Saat ini mengutip Reuters, pelaku pasar masih agak tenang. Dengan kenyataan bahwa tarif yang diwacanakan AS dan China belum akan berlaku dalam waktu dekat. Masih ada waktu untuk melakukan negosiasi. Tetapi bukan berarti tidak terjadi.
Selain itu, tarif yang dicanangkan Trump lebih ke arah produk berteknologi tinggi. Bukan seperti yang dikhawatirkan yaitu produk dasar seperti baju, sepatu dan lainnya. Dimana untuk produk seperti ini banyak perusahaan ritel AS mengandalkan China sebagai pabrik mereka.
Bahkan seorang pengelola dana investasi mengatakan bahwa dalam perang dagang gertakan Trump lebih garang dibanding kenyataannya.
Pernyataan Gedung Putih (AS) yang diwakili oleh Direktur Dewan Ekonomi Nasional, Larry Kudlow sedikit menenangkan.
"Remember, none of the tariffs have been put in place yet. These are all proposals,"Kata Kudlow dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg "We're putting it out for comment. There's at least two months before any actions are taken. China by the way did not enact the tariffs."
Jika diterjemahkan "Harus diingat bahwa semua tarif impor ini masih merupakan proposal. Belum ada yang berlaku. Kami melakukan uji publik. Sedikitnya masih ada dua bulan sebelum tarif diberlakukan. China juga belum memberlakukan tarif mereka.
Duta Besar China untuk Amerika Serikat mengatakan "Negosiasi tetap menjadi prioritas, tetapi harus diingat bahwa negosiasi harus tetap melibatkan dua pihak". "Kami tetap mempriorotaskan konsultasi dan negosiasi tetapi jika pihak lain (AS) memberikan sinyal yang tidak baik. Kami (China) siap membalas.
Ternyata tidak semudah itu untuk menggertak China.
Melihat perkembangan sekarang ditambah dengan informasi bahwa AS sudah mengajukan permohonan konsultasi dengan China melalui WTO pada tanggal 23 Maret 2018.
Perang dagang kemungkinan masih bisa dihindari dengan catatan, negosiasi berlangsung mulus dan kedua belah pihak bisa mencapai kesepakatan. Risiko gagalnya negosiasi ini tetap ada yang berarti kemungkinan perang dagang skala penuh tetap bisa terjadi.
Referensi : Â Reuters