Mohon tunggu...
Rini DST
Rini DST Mohon Tunggu... Ibu Rumah Tangga - Seorang ibu, bahkan nini, yang masih ingin menulis.

Pernah menulis di halaman Muda, harian Kompas.

Selanjutnya

Tutup

Music Pilihan

Seni Kritik dalam Lagu-lagu "Gombloh", Sungguh Sangat Indah

19 Agustus 2021   21:52 Diperbarui: 19 Agustus 2021   22:06 1730
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Patung Gombloh di THR Surabaya. Sumber gambar : thejaman.com

Gombloh adalah seorang seniman musik Indonesia, yang hidup pada pada tahun 1950 - 1988. Dengan nama asli Soedjarwoto Soemarsono, yang sejak kecil dipanggil dengan nama Gombloh. Melalui lagu-lagunya melakukan seni untuk kritik yang menakjubkan.

Gaya almarhum sebenarnya memang  seperti julukannya "nggomblohi", yang artinya pura-pura bodoh. Tetapi kenyataannya memiliki nama yang abadi dalam seni musik. 

Lagu-lagunya "Kebyar-Kebyar" dan "Berkibarlah Bendera Negeriku", berkumandang melalui berbagai media sosial. Tepat pada hari ulang tahun Kemerdekaan Indonesia ke 76.

Juga lagu-lagu karya Gombloh sempat diangkat dalam penelitian  Martin Hatch dari Universitas Cornell, sebagai karya ilmiah yang berjudul "Social Criticsm in the Songs of 1980’s Indonesian Pop Country Singers".  Karya tersebut  dibawakan dalam seminar musik  "The Society of Ethnomusicology" di Toronto, Kanada pada 2000.

Apa saja seni untuk kritik yang dilakukan Gombloh melalui lagu-lagu ciptaannya.

Gombloh. Tribunnews.com
Gombloh. Tribunnews.com

Pertama dalam lagu "Berita Cuaca", yang merupakan kritik terhadap alam Indonesia yang rusak, tidak terpelihara.

Dalam kritiknya Gombloh yang dilahirkan pada tahun 1950 mempertanyakan 

Mengapa Tanahku rawan kini? Bukit-bukitpun telanjang berdiri. Pohon dan rumput enggan bersemi kembali. Burung-burungpun enggan bernyanyi. (Syair lagu Berita Cuaca).

Tidak seperti yang diceritakan ibunya tentang Nusantara Lama. Tentunya entah sebelum merdeka, atau sesudah merdeka. Tentang betapa damainya dan suburnya bumi Indonesia

Kedua dalam lagu"Kugadaikan Cintaku", yang merupakan kritik terhadap diri sendiri.

Wajarlah saat mendengar lagu kesayangan pacarnya melalui radio, terbit rasa rindu terhadap pacarnya. Sehingga pada malam Minggu dengan berbekalkan rasa rindu segera apel ke rumah pacar.

Membayangkan akan duduk berdua dan bercumbu, eh malahan melihat pacarnya bersama lelaki lain. Gombloh tidak marah-marah, tetapi mengritik diri sendiri 

Tetapi mimpi apa semalam. Kulihat engkau duduk berdua. Bercanda mesra dengan seorang pria. Kaucubit kau peluk dan kau cium. (Syair lagu Kugadaikan Cintaku)

Dan sarelanjutnya selalu menutup telinga bila mendengar lagu kesayangan pacar. 

Ketiga lagu "Apa itu tidak edan", yang merupakan kritik kepada kaum tua dan muda. 

Katanya yang tua semakin genit, yang muda bertingkah. Sebenarnya sebaiknya yang tua pensiun dengan berani, dan yang muda rajin sekolah. 

Dan esok malam siap-siap berdandan. Konvoi di jalan, apa itu tidak edan. Yang mana muda, yang mana disebut tua. Semua sama saja apa itu tidak edan. (Syair lagu Apa Itu Tidak Edan). 

Semua kritik dinyanyikan dengan indah, dan aman.

Walaupun Gombloh tercatat sebagai penyanyi yang memperhatikan kelompok marjinal, tetapi tidak melempar kritik untuk pemerintah yang sedang memimpin negeri.

Mengapa Gombloh memilih seni untuk kritik yang tidak anti pemerintah yang sedang memimpin negeri?

Gombloh. Sumber gambar : Djawa News.
Gombloh. Sumber gambar : Djawa News.

Semangat Gombloh tercermin dalam lagu "Kebyar-kebyar". Darahnya yang merah dan tulangnya yang putih merupakan lambang dari semangat Indonesia. Semua yang dilakukan atas dasar rasa cintanya kepada Indonesia, tanpa keraguan. 

Biarpun Bumi Bergoncang. Kau Tetap Indonesiaku. Andaikan Matahari Terbit Dari Barat. Kaupun Tetap Indonesiaku. (Syair lagu Kebyar-Kebyar).

Selaras dengan cita-cita Presidan Jokowi, yang merupakan pucuk pimpinan pemerintahan Indonesia saat ini. Ingin menunjukkan kepada dunia,  negara Indonesia memiliki kemampuan yang harus diperhitungkan oleh seluruh dunia. 

Bersama seluruh rakyat Indonesia, selalu bersatu dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika.  Dengan dasar negara Pancarila. dan lambang negara burung Garuda yang gagah berani. 

Daku ingin kepal tangan ini. Menunaikan kewajiban. Putra bangsa yang mengemban cita. Hidup dalam kesatuan. (Syair lagu Berkibarlah Bendera Negeriku).

Kenangan musik dan lagu Gombloh yang merupakan untuk karya seni untuk kritik, sangat enak didengar. Lagu-Lagu bergaya pop ringan dengan lirik-lirik sederhana dan jenaka. Damailah hidupmu di Surga Firdaus, Indonesia akan mengenang dan menghargaimu. 

Referensi : 1, 2, 3, 4, 5.

Bumi Matkita,

Bandung, 19/08/2021.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Music Selengkapnya
Lihat Music Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun