Istri pertamanya (menikah tahun 1889) adalah sepupunya sendiri, yang bernama Walidah yang juga berdomisili di Kauman, Yogyakarta.
Istri kedua (dinikahi sekitar 1913 atau 1914) adalah seorang janda di lingkungan Keraton yang bernama Nyai Windyaningrum. Darinya lahir seorang anak laki-laki. Istri kedua ini diceraikan pada sekitar tahun 1918.
Istri ketiga (dinikahi sekitar tahun 1917), bernama Nyai Rum, adik perempuan KH Munawir, pengasuh pesantren Krapyak Yogayakarta.
Dan istri keempat, seorang wanita muda bernama Aisyah, putri seorang Penghulu Ajengan di Cianjur Jawa Barat. Dari Aisyah lahir seorang anak perempuan.
Tidak ada keterangan apakah nama "Aisyiah" (organisasi ounderbouw Muhammadiyah) terinspirasi oleh nama istri keempat. Namun secara kronologis dalam buku ini, organisasi wanita Muhammadiah (Aisyiah) lebih dulu berdiri dibanding pernikahan KH Ahmad Dahlan dengan Aisyah di Cianjur.
Yang unik, keempat pernikahan itu dilakukan berdasarkan "tawaran", yang dalam arti tertentu bisa dimaknai "dijodohkan".
Seandainya buku ini ditulis sekitar 50 tahun lalu, saya cukup yakin detail dan nuansanya akan lebih kaya. Karena masih banyak orang yang eligible sebagai narasumbernya. Meski begitu, tetap bisa dijadikan salah satu buku yang layak baca untuk publik yang ingin memahami salah satu ulama penggerak yang sukses mewariskan legasi untuk umat Islam di Indonesia.
Namun kritik utama saya terhadap buku ini adalah kegagalannya memberikan gambaran utuh tentang gagasan dan basis pemikiran utama mengenai Muhammadiyah dan ke-Muhammadiyah-an.
Syarifuddin Abdullah | Jakarta, 11 Juni 2022/ 11 Dzul-qa'dah 1443H
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI