Mohon tunggu...
Rizki Kurniawati
Rizki Kurniawati Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga - 21107030061

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Yogyakarta

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Hari Perempuan Internasional 2022, #BreakTheBias: Kesetaraan Tanpa Bias Gender

8 Maret 2022   06:32 Diperbarui: 8 Maret 2022   06:36 406
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gambar: masagipedia.com

Setidaknya ada 6 perempuan hebat dan menginspirasi, seperti I Gusti Ayu Bintang Darmawati (Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak), Ida Fauzia (Menteri Ketenagakerjaan), Retno Marsudi (Menteri Luar Negeri perempuan pertama di Indonesia), Siti Nurbaya Bakar (Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan), Sri Mulyani (Menteri Keuangan), dan Tri Rismaharini (Menteri Sosial). 

Selanjutnya, perempuan dianggap tidak perlu memiliki pendidikan yang setingi-tingginya. "Buat apa sih perempuan sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya menjadi ibu rumah tangga? 

Sering kali kita mendengar pertanyaan tersebut. Lantas mengapa perempuan jika perempuan memilih untuk sekolah setinggi-tingginya? Bukankah menuntut ilmu adalah hak semua orang tanpa memandang gender? Justru seorang perempuan harus cerdas karena ia akan menjadi ibu yang kelak juga akan menjadi guru pertama bagi anaknya. 

Dengan ilmu yang tinggi itulah anak juga menjadi cerdas karena didikan ibunya juga. Perempuan yang memiliki pendidikan tinggi tidak akan menghilangkan kodratnya, tetapi justru akan mengupayakan kehidupan yang lebih baik untuk keluarganya. 

Serupa dengan harapan RA. Kartini yang ingin agar perempuan berpendidikan supaya lebih baik dalam mendidik anak-anaknya dan mengurus rumah tangganya, serta lebih cakap dalam mengabdikan diri kepada masyarakat, bangsa, dan negaranya.

Selain itu, perempuan menjadi incaran dalam kekerasan. Dikutip dari tribunnews.com, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) mencatat bahwa terjadi peningkatan terhadap kasus kekerasan pada perempuan dan akan ditahun 2019 hingga 2021. Tetapi, kekerasan terhadap perempuan dan anak tersebut sempat mengalami penurunan pada tahun 2020 dengan jumlah sebelumnya tercatat terdapat 8.854 kasus menjadi 8.686 kasus. 

Namun, mengalami lonjakan yang cukup signifikan ditahun 2021 dengan catatan 10.247 kasus. Lonjakan tersebut diharapkan mengalami penurunan ditahun 2022 dan tidak akan ada lagi kekerasan pada perempuan dan anak ditahun-tahun berikutnya.   

Kampanye yang dilakukan sebagai peringatan Hari Perempuan Internasional (International Women's Day) dapat dilakukan melalui media sosial. Mereka beramai-ramai menggunakan hastag #BreakTheBias dan telah sekiranya telah terkumpul sebanyak 75,5 ribu postingan.  

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun