar memperoleh pendidikan terbaik. Tentu kita semua sudah paham tentang bagaimana keberadaan pesantren hari ini, bahkan pada zaman ini sangatlah begitu penting.Â
Kita sadar bahwa pesantren itu sangatlah dibutuhkan oleh umat karena dari pesantrenlah kemudian kita dapati sebuah proses dimana anak-anak itu mendapatkan pemahaman terhadap tsaqofah Islam lebih banyak dibanding apa yang bisa mereka dapatkan di dalam lembaga-lembaga pendidikan umum.Â
Dipesantrenlah mereka diajarkan untuk menjadi pribadi-pribadi yang punya pemahaman terhadap Islam secara utuh, itu idealnya jika di dalam kitab-kitab kuning kemudian dipahamkan kepada anak-anak itu. Tetapi, sesungguhnya yang membutuhkan untuk mendapatkan pemahaman tsaqofah Islam mulai dari pemahaman tentang bagaimana akidah atau iman secara utuh kemudian bagaimana syariat Islam itu mencakup segala aspek kehidupan bukan hanya tentang pembahasan ibadah saja, syariat Islam itu juga membahas tentang bagaimana ekonomi, bagaimana pendidikan dalam kaca mata Islam, bagaimana bahkan kurikulum pendidikan itu juga sudah ada dalam Islam, bagaimana sistem sosial, pergaulan laki-laki dengan perempuan serta penataan kehidupan keluarga itu semestinya dijalankan, bahkan di dalam tsaqofah Islam itu juga dijelaskan pada kitab-kitab kuning, lalu bagaimana politik itu diatur sedemikian rinci dalam Islam, dan juga bahkan tata pemerintahan Islam itu sesungguhnya juga termuat di dalam kitab-kitab kuning.Â
Yang butuh itu tidak hanya anak-anak yang mengecam pendidikan dipesantren saja, karena sesungguhnya anak-anak umat inipun juga berhak untuk memperolehnya dan kita semua wajib untuk mengupayakan supaya semua anak-anak umat ini mendapatkan pemahaman utuh terhadap tsaqofah Islam.
Disisi yang lain anak-anak itu juga membutuhkan ilmu-ilmu untuk menghadapi tantangan kehidupan hari ini. Mereka membutuhkan penguasaan tentang sains, teknologi, bahkan nih mereka juga harus punya kecakapan yang istimewa terhadap ilmu-ilmu kehidupan yang barangkali hari ini orang berpikir bahwa itu didapatkan lebih banyak di dalam sekolah-sekolah umum yang diselenggarakan oleh negara.Â
Bukankah idealnya negara hari ini justru membuat sistem pendidikan nasional adalah sistem pendidikan yang berbasis tsaqofah Islam dan sekaligus memberikan kecakapan dalam kadar yang mumpuni atas sains dan teknologi kepada anak-anak itu supaya mereka mampu menghadapi tantangan zamannya, bahkan untuk hidup dengan kehidupan yang layak dan juga hidup dalam posisi sebagai pemimpin-pemimpin peradaban.Â
Bukan kah itu yang diharapkan seluruh umat Islam? Akan tetapi kenapa kita hari ini tidak menuntut negara untuk memberlakukan kurikulum pendidikan nasional yang berbasis tsaqofah Islam dan memberikan kecakapan atau kemampuan sains dan teknologi serta kecakapan hidup yang mumpuni tadi? Kenapa kita membiarkan hari ini negara menyelenggarakan sistem pendidikan nasional yang berbasis sekularisme.Â
Jika anak-anak ingin menguasai ilmu agama, maka mereka dituntut untuk masuk ke lembaga-lembaga agama, jika anak-anak itu sekolah disekolah umum maka mereka haris mencukupkan diri dengan pemahaman-pemahaman Islam yang sangat minim.
Jika negara mau mengambil kebijakan maupun menerapkan sistem pendidikan Islam dengan sepenuh hati dengan memahami bahwa inilah yang dibutuhkan anak-anak umat ini bahkan inilah yang dibutuhkan oleh bangsa ini untuk keluar dari berbagai macam persoalan.Â
Pasti negara juga akan menyediakan hal-hal yang mendukung penyelenggaraan kurikulum pendidikan nasional yang berbasis akidah Islam dan mengajarkan tsaqofah Islam sebagai pemahaman mendasar yakni negara harus menciptakan sebuah lingkungan yang kondusif untuk tidak mengakomodir pemikiran liberal, untuk tidak memberikan kesempatan kepada masyarakat menyebarkan pemikiran dan contoh perilaku liberal, untuk menyiapkan keluarga agar mendidik anak-anak sejalan dengan kurikulum yang berjalan dan dijalankan oleh negara. Itulah yang hari ini dibutuhkan oleh bangsa ini.Â
Dan jika kita lihat justru hari ini negara memberlakukan hal yang sebaliknya, negara memberlakukan sistem pendidikan sekuler dan pada saat yang sama negara tidak memberikan lingkungan yang kondusif bagi anak-anak umat Islam untuk dididik oleh keluarganya untuk mendalami pemahaman Islam dengan tsaqofah Islam dalam keluarga. Dengan demikian juga anak-anak umat ini yang sudah dimasukkan ke pesantren pun mereka tidak lepas dari ancaman mendapatkan pengaruh pemikiran-pemikiran liberal yang beredar melalui media, melalui berbagai macam tulisan, dan melalui contoh figur-figur yang ada ditengah-tengah masyarakat maupun pemimpin-pemimpin di negeri ini yang bersifat liberal dan lepas jauh dari agama.
Jika hari ini ada penolakan mayoritas umat Islam terhadap film yang menggambarkan pesantren secara salah, yakni film "the santri", anggaplah hari ini memang tidak ada pesantren yang direpresentasikan oleh film itu. tetapi jika negara tetap memberlakukan sistem sekuler sebagaimana hari ini berjalan dan negara tidak stop sistem pendidikan sekuler sebagaimana hari ini dipraktikkan, maka bukan tidak mungkin anak-anak itu yang dididik dengan tangan-tangan anda sendiri di dalam keluarga anda, maupun anda sekolahkan dipesantrenpun akan terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran liberal...
Naudzubillah min dzalik.
Dan apabila kita tidak memperjuangkan kembali hadirnya negara yang memberlakukan sistem pendidikan Islam bukan tidak mungkin apa yang diagendakan oleh kaum penjajah untuk merusak kaum anak-anak umat Islam dengan pemikiran dan perilaku liberal, dengan pemikiran dan perilaku yang bertentangan dengan syariat sebagaimana dicontohkan di dalam film the santri benar-benar bisa terjadi, kita mohon pertolongan Allah SWT agar itu tidak terwujud...
Naudzubillah tsumma naudzubillah.
Ingatlah tabiat kita, karakter kita sebagai umat Islam sesungguhnya adalah khaira ummah dimana kita harus memperjuangkan tabiat itu, mewujudkan khaira ummah itu sampai dengan berlakunya seluruh syariat Islam termasuk berlakunya sistem pendidikan Islam. ingatlah firman Allah SWT di dalam surah Ali-Imran ayat 110 :
Kuntum khaira ummatin ukhrijat lin-nsi ta`murna bil-ma'rfi wa tan-Hauna 'anil-mungkari wa tu`minna billh.
"Kamu adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah".
Sekian, terima kasih...
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H