Mohon tunggu...
Rumah Kayu
Rumah Kayu Mohon Tunggu... Administrasi - Catatan inspiratif tentang keluarga, persahabatan dan cinta...

Ketika Daun Ilalang dan Suka Ngeblog berkolaborasi, inilah catatannya ~ catatan inspiratif tentang keluarga, persahabatan dan cinta...

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Selingkuh ala Ayam Goreng?

12 Januari 2012   04:23 Diperbarui: 25 Juni 2015   21:00 313
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
13262072631150600568

[caption id="attachment_155119" align="aligncenter" width="298" caption="gambar: wizardrecipes.com"][/caption] Senja temaram.

PASANGAN di rumahkayu mendapat kunjungan teman lama, Ra Tanca, yang kini telah menjadi pengusaha (muda). Kuti menemani Tanca ngobrol di teras, ditemani kopi pahit dan pisang goreng yang masih hangat.

Kuti dan Tanca lalu terlibat dalam 'obrolan lelaki', yakni mendiskusikan masa depan sepakbola Indonesia, mana yang akan eksis, Liga Super atau Primer, siapa yang bakal menjadi juara F1 dan MotoGP, mobil Esemka, dan topik yang menjadi favorit setiap lelaki: SEKS.

"Malam minggu kemarin aku menemani klien dari luar kota," kata Tanca. "Dia minta dicariin cewek. Aku lalu bawa dia..." kata Tanca sambil menyebut sebuah lokasi terkenal. "Cewek di sana mantap punya. Masih muda dan bening..."

"Dan kamu ikut main juga?" tanya Kuti. Sebagai teman lama Kuti tahu kalau Tanca sangat mencintai istrinya.

"Ya iyalah," balas Tanca sambil nyengir kuda. "Sekali-sekali kita perlu variasi kan? Kalau setiap hari makan ayam goreng pasti bosan... Jadi sekali-sekali kita perlu ganti dengan bebek panggang, atau masakan Jepang, atau bahkan tempe dan tahu..."

"Hmmm..." kata Kuti serius, "Sebenarnya pendapat itu keliru. Jika bosan dengan ayam goreng, jangan ganti ayamnya, tapi ganti menunya..."

Ketika melihat Tanca menyimak, Kuti melanjutkan," Memang kita akan cenderung bosan jika setiap hari menyantap ayam goreng. Karena itu menunya perlu diubah. Besok mungkin bisa coba ayam bakar. Lusa ayam panggang. Atau ayam kecap. Atau gulai ayam... Bahkan sekali-sekali kita mungkin perlu bereksperimen, dengan mencoba resep dari daerah lain, seperti 'ayam rica-rica' dari Manado..."

Tanca mengerutkan keningnya. "Ini pengandaian bukan? Dalam kehidupan sebenarnya, apa maksudnya?"

Kuti menyeruput kopi panasnya dengan nikmat. Sambil mengunyah pisang goreng dia berkata," Kehidupan seksual memang tak bisa dipungkiri memegang peranan penting dalam kehidupan berumahtangga. Dengan berlalunya waktu, bisa saja gairah seksual mendingin, dan akhirnya timbul rasa bosan. Itu wajar..."

"Karena itu," lanjut Kuti," Perlu ada variasi. Kemesraan jangan menjadi kebiasaan yang terprogram. Jadi kalau foreplay jangan hanya cium bibir lalu leher lalu dada... Perlu ada variasi, misalnya mencium pasangan dari jempol kaki, lalu betis lalu paha...."

Melihat Tanca seperti terpesona, Kuti dengan lagak seorang dosen melanjutkan," Suasana juga harus diubah. Misalnya dengan merubah tirai kamar, atau ranjang yang biasanya ditaruh mengarah utara-selatan dirubah menjadi timur-barat. Atau, jika memungkinkan, jika pembantu dan si kecil sudah tidur, kita bercinta di dapur. Atau di ruang tamu. Atau dalam mobil di garasi..."

"Atau," kata Kuti dengan mata berbinar nakal, " Seperti yang baru saja kami lakukan. Kita camping di halaman. Pasang dua tenda, satu untuk si kecil dan satu untuk kita. Bercinta di tenda, yang hanya beralaskan tikar dan diterangi lentera, sensasinya ruarrr biasa...."

"Hmmm... benar juga," kata Tanca "Jadi keliru ya kalau kita mencari variasi dengan 'daging' yang lain?"

Kuti mengangguk. "Dalam konteks pernikahan, itu gak boleh. Karena jika keblabasan, jika terlalu sering berganti 'daging', bisa-bisa kita divonis 'dokter' dan menjadi 'vegetarian'. Bisa gawat. Jadi sekali lagi, jika bosan dengan ayam goreng, bukan ayamnya yang diganti namun menunya yang diubah...."

Dan... Tiba-tiba Dee muncul. Rambutnya basah, pertanda dia baru saja mandi. Wajahnya cerah. "Aku kok seperti mendengar pembicaraan tentang ayam goreng ya?" kata Dee kenes.

Kuti dan Tanca saling pandang. Canggung. Biar bagaimanapun, mereka selalu merasa tak nyaman jika topik 'pembicaraan lelaki' diketahui perempuan.

"Mmmm... Begini... Tanca mau ngajak kita makan ayam goreng. Aku menolak namun dia memaksa..." kata Kuti sekenanya.

"Wah? Ayam goreng? Mau dong... Traktirnya di **** atau di *****?" Dee melonjak girang sambil menyebut nama dua lokasi tempat makan ayam goreng yang terkenal kelezatannya.

"Ehh... " Tanca tergagap. "Di mana aja boleh. Gak masalah," katanya sambil melirik Kuti dengan sengit. "Kalau begitu aku ganti baju dulu ya? Si kecil juga dibawa ya?" Tanpa menanti jawaban Dee masuk.

"Uhh... kamu ini masih gak berubah," sembur Tanca kesal. "Dalam kesempitan selalu saja mencari kesempatan..."

"Ini bukan kesempatan," balas Kuti, "Tapi mencari variasi. Kalau setiap hari makan di rumah pasti bosan. Sekali-kali perlu juga jajan di luar kan?"

Dan kedua sahabat itu tertawa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun