Mohon tunggu...
Rully Novrianto
Rully Novrianto Mohon Tunggu... Lainnya - A Man (XY) and A Mind Besides Itself

Kunjungi juga blog pribadi saya di www.rullyn.net

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Antre dari Subuh demi Sebuah Boneka

17 September 2024   09:27 Diperbarui: 17 September 2024   09:39 48
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
instagram.com/auth_n25/

Akhir-akhir ini boneka Labubu lagi jadi primadona, terutama di kalangan kolektor. Bukan cuma di media sosial, tapi di dunia nyata juga.

Coba deh lihat antrean yang sampai mengular di mal Gandaria City beberapa hari lalu. Orang-orang rela menunggu berjam-jam dari subuh hanya demi bisa bawa pulang Labubu yang dijual di gerai Pop Mart. Tak sedikit pula yang kecewa karena kehabisan stok. 

Nah, yang bikin saya heran adalah kenapa banyak orang rela antre panjang demi boneka yang kemungkinan besar sebentar lagi bakal lebih banyak dijual di mana-mana? Apa ini cuma sekadar FOMO (Fear of Missing Out) atau ada validasi sosial yang sedang mereka cari?

Kenapa Labubu Tiba-Tiba Hype?

Popularitas boneka Labubu tidak bisa dipisahkan dari Lisa Blackpink. Jadi ceritanya, Lisa sempat mengunggah foto dirinya dengan Labubu di akun Instagram-nya. Dari situ, tiba-tiba semua orang jadi pengen punya boneka ini.

Padahal karakter Labubu sebenarnya sudah ada sejak 2015, lho. Kasing Lung adalah otak di balik karakter unik ini yang terinspirasi dari monster dalam mitologi Nordic.

Jadi apakah Labubu viral karena karya seni yang memang keren atau hanya karena dipopulerkan oleh Lisa?  Kayaknya sih lebih ke efek Lisa, ya. Saya tidak bilang bonekanya jelek, tapi kok rasanya popularitasnya naik secara instan setelah foto itu muncul.

Harganya kok Bisa Mahal?

Kalo ngomongin harganya, boneka Labubu dijual di kisaran Rp300 ribu sampai Rp1,5 juta di Pop Mart. Lumayan, kan? Bagi para kolektor, harga segitu mungkin masuk akal. Tapi bagi  yang cuma ingin punya buat seru-seruan, harus dipikir-pikir juga. Apalagi, kalau cuma mau ikutan tren doang.

Yang bikin penasaran, apakah boneka ini memang sepadan dengan harganya atau harga ini naik drastis gara-gara FOMO? Soalnya banyak barang yang tiba-tiba jadi mahal cuma karena orang berlomba-lomba beli tanpa memikirkan apakah itu benar-benar layak dimiliki atau tidak.

Apa sih yang Kamu Kejar?

Saya jadi mikir, apa sih yang sebenarnya dikejar sama orang-orang yang rela antre berjam-jam? Rasanya ini lebih karena takut ketinggalan tren, bukan karena mereka benar-benar menginginkan Labubu.

Dalam dunia yang serba cepat ini, banyak orang merasa harus ikut dalam setiap tren biar dianggap "up to date." Padahal kalau dipikir-pikir, barang ini juga bakal ada lagi di pasaran dengan jumlah lebih banyak. Jadi kenapa harus segitu ngototnya?

Tapi ya, itulah FOMO. Orang cenderung merasa gelisah kalau mereka tidak punya barang yang lagi hype. Sadar atau tidak, ini jadi semacam validasi sosial. "Gue punya nih, lo udah punya belum?"

Di era digital, kita sering kali lupa bahwa mengikuti tren tak selalu perlu. Toh, apa sih untungnya kalau kita punya barang yang sebenarnya belum tentu kita butuhkan?

Penciptanya atau Selebritinya?

Kalau mau mau memberikan acungan jempol, Kasing Lung sebagai pencipta Labubu patut diacungi jempol. Dari sudut pandang seni, karakter Labubu yang terinspirasi monster mitologi Nordic ini memang punya daya tarik tersendiri. Namun apakah popularitasnya di Indonesia lebih karena keunikan desainnya, atau justru karena faktor selebriti yang mempromosikan?

Kayaknya sih yang kedua. Karena jujur saja, tak banyak yang tahu tentang karya Kasing Lung sebelum Lisa Blackpink "mengenalkan" Labubu ke dunia. Jadi, apakah ini lebih tentang karyanya atau selebriti yang pegang karyanya?

Layakkah Antre Demi Sebuah Produk Viral?

Pada akhirnya tren seperti ini akan datang dan pergi. Hari ini orang-orang sibuk antre buat Labubu, besok mungkin boneka lain yang jadi viral. Itu sudah bagian dari siklus tren yang terus berubah.

Tapi yang perlu kita tanyakan ke diri sendiri, apakah benar-benar layak buat menghabiskan waktu, uang, dan tenaga demi barang yang nantinya bakal lebih mudah didapat? Atau ini cuma soal kepuasan sesaat buat mengejar validasi sosial?

Buat saya, tren ini lebih ke FOMO. Orang-orang takut ketinggalan, padahal sebenarnya mereka bisa sabar dan menunggu stok baru datang tanpa harus terjebak di antrean panjang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun