Mohon tunggu...
Rizkiansyah akbar
Rizkiansyah akbar Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Suka menulis

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Komunikasi dalam Kelompok Tragedi Stadion Kanjuruhan, Kesalahan atau Kesengajaan?

12 Desember 2023   13:07 Diperbarui: 12 Desember 2023   13:12 118
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Pekerjaan yang didukung oleh kolaborasi yang baik serta keterbukaan komunikasi dan kemampuan koordinasi yang baik antar anggota kelompok dapat menjadikan sebuah pekerjaan lebih efisien. Ketika pekerjaan menjadi lebih efisien, makan produktivitas dari sebuah kelompok akan meningkat.

Bila terjadi suatu konflik yang dimana tidak bisa mengedepankan komunikasi dan tidak terciptanya kepercayaan antara kedua belah pihak, maka hal tersebut akan memperparah suatu konflik.

Salah satu contoh kasus komunikasi kelompok yang terjadi di Indonesia adalah kasus Stadion Kanjuruhan Malang. Kasus ini terjadi di tanggal 1 Oktober 2022 di kota Malang. Kasus ini pun terjadi pada saat pertandingan antara Arema melawan Persebaya yang mana pertandingan tersebut dimenangkan oleh Persebaya. Kasus ini memakan kurang lebih 135 nyawa yang melayang. Hal ini disebabkan oleh kekecewaan suporter atas hasil pertandingan yang membuat para suporter turun ke lapangan dan karena semakin banyak suporter yang turun ke lapangan, lalu polisi menembakan gas air mata ke tribun utara dan juga ke lapangan. Suporter yang berada di lapangan dan di tribun pun panik karena adanya gas air mata. Namun ketika suporter hendak lari melalui pintu keluar ternyata pintu tersebut terkunci padahal seharusnya 5 menit sebelum pertandingan usai, seharusnya pintu sudah dibuka. Akhirnya pun para korban mati karena lemas dan kehabisan oksigen karena terjebak.

Terjadi salah paham antara kelompok polisi dan suporter yang mana maksud dari beberapa oknum suporter turun ke lapangan adalah untuk memberikan dukungan yang bersifat sarkas kepada tim Arema Indonesia yang kalah melawan rival abadi mereka, tetapi polisi malah salah paham dikarenakan polisi maksud dari suporter adalah ingin rusuh karena kecewa dengan hasil pertadingan. oleh karena itu terjadilah penembakan gas air mata kepada para suporter. 

Namun disisi lain, suporter yang tetap di tribun, dan tidak turun ke lapangan pun panik, kenapa gas air mata malah di tembakkan ke arah tribun, yang dimana pada saat itu pintu keluar stadion pun dikunci, dan akses untuk keluar masuk stadion pun ditutup aksesnya oleh pihak keamanan, dan terjadi lah desak-desakan antar suporter, yang berisi berbagai kalangan, mulai dari orang dewasa sampai balita, yang membuat keadaan di tribun sangat kacau, karena perlu kita ketahui gas air mata mengandung chlorobenzalmalononitrile dan apabila terhirup atau terkena mata manusia akan terasa panas dan perih, bisa dibayangkan bukan bagaimana situasi saat itu? yang awalnya untuk kegiatan menyenangkan berubah menjadi menyedihkan, dan banyak merenggut nyawa manusia. 

Terlebih dalam hal komunikasi pemimpin dalam kelompok, pemimpin suporter Aremania, yaitu Yudhi Sumpil, menjadi aspek penting dalam terjadinya  insiden ini, yang dimana dia tidak dapat mengkoordinir dengan baik, para anggotanya, padahal pimpinan harus mampu menyampaikan pesan dengan jelas dan efektif kepada anggotanya terkait sportivitas.

Setelah kejadian itu Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyimpulkan bahwa gas air mata menjadi penyebab utama terjadinya insiden ini, dan menyebut 3 tersangka dari kepolisian dijerat dengan Pasal 359 dan/atau Pasal 360 KUHP. Namun sampai saat ini masih terjadi pergolakan di lingkungan sepakbola indonesia, ada  sudut pandang lain, yaitu insiden ini juga terkait dengan kesalahan suporter dan harus adanya hukuman untuk suporter Aremania juga, dan dapat disimpulkan masalah ini perlu evaluasi dari banyak pihak untuk kemajuan sepakbola Indonesia.

Ada beberapa cara untuk mengatasi konflik dan meningkatkan pengawasan terkait konflik suporter dan polisi di Kanjuruhan, agar kejadian ini tidak terulang kembali;

  1. Audit infrastruktur sepakbola yang digunakan untuk pertandingan Liga 1

PSSI sebagai pemangku kepentingan di sepakbola indonesia dalam hal ini harus melakukan uji kelayakan, terkait keamanan, dan kapasitas di Stadion sepakbola seluruh indonesia. Serta PSSI melakukan rapat untuk evaluasi terhadap panitia pelaksana pertandingan yang terkait dengan peristiwa ini, seperti pihak kesehatan.

  1. Pemeriksaan kode etik terhadap personel kepolisian

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun