Suasana memang mulai menghangat menjelang pemilihan Gubernur DKI yang oleh sebagian kalangan dianggap sebagai cermin pemilu presiden nanti.
Saya tidak akan membahas ketiga calon yang akan bertarung dalam pemilu DKI ini namun lebih menyoroti tingkah laku pemilih yang akan berpartisipasi dalam pesta demokrasi ini yang akan menentukan siapa yang akan memimpin DKI Jakarta.
Pemilih pada pemilu DKI Jakarta memang sangat unik karena karakteristik pemilihnya yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan wilayah lainnya dengan karakteristik tingkat rasionalitasnya yang lebih menonjol.
Pertanyaan yang paling mendasar yang muncul dan akan sangat menentukan ke mana arah pemilih menentukan pilihannya adalah faktor dominan apa saja yang memengaruhinya? Menurut teori psikologi tingkah laku pemilih ada beberapa faktor yang dominan yang mempengaruhi dan menentukan pilihannya.
Faktor dominan tersebut meliputi: media, status dan kelas sosial, pimpinan partai, umur, pendidikan, agama, etnis, gender, wilayah asal usul pemilih dan yang terakhir adalah hasil pooling.
Faktor dominan inilah yang diperkirakan akan membuat pemilu DKI menjadi sangat menarik mengingat tampaknya semua faktor dominan ini akan berperan dan berinteraksi dalam menentukan siapa yang bakal keluar sebagai pemenangnya.
Di samping faktor dominan di atas, hasil pemilu DKI juga akan ditentukan oleh faktor “protest voting” dan “tactical voting”. Kedua faktor ini walaupun persentase kecil, namun dapat berkontribusi besar dalam menentukan siapa yang akan keluar sebagai pemenangnya.
Protest voting biasanya persentasinya kecil dengan menggunakan pemilu sebagi wahana protesnya. Biasanya protest voting ini mengalihkan pilihannya dari kandidat yang kebijakannya tidak disukainya ke calon lain.
Sedangkan tactical voting memiliki ciri khas dimana pemilihnya tidak memilih partainya namun memilih partai lain dengan tujuan mengeliminasi partai yang paling tidak disukainya.
Peran media memang sangat penting dalam mempengaruhi pemilih menentukan pilihannya. Ada tiga strategi utama dari media dalam mempengaruhi preferensi pemilih, yaitu (1) menggiring berita dan opini kepada isu isu tertentu, misalnya penggusuran dan kesejahteraan, (2) media juga memiliki kemampuan untuk tidak memfokuskan kepada berita dan topik tertentu, (3) media juga dapat secara langsung memengaruhi pemilih dengan terus menerus membuat berita yang bias.
Dua hal lain yang diperkirakan cukup dominan dalam mempengaruhi pemilih menentukan pilihannya adalah kelas sosial dan pendidikan yang menjadi ciri khas pemilih di DKI Jakarta. Kelas sosial yang berbeda mungkin saja menghasilkan pilhan yang berbeda juga karena karyawan kantoran dan buruh belum tentu memiliki rasionalitas yang sama terhadap salah satu kandidat.
Demikian juga pemilih pemula yang masih menduduki bangku sekolah karakteristik pilihannya akan sangat berbeda dengan pemilih yang memiliki pengalaman dan pendidikan yang lebih tinggi.
Peran pimpinan partai dalam menentukan tingkah laku pemilih dalam menentukan pilihannya tampaknya sudah dapat dibaca oleh para partai yang mendukung 3 pasangan kandidat.
Hal ini terlihat dengan sangat jelas ketika pimpinan tertinggi partai turun langsung dalam ajang pemilu DKI ini. Menang tidak dapat dipungkiri dari berbagai faktor dominan yang telah dijelaskan di atas, bagi kelompok pemilih tertentu, pimpinan partai akan sangat menentukan kemana arah pilihannya.
Seperti yang dikemukakan pada awal tulisan ini fakor etnis dan agama berperan dalam menentukan pilihan seorang pemilih. Kedua faktor ini tidak akan berdiri sendiri, namun akan berinteraksi dengan faktor dominan lainnya.
Seberapa besar pengaruh kedua faktor ini akan sangat ditentukan oleh faktor dominan lainnya, karena masyarakat DKI Jakarta yang lebih heterogen dalam berbagai hal jika dibandingkan dengan wilayah lainnya di Indonesia.
Bagi mesin partai ataupun pendukung fanatik salah satu kandidat jelas sekali hasil pooling bukanlah satu satunya fokus pekerjaan berat yang harus digarap dalam memenangkan kandidatnya.
Kurang dipahaminya faktor faktor dominan yang menentukan pilihan pemilih dan juga interaksi antar faktor dominan ini bisa jadi akan membuat sakit jantung dan teperangah melihat hasil akhirnya, karena tidak dapat dipungkiri lagi bahwa karakteristik pemilih di DKI Jakarta memang unik.
Rujukan :satu, dua, tiga, empat,lima
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H