Kembang Arum sama sekali tidak menyahut.
"Jangan hanya diam," berkata pemuda itu pula, "jawablah walau sepatah kata, apa tujuanmu sebenarnya. Kau harus tahu bahwa kami bukan orang Manyuran. kami adalah para priyayi pelabuhan Kambang Putih yang datang ke sini karena diperlukan. Maka Manyuran harus memberikan sambutan yang sebaik-baiknya kepada kami."
Kembang Arum masih tetap mematung. Ia benar-benar sudah muak. Kini kedua tangannya telah bersilang, yang kanan memegang hulu pedangnya.
"He," pemuda yang berdiri di paling depan berseru, "apakah kau akan melawan?"
Kembang Arum tidak menjawab. Tetapi sorot matanya memancarkan kemarahan yang memuncak. Pemuda yang berjambang itu tertawa.
"Jangan nakal adik, jangan bermain-main dengan senjata. Lihatlah kami juga bersenjata. Pedangmu terlampau kecil untuk melawan golok-golok kami yang jauh lebih besar. Jangan bermain-main dengan kami."
Kembang Arum tetap tidak menjawab, hanya darahnya yang terasa kian mendidih.
"Lepaskanlah pedang itu," berkata pemuda itu.
"Cepat, buanglah senjata yang tidak akan berarti apa-pa."
Kini gadis itu telah sampai pada batas kesabarannya. Ia bertekad melawan orang-orang itu.Â
Ia belum tahu seberapa jauh kemampuan mereka, tetapi ia tetap harus melawan, membela dirinya agar tidak mengalami perlakuan yang lebih jelek daripada mati.