Seperti biasanya, saat tampil di mimbar dalam berbagai forum, wajahnya dingin dan serius, pelit senyum, dan memberi kesan kuat bahwa apapun yang disampaikan kepada publik telah dihitung secara matang. Begitulah penampilan Presiden Rusia, Vladimir Putin ketika berpidato di depan sidang gabungan bikameral parlemen Rusia, pada 1 Maret 2018, pada momentum state of the nation adresss (pidato kenegaraan).
Namun, tidak seperti 13 kali pidato yang serupa sebelumnya, pidato Putin ke-14 kali ini berisi poin yang "sesuatu banget", yang suka tidak suka, telah menggemparkan dunia. Para ahli strategis pertahanan di seluruh pojok bumi tampak seolah terdadak dengan pernyataannya:
"Rusia telah sukses menguji coba senjata nuklir baru yang memiliki kualifikasi: berjelajah jauh, tidak bisa dihadang, tak tertaklukkan dan tak terkalahkan oleh semua sistem pertahanan apapun di dunia, yang ada saat ini maupun yang akan datang..." (invincible in the face of all existing and future systems of both missile defence and air defence...).
Pernyataan itu makin sarat dengan pesan menantang dan sekaligus mengancam, dengan adanya kalimat: "Rusia akan membalas dengan keras, bila Rusia dan negara-negara sekutunya diserang".
Dan kayaknya sudah mengira akan banyak orang yang mungkin meragukan, atau berasumsi pernyataannya itu sekedar lips service. Maka Putin menegaskan, "They need to take accoount of a new reality and understand.. [this] is not a bluff (mereka perlu menghitung realitas baru ini, dan memahami bahwa ini bukan gertakan)".
Catatan:
Pertama, dalam tiga-empat tahun terkahir, Rusia telah melakukan dua aksi militer yang signifikan di luar wilayahnya: aneksasi Semenanjung Cremia (bagian dari Ukraina) pada Maret 2014. Lalu setahun kemudian, Putin melakukan intervensi militer secara penuh di Suriah untuk mendukung rezim Bashar Assad, sejak September 2015. Amerika dan sekutunya tidak bisa berbuat apa-apa terhadap dua aksi Putin itu. Hanya menonton, cenderung gigit jari melihat kebijakan Kremlin.
Kedua, sejak ambruknya tembok Berlin tahun 1989, yang diyakini sebagai simbol garis demarkasi berakhirnya era Perang Dingin, pernyataan Putin tentang rudal nuklir penakluk itu mungkin yang paling keras dan juga paling substantif dari semua rangkaian kebijakan Rusia paska Perang Dingin.
Ketiga, secara global, Putin ingin mengirim pesan kepada dunia: from now on, jangan pernah menganggap enteng Rusia. Uni Soviet yang kalah ketika Tembok Berlin diruntuhkan, berbeda dengan Rusia saat ini. Dan negara-negara tadinya ikut blok Uni Soviet lalu mengekor ke Amerika, sebenarnya telah melakukan kebijakan salah kaprah.
Putin seakan berteriak: Lihatlah, lihatlah! Di Asia (Korea Utara), di Timur Tengah (Iran dan Suriah), tiga negara itu berkomitmen menjadi sekutu strategis Rusia, dan Rusia mendukung ketiganya secara penuh. Hasilnya, semua orang tahu: tidak satu pun negara kuat di dunia yang berani mengganggu tiga negara itu.
Keempat, Ekonomi Rusia memang tidak semakmur Amerika. Tapi Putin seolah ingin mengingatkan: sudah beberapa tahun terakhir, produksi minyak mentah Rusia jauh lebih banyak dibanding Saudi Arabia. Dan harus dicatat, hampir semua negara Eropa Barat mengandalkan gas alam Rusia, agar Eropa Barat tak mati kedingingan di musim dingin.
Kelima, di bidang tekonologi nuklir, Rusia dan Amerika sebenarnya draw. Rusia tak kalah shopisticated-nya di banding kecanggihan teknologi Amerika. Di bidang teknologi informasi, Amerika boleh bangga dengan Whatsapp, Twitter, Facebook dan lainnya. Tapi Rusia juga punya Telegram.
Keenam, untuk mengutak-atik berbagai belahan bumi, Rusia kini menerapkan politik luar negeri yang bernama Maskirovka, yang fokus melancarkan perang psikologis, manipulasi media, pengelabuan infromasi, propaganda dan perang dunia maya.
Lihat artikel "Maskirovka dari Rusia" (Kompasiana 15 Nopember 2017). https://www.kompasiana.com/sabdullah/5a0c3c78fcf681357b275603/maskirovka-dari-rusia
Ketujuh, kembali ke soal senjata nuklir penakluk Rusia. Putin menjelasakannya secara sederhana begini: sebuah senjata yang mampu "...low-flying, difficult-to-spot... with a practically unlimited-range and an unpredictable flight path. Which can bypass lines of interception... could reach anywhere in the world (mampu terbang rendah, sulit dideteksi posisinya, jelajah jangkauannya tak terbatas, jalur peluncurannya tak terduga. Bisa menerobos dengan mem-bypass garis intersepsi... dan bisa menjangkau semua titik di peta bumi)". Penjelasan ini sebenarnya menyindir sistem pertahanan anti rudal Amerika (anti-ballistic missile defence), yang telah ditempatkan di beberapa negara bekas Uni Soviet. Dengan kualifikasi seperti itu, dengan dingin dan tanpa senyum, Putin memproklamirkan ini adalah senjata yang invincible (penakluk yang tak terkalahkan).
Kedelapan, respon yang muncul dari Washington Amerika, menurut saya, sejauh ini juga terkesan terdadak oleh pernyataan Putin.
Kesembilan, selama hampir tiga dasarwarsa, masyarakat dunia telah atau berasumsi telah melepaskan diri dari bayang-bayang ketegangan Perang Dingin. Namun mulai hari kemarin, 1 Maret 2018, masyarakat dunia sedang menuju era baru atau kondisi global yang belum bisa dipastikan akan seperti apa. Â Meski di sana sini telah muncul indikator atau kecenderungan untuk lebih keras dan brutal. Tapi untuk menuju ke "Perang Nuklir", saya pikir masih terlalu jauh. Namun untuk disebut "Perang Dingin", kayaknya juga sudah tak pantas lagi. Mau dibilang "Perang Panas" mungkin belum saatnya juga. Barangkali nantinya akan disebut "Perang Hangat".
Syarifuddin Abdullah | 02 Maret 2018 / 15 Jumadil-tsani 1439H
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI