Rupanya tindakan balasan Tiongkok ini bukanlah satu satunya palu godasm yang menghantam perekonomian Australia karena segera setelah tindakan balasan  kebijakan ekonomi ini Australia diserang secara maya melalui  Cyber attack  dalam skala sangat luas.Â
Cyber attack yang memberikan dampak besar pada perputaran perekonomian Australia ini memang sempat mengguncang dan melumpuhkan sebagian sektor bisnis di Australia.
Di lapangan Cyber attack ini skalanya semakin meluas menyerang sektor pemerintahan, kesehatan infrasttruktur, bisnis dan sektor vital lainnya yang intensitasnya semakin meningkat di tengah tengah pandemi ini sudah berdampak luas pada perekonomian Australia.
Terkait dengan cyber attack ini,  Australia walaupun tidak secara terbuka namun sangat kental bernausa tuduhan  bahwa pemerintah Tiongkok lah yang berada di belakang cyber attack ini.  Ibarat menyiramkan minyak ke api, hubungan kedua negara semakin panas karena Australia sampai sekarang belum memiliki bukti yang menyakinkan bahwa pemerintah Tiongkoklah yang berada di belakang cyber attack ini.
Serangan cyber attack dalam skala luas dan mampu melumpuhkan multi sektor ini memang tidak mudah dilakukan dan hanya negara tertentu saja yang memiliki kemampuan seperti ini. Beberapa negara yang memiliki kemampuan seperti ini adalah Tiongkok, Amerika, Inggris dan Rusia.  Namun Korea Utara dan Iran juga memliki kemampuan melakukan serangan dalam skala besar juga.
Menurut The Australian Cyber Security Centre (ACSC),  cyber attack yang melanda Autralia mirip dengan serangan yang terjadi di bulan Mei 2019 lalu. Setelah dianalisa pola  dan skala serangannya yang berhasil melumpuhkan sistem di berbagai sektor di Australia ini ternyata masih menggunakan cara klasik. Namun mengingat skalanya sangat besar maka ada kemungkinan serangan ini dikooordinasikan oleh suatu organisasi atau negara tertentu.
Cyber attack memang sulit untuk dilayak, namun dapat dilacak melalui jejak yang dinamakan fingerprint penyerangnya. Fingerprint dapat ditentukan berdasarkan teknik yang digunakan dan pola serangan dan juga melalui penyelidikan inletejen.
Walaupun sudah diketahui fingerprint nya tidak otomatis dapat mengetahui organisasi dan negara mana yang berada dibalik serangan ini karena kecanggihan hacker dalam menghilangkan dan mengalihkan jejaknya.
Penggunaan jenis Malware dalam cyber attack  menurut pakar memang mampu mengarahkan pada negara mana yang berada di belakang  serangan ini. Demikian juga walaupun misalnya hasil investigasi berhasil mengindentifikasi individu yang melakukan serangan, namun invidu tersebut dengan keahliannya dapat saja mengesankan bahwa serangan tersebut dilakukan oleh orang lain.
Jadi memang sangat masuk akal jika  Australia walaupun mengetahui pola serangannya dan berdasarkan analisa ketegangan kedua negara ini sebelumnya, namun tidak berani secara tebuka menyatakan bahwa Tiongkok lah yang berada dibalik serangan ini karena peliknya melavcar pelaku cyber attack ini.
Hubungan Australia dengan Tiongkok dan juga dengan negara di Asia termasuk Indonesia memang tidak pernah mulus dan seringkali diwarnai ketegangan.