Mohon tunggu...
Sri Romdhoni Warta Kuncoro
Sri Romdhoni Warta Kuncoro Mohon Tunggu... Buruh - Pendoa

• Manusia Indonesia. • Penyuka bubur kacang ijo dengan santan kental serta roti bakar isi coklat kacang. • Gemar bersepeda dan naik motor menjelajahi lekuk bumi guna menikmati lukisan Tuhan.

Selanjutnya

Tutup

Trip Pilihan

Pelesiran di Bendungan Candi Muncar Girimarto

20 Juni 2018   22:24 Diperbarui: 20 Juni 2018   22:34 2164
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Melewati aliran air yang begitu jernih merupakan keniscayaan, karena memang itulah jalurnya. Disinilah saya dipaksa berhenti 6 kali. Yang terakhir nafas makin mengkis-mengkis keringat bercucuran. 

Mungkin faktor usia berpengaruh. Duduk dengan tumpangan batu sambil membasuh muka sambil memainkan air. Kecipak-kecipuk... Segarnya.....  Cukup lama waktu yang saya ambil untuk menstabilkan ritme nafas. 

Setelah cukup, kembali ayunan kaki dihidupkan. Gemericik air-bahkan deru arus deras-menjadi backsound perjalanan saya-dan pengunjung-dengan ditambah bebunyian serangga atau kicauan burung. Benar-benar keren. 

Sayangnya, vandalisme sudah menjajah tempat ini. Beberapa coretan dibebatuan terpampang terang. Juga sampah kemasan berserak dibeberapa tempat. Kesadaran pengunjung belum terbentuk. Rasa cinta lingkungan masih menempati level terendah.

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi
Di sebuah jalur, saya berhenti, begitupun yang lain. Dinding batu hitam teraliri air setinggi-kira-kira 3 meter tampil dihadapan menggerojok deras. Inikah air terjun Muncar?

Seutas tali tambang plastik berwarna biru menjuntai dari atas. Tiba-tiba muncul 4 lelaki muda turun pelan-pelan disisi sebelah kiri. Saya heran, naiknya lewat mana? Melihat cara turunnya saja membuat saya ketir-ketir.

"Air terjunnya masih diatas ya?"

"Iya mas"

"Bagus mas?"

"Saya belum sampai kesana"

"Lho? Masnya tadikan sudah diatas?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun