Data yang dikeluarkan oleh WhatsApp menunjukkan bahwa platform ini setiap bulannya memblokir 2 juta akun setiap bulannya.
Di tahun 2020 saja WhatsApp melaporkan lebih dari 300 ribu foto yang diedarkan pengguna yang terkait dengan ekspoitasi anak termasuk eksploitasi sexual.
Pertanyaannya bagaimana WhatsApp mengetahui hal ini tanpa dapat melihat pesan pengguna?
WhatsApp ternyata mendapatkan informasi konten illegal dan misinformasi ini dari laporan penerima pesan dan juga dari analisa mesin yang mengolah dara yang tidak terenkripsi  seperti masifnya pesan yang disebarkan dan banyaknya anggota yang tergabung pada grup.
Pesan yang telah diteruskan berkali-kali sebelumnya juga sekarang diberi tanda dan ada pembatasan  berapa banyak orang yang dapat berbagi pesan yang sama dengan satu pengguna.
Jadi dalam kebijakan barunya WhatsApp tetap saja menggunakan enkripsi ujung ke ujung, yang berarti bahwa pesan yang kita kirim hanya dapat dibaca di perangkat pengirim dan perangkat penerima saja.
Dengan kebijakan ini harus kita fahami bahwa perusahaan induk WhatsApp  yaitu Facebook sekalipun tidak dapat melihat dan mencegat pesan yang dikirimkan oleh pengguna termasuk juga penegak hukum.
Jadi sebenarnya ketidak harmonisan antara WhatsApp dan penggunanya akibat perubahan syarat dan kententuan yang berlaku tidak harus terjadi jika pengguna memahami apa sebenarnya dasar perubahan kebijakan ini dan apa dampaknya bagi pengguna.
Kita semua mengetahui betapa mudahnya pengguna menyebarkan informasi yang tergolong menyesatkan dan memfitnah dengan sangat mudahnya tanpa menganalisa apakah berita  yang disebarkan itu merupakan kenyataan atau Hoax.
Pengguna ada yang tidak menyadari betapa buruknya dampak dari gampangnya menyebarkan berita ini yang berkontribusi pada kekacauan yang terjadi dimasyarakat akibat firnah yang bertebaran.
Namun juga tidak dapat disangkal bahwa ada pihak pihak tertentu yang sengaja menggunakan WhatsApp untuk menimbulkan ketidak senangan pada pihak pihak tertentu.