Ketiga, namun kesalahan itu - jika boleh disebut sebagai kesalahan - bukan sepenuhnya di pihak Zakir Naik. Namun juga di pihak Sofi. Karena pertemuan itu adalah kuliah umum dan terbuka kepada siapa saja. Dan mengacu pada gaya bertanyanya, juga sikap ngotot-nya ketika mengajukan pertanyaan lanjutannya, saya menilai Sofi, yang berasal dari Jakarta, adalah pendukung Ahok. Namun apakah Sofi bagian dari tim Ahok, yang sengaja dikirim untuk menghadiri dan mengajukan pertanyaan provokatif itu, nah, itu yang belum jelas. Meski ada kemungkinan bahwa Sofi adalah penentang Ahok, dan dengan begitu, Sofi telah melaksanakan misinya hampir sempurna.
Dari penampilannya, gampang disimpulkan bahwa Sofi adalah seorang aktivis. Biasa presentasi proposal. Penampilannya interaktif dengan Zakir Naik, mimiknya menarik dan tidak gugup. Dari penjelasan sampingan terhadap pertanyaannya, tampak jelas bahwa Sofi menguasai materi inti pertanyaannya.
Keempat, menyebut secara tidak langsung bahwa Ahok adalah hypocrite (munafik), secara terminologi, sebenarnya Zakir Naik tidak benar juga. Sebab Ahok tidak pernah mengaku Muslim. Istilah munafik dalam Islam digunakan untuk seorang yang mengaku Muslim dan beriman, namun di dalam hatinya sesungguhnya tidak beriman. Karena itu di zaman Rasul saw, kita mengenal masjid dhirar, yang dibangun oleh seorang munafik (mengaku Muslim dan mu’min padahal sebenarnya tidak).
Kelima, bagi jajaran pendukung setia Ahok, jawaban dan komentar Zakir Naik itu tentu tidak berpengaruh sedikitpun dan nyaris mustahil mengubah dukungan mereka kepada Ahok.
Keenam, bagi penentang Ahok, jawaban Zakir Naik juga tidak berpengaruh signifikan, meskipun akan semakin memperkuat penentangan mereka. Yang pasti, materi ceramah dan jawaban Zakir Naik – yang secara tidak langsung menyinggung soal Ahok dalam Pilgub DKI 2017 – akan menjadi amunisi tambahan bagi kubu Anies-Sandi untuk memantapkan posisi elektabilitasnya dalam Pilgub DKI, 19 April 2017.
Ketujuh, bagi pemilih Muslim Jakarta yang tergolong dalam kategori undecided voters (pemilih yang belum memastikannya pilihannya), yang berjumlah cukup besar, diasumsikan akan sedikit banyak terpengaruh oleh komentar Zakir Naik. Tapi pengaruh ini sulit diukur, kecuali mungkin jika dilakukan survei khusus. Apalagi pencoblosan Pilgub DKI sisa dua pekan lagi. Dan periode dua pekan menjelang pencoblosan, pemilih umumnya sudah menentukan pilihannya. Bahkan kelompokundecided voters pun sudah memutuskan untuk tetap tidak memilih.
Kedelapan, kehadiran dan ceramah Zakir Naik di Indonesia, boleh jadi akan menjadi pola kampanye pada Pilkada-pilkada berikutnya, khususnya di putaran kedua yang tidak punya agenda kampanye, dan karena itu setiap acara yang dikemas dalam bentuk kuliah umum, bisa menjadi ajang kampanye yang sangat efektif.
Kesembilan, singkat kalimat, komentar dan jawaban Zakir Naik dalam ceramahnya yang menggunakan kata hypocrite atau munafik, bolehlah disebut satu kosong terhadap kubu Ahok. Bukan tidak mungkin, dalam dua pekan ke depan, menjelang hari pencoblosan 19 April 2017, kubu Ahok juga akan ikut-ikutan menggelar ceramah publik dengan menghadirkan tokoh lain - bila perlu dari luar negeri juga - untuk mencounter komentar Zakir Naik. Tapi, ya kalah langkah lagi.
Syarifuddin Abdullah | Senin, 03 April 2016 / 06 Rajab 1438H.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI