Jum'at ini, kembali rutinitasku seperti biasa, pagi menyiapkan sarapan untuk keluarga. Kemudian menyiapkan pakaian anak-anak yang akan berangkat kesekolah dan menyiapkan bekal buat si kecil yang baru kelas dua Sekolah Dasar.Â
Alhamdulillah semua terlaksana dan hatiku merasa puas. Setelah urusan anak-anak beres berlanjut ke bayi besar, ya suamiku tercinta yang tak mau ketinggalan juga seperti iri dengan buah hatinya. Manjanya itu melebihi anak bungsuku.Â
Semua itu terkadang membuat rasa jengkel, tapi bahagia rasa di hati, dengan kemanjaannya membuktikan bahwa tak ada wanita lain di hatinya. Di tahun 2011 aku diberi anugerah tak terhingga oleh Allah Subhanallahu Wataala karena dinyatakan hamil.Â
Semenjak suami dan anak-anak tahu bahwa aku hamil, mereka memperlakukanku sangat berlebihan, maklum aku hamil di usia yang tidak muda lagi kepala empat, termasuk resiko tinggi bagi kehamilan diusia lanjut. Namun dokter berkata bahwa kehamilanku sehat baik ibu maupun jabang bayinya, Dan ketika tahu jenis kelaminnya "Baby boy", tambah sayangnya mereka kepadaku.Â
Maklum anak-anakku sudah besar yang sulung berusia 20 tahun, yang kedua kelas 2 SMA, dan yang ke tiga kelas 5 SD, semuanya perempuan, dengan jarak lima tahun sedangkan ke bungsu sebelas tahun.
 "Mah, jum'at ini Papah sholat di Kantor aja, " katanya kepadaku sambil meluk aku dari belakang, kan manjanya lagi rutukku dalam hati.Â
"Kenapa Pah, kan biasanya di Masjid deket rumah" "Hari ini Papah mau ketemu client, tentang progress proyek di Cilegon" katanya, masih mengusek-usek dileherku membuat aku berjengit karena geli.Â
" Ya sudah Mamah siapin baju koko nya dulu," ga usah bawa bekal ya Pah," kataku sambil melepas tangannya dari pelukan.Â
Setelah selesai menyiapkan baju koko, aku melanjutkan tugasku di dapur membereskan sisa makan di meja makan. Hampir semua beres dan kulihat suamiku sedang menurunkan anak tangga, tanpa sadar aku merasakan kekagumanku,
"ah suamiku walau umur sudah kepala lima tapi masih terlihat gagah", bisikku dalam hati.Â
" hayyo.. lagi mikirin apa, kenapa mamah ngeliatin Papah kaya gitu." Tanyanya kepadaku.Â
Aku tersipu malu wajahku pun merona seketika, ketahuan sedang melihat suamiku sambil terkesima. "Papah kelihatan beda, wangi lagi, kaya mau ketemu siapa aja", tanyaku penuh selidik.Â
" Inikan hari Jum'at sayaanag, Sunnah Rosul kalau mau ke Masjid harus wangi dan rapih."Â
Aah Papah masih manggil aku sayang, jadi seperti merasa baru nikah aja, hal itu yang aku cintai dari suamiku dalam keadaan apapun panggilan sayang tak pernah tertinggal walau kami sedang marahan kata sayang itu tak pernah tidak diucapkan padaku dari suamiku.Â
" Papah berangkat dulu ya, Mah", sambil mencium dahiku, dan akupun mengambil tangannya kucium bolak balik punggung tangannya, untuk minta ridho dari papah.Â
" Hati-hati ya  pah, jangan ngebut bawa mobilnya". Pesanku pada papah.
 Setelah mengantar sampai pintu gerbang dan menutup pintu gerbang akupun berdoa dalam hati, meminta keselamatan dan penjagaan untuk suamiku dan anak-anak tercinta.Â
Dan aku kembali dengan aktivitas dirumah sebelum aku berangkat ke sekolah. Tiba-tiba gawaiku berdering ada telepon masuk ketika kulihat ternyata bapak pengawas akan mengunjungi sekolahku pukul 9.30 wib.Â
Akupun segera pergi kekamar untuk mengganti bajuku dengan baju Kedinasan. Tepat pukul 08.00 aku tiba di sekolah, segera aku rapihkan ruang tamu  dan menyiapkan air gelas biar tidak repot manggil OB untuk siapkan air. Tak  lupa mempersiapkan buku tamu kedinasan, entah apa yang akan disidak oleh bapak pengawas . Setelah selesai pertemuan dengan bapak pengawas, akupun kembali ke rumah, karena jarak sekolah dengan rumah hanya tinggal menyebrang saja.
 Aku kembali mengganti baju kebesaranku di rumah yang adem di badanku dan enak  dipandang  tidak merusak mata, hehehe. Karena sudah tidak ada kerjaan lagi setelah melaksanakan kewajibanku sebagai muslimah, aku membuka gawaiku dan aku lihat chatingan teman-teman di group.Â
Ketika buka Facebook di wallku keluar kenangan ketika aku mengapload foto pernikahanku. Ternyata sudah Duapuluh tujuh tahun aku mengarungi bahtera rumahtangga ini.Â
Dan selama ini hampir tidak ada perselingkuhan diantara kita. Bukan berarti berselingkuh dengan wanita atau pria, perselingkuhan bisa juga tidak adanya keterbukaan dalam rumah tangga baik terhadap keluarga suami maupun keluargaku, semua saling terbuka.
 Kembali kuingat ketika aku bertengkar hebat dengan suamiku di saat aku merintis karir di bidang pendidikan, sekitar tahun 2012. Saat itu aku tidak menyadari kesalahanku, kurangnya perhatian yang aku berikan kepadanya karena aku sibuk dengan kuliah S1.Â
Dan saat itu suamiku sedang merasakan sakitnya kembali setelah lima tahun penyakit itu dinyatakan sembuh. Ya suamiku pernah di vonis batu empedu oleh dokter. Dengan berobat teratur di barengi dengan pengobatan alternative akhirnya dokter manyatakan bahwa batu empedu sudah tidak terlihat lagi, asalkan suamiku mematuhi pantangannya.Â
Ternyata setelah lima tahun penyakit itu dirasakan lagi, untuk menutupinya papah  tidak pernah bilang apa yang dirasakannya. Mungkin dia  tidak mau mengganggu kuliahku. Tapi yang aku rasakan malah merasa tidak diperdulikan, sehingga menyulut emosiku, sehingga pertengkaran tak dapat dihindarkan.Â
"Mamah cape pah, pulang kuliah malam, belum tugas kuliah semakin banyak," keluhku sambil tak bisa menahan tangisku.Â
Papah hanya diam tidak mau meghiraukan tangisku, dan menjawab,
 " Papah harus gimana , Mah?, kan yang mau kuliah mamah," katanya padaku.
 " Tapi papah juga kan yang mendorong mamah harus maju," tak mau kalah menjawab setiap perkataanku. "Ya, udah dari pada papah menyesal, mamah lebih baik pergi! !. Sambil masuk kamar mencari koper, dan kubereskan baju-bajuku, papah masuk kamar,Â
"Mah, biarin papah aja yang pergi, mamah tetap dirumah sambil urus anak dan sekolahan" katanya, koperkupun diambil baju-baju ditaro lagi di lemari. Aku tambah emosi dan tanpa sadar berteriak, saat itulah anak-anakku masuk, dan melerai kami, dengan tangisan yang membuat kami sadar, bahwa masih ada anak-anak yang harus kami sayangi.Â
Dengan rasa sesak di dada aku pun merebahkan badanku dikasur, kutumpahkan air mataku di bantal agar tangisku tidak didengar anak-anak. Sambil merenung berfikir akan kesalahan sendiri, karena keegoisanku.Â
Sampai aku tidak mendengar apa-apa lagi karena aku tertidur akibat lelah tangisku. Siang aku terbangun kulihat jam dinding pukul 14.30 wib, ah aku belum menunaikan kewajiban dzuhur, dan tak ada yang berani membangunkanku. Akupun bersujud walau sudah dipenghujung waktu, dan bermunajat memohon dilapangkan hati ini, diberikan kelembutan dan ampunan dosa karena telah menyalahkan suamiku atas rasa lelahku.
 Perutku juga sudah bermain musik, kulangkahkan kakiku ke meja makan dan kusingkap tudung nasi kulihat ada makanan kesukaanku, pecak gurame. Pasti papah yang pesan, walau tidak berselera aku tetap makan karena perutku terasa lapar. Saat aku makan anakku yang pertama menghampiriku,
 " Mah, kenapa sih kok mamah ribut sama papah? Aku ga pernah loh liat mamah semarah ini sama papah?" Tanya Lia kepadaku.Â
" Mamah cape sayaang, tapi sepertinya papah ga peduli dan sayang lagi sama mamah" jawabku.Â
" Mamah salah, Â kata Lia, Papah itu lagi sakit mah", kemaren aku yang anter papah ke dokter," kata Lia menjelaskan kenapa papah seharian hanya diam. Mendengar penjelasan Lia anakku, timbul rasa bersalah pada papah, dan akupun beranjak kekamar Lia karena kulihat suamiku tidur di kamar anakku.Â
" Pah, Maafin mamah ya, mamah ga tau kalau papah sakit, mamah egois pah," sambil nangis kupeluk papah yang sedang berbaring.Â
" Sudah mah, papah sudah maafin mamah," sambil mengusap-usap kepalaku, ada sesuatu berdesir di dadaku rasa penyesalan. Dan aku pun berjanji untuk terus memperhatikan papah selama hidupku.  Aku  akan mencari kampus yang tidak menyita waktu dan tugasku sebagai istri, ibu dari anak-anakku, sampai akhirnya S1 kuperoleh.Â
Sejak pertengkaran itu dan kembali aku rutin mengantar dan menemani suamiku berobat, dan Alhamdulillah kali ini dokter menyatakan batu empedu papah sudah bersih. Papah kembali ceria dan romantis seperti baru menikah, sampai akhirnya aku diberikan anak laki-laki yang tampan dan sekarang sudah sekolah .Â
Renunganku pun terhenti ternyata sang pangeran nan gagah perkasa sudah pulang, dan mencium pipiku tiba-tiba.Â
"Ngelamun lagi ya", Tanya papah padaku.Â
Akupun tersenyum, dan mengambil tangannya untuk kucium bolak balik, sambil berdoa" Ya Allah...satukan kami sampai JannahMu".
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI