Mohon tunggu...
risky astyarini
risky astyarini Mohon Tunggu... Mahasiswa - Belajar

TugaskuLiah

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Alam & Tekno

Teknologi Informasi dan Komunikasi dari Dua Sisi

19 Juli 2021   20:34 Diperbarui: 19 Juli 2021   20:54 404
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Alam dan Teknologi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Anthony

Hallo teman-teman, sebelum menulis, izinkan saya memperkenalkan diri. Saya Risky Astya Rini mahasiswi program studi ilmu komunikasi di Universitas Ahmad Dahlan. Salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Di tulisan kali ini saya akan membahas tentang film The Social Dilemma dan tentang media sosial, baik dari sudut pandang, potensi, maupun kekurangan.

Media sosial menjadi salah satu platform digital yang sangat populer di berbagai kalangan masyarakat dunia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Mudahnya akses internet, dan perkembangan teknologi yang melahirkan perangkat canggih membuat masyarakat sangat mudah mengakses berbagai konten di media sosial. Namun sebenarnya, media sosial bagaikan pisau bermata dua yang juga memiliki sisi positif dan sisi negatif.

The Social Dilemma merupakan film dokumenter yang dibumbui dengan sedikit drama. Film ini menampilkan berbagai orang penting yang pernah bekerja di perusahaan internet besar seperti Google, Facebook, Pinterest, Instagram, dan lainnya. dalam film ini mereka yang pernah bekerja di perusahaan internet mengungkapkan semua sisi gelap dari media sosial. Film ini juga bercerita efek dari beberapa perusahaan yang bergerak di bidang internet terutama media sosial akan pengaruhnya terhadap publik. orang-orang dibalik layar ini juga menyampaikan bagaimana media sosial bekerja sebenarnya. Bahkan, cara kerja media sosial saat ini membuat orang-orang yang membuatnya pun khawatir. 

Karena dampak berkepanjangan yang terjadi dari penggunaan platform ini bisa merugikan banyak orang.

Penggambaran sisi buruk media sosial yang disampaikan oleh para pembuat platform ini seakan membuka mata kita bahwa internet dan media sosial memang tempat yang menyeramkan. Hal-hal yang ditampilkan banyak orang hanyalah permukaan saja, tanpa kita tahu apa yang terjadi dibaliknya. Media sosial memang bisa menjadi hiburan yang murah bagi masyarakat. Namun, penggunaanya harus tetap dibatasi dan diwaspadai karena berbagai hal negatif bisa saja merugikan.

Mereka yang dahulu bekerja di perusahaan-perusahaan media sosial mengungkapkan bagaimana data pengguna bisa dipakai untuk membuat sebuah model yang memprediksi aktivitas pengguna. Selain itu juga bagaimana perusahaan memaksimalkan perhatian pengguna agar menjadi profit dari periklanan dan menelusuri teknik manipulasi yang dipakai perusahaan media sosial untuk mencandu para pengguna. Menyentuh pada kenyataan bahwa kegiatan pengguna pada platform online itu diawasi, diukur, dicatat, dilihat, dan direkam. Perusahaan kemudia mengolah informasi ini untuk meningkatkan engagement, pertumbuhan, dan keuntungan iklan.

Film ini menyuguhkan realitas dari kehidupan masyarakat yang diperbudak dan dikendalikan oleh media sosial. Manusia sering mengabaikan potensi bencana yang mampu ditimbulkan media sosial. Potret mengenai masalah kesehatan mental, isu kapitalisme, perang budaya, hingga polarisasi politik merupakan efek nyata dari salahnya penggunaan media sosial. Film ini mengumpamakan manusia dalam menilai relitas dan virtualitas tidak ada kesepakatan dan kesepahaman tentang apa yang disebut sebagai kebenaran. Ini menjadi salah satu pemicu masifnya perkembangan berita palsu yang bahkan dapat menghancurkan populasi negara lain.  

Media sosial menciptakan standar kehidupan yang tidak realistis. Saat membagikan konten di media sosial, beberapa orang akan mengunggah foto terbaik mereka untuk menciptakan impresi yang bagus. Ketika bermain media sosial, kita merasa terkoneksi dengan semua orang di internet. Seolah kita bisa menjangkau jrak yang sangat luas dalam waktu yang singkat. Akan tetapi, sisi lain dari hal ini adalah kita jadi punya standar kehidupan yang tidak realistis.

Pola opini publik yang meningkat dalam berbagai topik termasuk politik. Dampak lain yang dirasakan adalah adanya polarisasi opini di tengah publik. hal ini bisa kita lihat sendiri saat suasana menjelang pilkada atau pilpres di Indonesia. Kedua belah pihak calon akan menyuarakan opini masing-masing secara lantang. Secara tidak langsung, ada pihak-pihak yang mencoba menyerang atau melukai kelompok yang mempunyai pandangan yang berbeda. Hal ini membuat kita tidak punya kebebasan beropini di media sosial. Namun, yang perlu kita ketahui adalah bagaimana sistem algoritma di media sosial itu bekerja. Setiap klik yang kita buat akan mengarah kepada tontonan atau bacaan tertentu. Semakin tinggi intensitas kita mengkonsumsi sebuah konten, aka rekomendasi konten serupa juga akan terus dihadirkan. Inilah yang membuat danya polarisasi opini publik di media sosial.

Secara tidak sengaja kita telah dijebak untuk berlama-lama di media sosial yang sedang kita kases. Tanpa kita sadari, waktu kita lebih banyak terbuang percuma untuk hal-hal yang kalau kita tidak tahu pun, tidak akan merugikan atau berpengaruh besar dalam hidup kita. Bahkan kita secara tidak sadar jika sudah mengakses media sosial menjadi lupa dengan waktu.

Tanpa kita sadari, kita adalah produk yang dijual dan semua aktivitas kita dipantau. Saat kita scroll dan klik apapun di media sosial dan Google, maka mesin akan mempelajari perilaku kita. Semakin kita berlama-lama dengan media sosial, maka semakin banyak yang bisa dipelajari dari diri kita. Media sosial tahu konten dan apapun itu yang kita suka. Mereka tahu barang apa yang sedang kita cari dan yang akan kita beli. Mereka tahu kafe atau tempat wisata mana yang sedang kita cari. Data inilah yang dipakai untuk mempersonalisasikan konten yang muncul di akun media sosial kita dan juga jenis iklan yang muncul di situs web yang kita buka.

Tidak bisa dipungkiri, kini jumlah like, comment, dan follower menjadi bagian yang sangat penting untuk orang yang menggunakan media sosial. Validasi atau pengakuan dari orang lain menjadi jauh lebih penting daripada kita melihat ke dalam diri kita sendiri soal apa yang kita inginkan dan yang membuat kita nyaman. Jumlah teman di media sosial menjadi lebih membanggakan daripada teman yang kita punya di dunia nyata, padahal hubungan kita dengan mereka lebih nyata dibanding dengan teman yang ada di media sosial. Perilaku dan cara berpikir kita berubah karena sudah terpapar dan kecanduan dengan media sosial. Secara tidak sadar, apa yang kita anggap penting dan tidak penting jadi berkiblat kepada nilai yang ada di media sosial.

Selain memberikan fakta-fakta mengerikan tentang dunia internet, para narasumber juga memberi sedikit solusi dan upaya agar kita tidak dimanipulasi oleh teknologi internet termasuk media sosial. Mematikan atau mengurangi notifikasi termasuk salah satu solusinya. Notifikasi membuat kita mengecek sesuatu yang belum tentu penting untuk kita lihat saat itu juga. Jadi cobalah, notifikasi dari aplikasi apa saja yang benar benar penting untuk segera kita tahu. 

Pakai Qwant dibanding Google, kita bisa menggunakan Qwant sebagai mesin pencari dibanding menggunakan Google. Qwant tidak akan menyimpan hasil pencarian kita, yang artinya privasi kita akan tetap terjaga. Selain itu, kita jangan klik "ad" dan video rekomendasi. Kalau kita googling sesuatu, terutama terkait produk atau layanan jasa. Biasanya di posisi paling atas pencarian ada tanda "AD" di sebelah kiri tautan tersebut. Itu tandanya adalah tautan iklan. Nah, jangan klik tautan tersebut, lebih baik klik tautan yang biasa (tanpa tanda "AD"). Ini berlaku juga untuk semua iklan di situs web, termasuk video rekomendasi YouTube.  

Saat ini media sosial adalah salah satu fitur yang paling sering digunakan oleh pengguna internet. Bagi sebagian besar pengguna sudah mengetahui fungsi dan berbagai fitur yang disajikan dalam sebuah aplikasi media sosial. Media sosial adalah media daring yang digunakan untuk kebutuhan komunikasi jarak jauh, proses interaksi antara user satu dengan user lain, serta ubtuk mendapatkan sebuah informasi melalui perangkat aplikasi khusus dengan menggunakan jaringan internet. Tujuan dari adanya media sosial sendiri adalah sebagai sarana komunikasi untuk menghubungkan antar pengguna dengan cakupan wilayah yang sangat luas. Anda tidak perlu lagi menghubungi orang lain melalui kabel telepon atau alat komunikasi tradisional. Cukup dengan mengakses media sosial, sekarang dapat terhubung dengan banyak orang, membuat forum, diskusi bersama, mengunggah aktivitas keseharian, mencari berbagai informasi, dan lain sebagainya. Media sosial menghapus batasan-batasan manusia untuk bersosialisasi, batasan ruang maupun waktu, dengan media sosial seperti yang berkembang pada saat ini manusia dimungkinkan untuk berkomunikasi satu sama lain dimanapun merek berada.

Saya akan bercerita sedikit tentang pengalaman saya menggunakan media sosial. Media sosial pertama kali yang saya gunakan adalah Facebook. Saat itu saya masih duduk di bangkuSekolah Menengah Pertama. Pada saat saya mengakses Facebook, pada tahun tersebut Facebook sedang mencapai masa-masa populernya. Saya menggunakan Facebook karena mengikuti zaman dan untuk menambah teman-teman baru. dengan Facebook saya dapat mengenal teman-teman yang berbeda sekolah dengan saya. Dengan berkembangnya smartphone dan kemajuan teknologi, mulai muncul BBM (Blcakberry Messenger). Saya ingat setelah aktif di Facebook saya mulai beralih ke BBM. Dengan BBM kita lebih mudah berkomunikasi dengan tean dibanding lewat Facebook. Saat itu BBM hanya bisa di akses dengan handphone Blackberry, kemudian bisa dengan android, hingga saat ini aplikasi BBM sudah dihapus secara permanen. Sepat sedih saat mendengar BBM dihapus secara permanen, karena pada saat itu BBM benar-benr menjadi andalan semua orang untuk saling berkomunikasi dengan bisa mengirim gambar, suara, dan berbagi video. Setelah BBM mulai muncul banyak sekali aplikasi media sosial, seperti Path, LINE, Instagram, WhatsApp, dan lain sebagainya. Namun meski banyak muncul media sosial dan Facebook adalah aplikasi yang pertama kali, Facebook tetap masih banyak di akses oleh orang-orang. Dengan perkembangan fitur yang semakin update dan kekinian. Bahkan saat ini Facebook juga dijadikan wadah untuk iklan, jual beli, bahkan berbisnis.

Media sosial menjadi wadah untuk menyebar informasi melalui konten menrik yang memiliki jangkauan sangat luas. Apalagi di tengah pandemi COVID-19 seperti saat ini, masyarakat menjadi intensif dan aktif memantau media sosial dan banyak yang memanfaatkan sebagai tempat berkarya, berkreasi, dan menuangkan ide-ide mereka dengan membuat berbagai konten. Media sosial memiliki potensi yang sangat luar biasa, krena media sosial dapat digunakan untuk personal branding, campaign, marketing, dan brand images. Selain itu media sosial juga bisa kita gunakan untuk berbisnis, menghasilkan uang, membantu mendapat perhatian dari khalayak, dan kita bisa memiliki kemampuan untuk mempromosikan apapun kreasi kita secar mandiri. Banyak sekali langkah untuk memanfaatkan media sosial yaitu, kenali potensi diri, membuat konten, riset, desian, dan konsistensi. Namun, dari semua hal tersebut, yang paling penting dan berpengaruh yaitu konten dan konsisten. Karena konten dan konsisten akan mempengaruhi khalayak terhadap hal apa yang kita buat. Media sosial kini menjadi kekuatan yang luar biasa di dunia komunikasi berbasis internet. Tidak hanya mampu mempengaruhi opini publik, bahkan sejumlah platform media sosial saat ini sudah banyak yang berubah menjadi peluang usaha bagi para penggunanya. Saat ini sudah cukup banyak generasi muda yang menjadi konten creator, karena banyaknya aplikasi editing dan aplikasi pendukung lainnya untuk membuat dan memperbaiki konten yang akan dipublikasi di media sosial.

Kekurangan media sosial di Indoneisa yaitu rentan terjadinya kesalahpahaman. Kesalahpahaman akan sebuah konten yang ada di media sosial sering terjadi di Indonesia dan dapat berujung pada masalah besar. Biasanya terjadi karena komentar-komentar yang terdapat di media sosial. Selain kesalahpahaman, penggunaan media sosial yang tak semestinya dapat berujung pada penghinaan atau pelecehan terhadap orang lain, bahkan sering terjadi pada anak-anak. Konten-konten berbahaya seperti gambar atau video porno yang bisa diakses dengan mudah oleh anak-anak. Suka atau tidak, informasi yang orang bagikan di media sosial telah menjadi konsumsi untuk semua orang, bahkan penjahat sekalipun. Banyak pelaku kejahatan yang dapat dengan mudah mengakses dan mendapatkan informasi diri anda dan memanfaatkannya untuk hal yang negatif. Seperti yang kita lihat akhir-akhir ini ini banyak sekali tersebarnya informasi di media sosial yang meresahkan, yang mengadu domba, dan yang memecah belah. Munculnya ujaran-ujaran kebencian, pernyataan-pernyataan yang kasar, pernuataan-pernyataan yang mengandung fitnah, dan yang profokatif. Dan jika dilihat bahasa-bahasa yang digunakan juga bahasa-bahasa yang mengandung konotatif negatif. Sebaiknya media sosial digunakan untuk hal-hal yang produktif, mendorong kreativitas dan inovasi, dan peningkatan potensi para penggunanya. Ketika kita menggunakan media sosial, cobalah untuk berhati-hati dan cerdas dalam menggunakannya. Gunakan media sosial untuk hal-hal yang bermanfaat dan berkegiatan positif. Terlepas dari semua kerugian ataupun kekurangan dari penggunaan media sosial, satu hal yang perlu dilakukan yaitu tetap menjaga privasi kita. Berhati-hatilah dengan apa yang kita bagikan di media sosial, berkomunikasilah dengan baik dan sopan di media sosial.

Menurut data yang dipublikasi oleh laman katadata.co.id, Youtube menjadi platorm yang paling sering digunakan pengguna media sosial di Indonesi berusia 16 hingga 64 tahun. Presentase pengguna yang mengakses Youtube mencapai 88%. Media sosial yang paling serring diakses selanjutnya adalah WhatsApp sebesar 84%, Facebook sebesar 82%, dan Instagram sebesar 79%. Sebagai informasi, rata-rata waktu yang dihabiskan masyarakat Indonesia untuk mengakses media sosial selama 3 jam 26 menit. Total pengguna aktif media sosial sebanyak 160 juta atau 59% dari total penduduk di Indonesia dan 99% pengguna media sosial berselancar melalui ponsel. Kanwil DJKN DKI Jakarta sebagai salah satu instansi pemerintah yang berada di bawah Kementrian Keuangan telah menggunakan beberapa platform media sosial yaitu, web atau portal, Twitter, Youtube, Facebook Page, dan memanfaatkan aplikasi Zoom sebagai forum diskusi dan media percakapan untuk menyelenggarakan rapat kedinasan an webinar secara virtual. Pada masa sekarang, sudah saatnya Instansi Pemerintah mengelola media sosial dengan terencana dan terukur. Dengan kemudahan-kemudahan yang ada di platform media sosial, diharapkan dapat menjadi representasi negara dan instansi dalam menyajikan layanan kepada masyarakat menjadi lebih baik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Alam & Tekno Selengkapnya
Lihat Ilmu Alam & Tekno Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun