Kembali kuingat ketika aku bertengkar hebat dengan suamiku di saat aku merintis karir di bidang pendidikan, sekitar tahun 2012. Saat itu aku tidak menyadari kesalahanku, kurangnya perhatian yang aku berikan kepadanya karena aku sibuk dengan kuliah S1.Â
Dan saat itu suamiku sedang merasakan sakitnya kembali setelah lima tahun penyakit itu dinyatakan sembuh. Ya suamiku pernah di vonis batu empedu oleh dokter. Dengan berobat teratur di barengi dengan pengobatan alternative akhirnya dokter manyatakan bahwa batu empedu sudah tidak terlihat lagi, asalkan suamiku mematuhi pantangannya.Â
Ternyata setelah lima tahun penyakit itu dirasakan lagi, untuk menutupinya papah  tidak pernah bilang apa yang dirasakannya. Mungkin dia  tidak mau mengganggu kuliahku. Tapi yang aku rasakan malah merasa tidak diperdulikan, sehingga menyulut emosiku, sehingga pertengkaran tak dapat dihindarkan.Â
"Mamah cape pah, pulang kuliah malam, belum tugas kuliah semakin banyak," keluhku sambil tak bisa menahan tangisku.Â
Papah hanya diam tidak mau meghiraukan tangisku, dan menjawab,
 " Papah harus gimana , Mah?, kan yang mau kuliah mamah," katanya padaku.
 " Tapi papah juga kan yang mendorong mamah harus maju," tak mau kalah menjawab setiap perkataanku. "Ya, udah dari pada papah menyesal, mamah lebih baik pergi! !. Sambil masuk kamar mencari koper, dan kubereskan baju-bajuku, papah masuk kamar,Â
"Mah, biarin papah aja yang pergi, mamah tetap dirumah sambil urus anak dan sekolahan" katanya, koperkupun diambil baju-baju ditaro lagi di lemari. Aku tambah emosi dan tanpa sadar berteriak, saat itulah anak-anakku masuk, dan melerai kami, dengan tangisan yang membuat kami sadar, bahwa masih ada anak-anak yang harus kami sayangi.Â
Dengan rasa sesak di dada aku pun merebahkan badanku dikasur, kutumpahkan air mataku di bantal agar tangisku tidak didengar anak-anak. Sambil merenung berfikir akan kesalahan sendiri, karena keegoisanku.Â
Sampai aku tidak mendengar apa-apa lagi karena aku tertidur akibat lelah tangisku. Siang aku terbangun kulihat jam dinding pukul 14.30 wib, ah aku belum menunaikan kewajiban dzuhur, dan tak ada yang berani membangunkanku. Akupun bersujud walau sudah dipenghujung waktu, dan bermunajat memohon dilapangkan hati ini, diberikan kelembutan dan ampunan dosa karena telah menyalahkan suamiku atas rasa lelahku.
 Perutku juga sudah bermain musik, kulangkahkan kakiku ke meja makan dan kusingkap tudung nasi kulihat ada makanan kesukaanku, pecak gurame. Pasti papah yang pesan, walau tidak berselera aku tetap makan karena perutku terasa lapar. Saat aku makan anakku yang pertama menghampiriku,