Mohon tunggu...
Rini DST
Rini DST Mohon Tunggu... Ibu Rumah Tangga - Seorang ibu, bahkan nini, yang masih ingin menulis.

Pernah menulis di halaman Muda, harian Kompas.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

New Normal, Mengapa Harus Ada?

1 Juni 2020   22:03 Diperbarui: 2 Juni 2020   09:52 242
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber gambar : Pixabay - chiplanay

Apa sebenarnya normal itu? Mengapa harus ada new normal?

Secara gampangnya semua yang sudah sesuai standar adalah normal. Standar bayi yang lahir setelah 9 bulan berada dalam kandungan bunda adalah normal. Kalau kurang dari 9 bulan prematur. Bayi menjadi tidak normal. Dengan perawatan dalam ruang intensif bayi bisa menjadi normal, tetapi bisa juga tidak tertolong meninggal dunia. 

Kelahiran bayi menjadi tidak normal, biasanya ada penyebabnya. Misalnya masalah kesehatan bunda selama kehamilan, yang seharusnya bisa dihindari. Atau kelainan genetik yang menyebabkan cacat bawaan bayi, sudah dari sananya dan tidak bisa dihindari.

Pandemi covid-19 menyebabkan semua orang di seluruh dunia tidak bisa hidup secara normal. Penyebabnya adalah virus corona yang yang bukan kehendak siapa-siapa. Kalaulah ada yang berkehendak, Allah Maha Pencipta yang berkehendak. Tidak bisa dihindari hampir seluruh dunia .  Pertama muncul di Wuhan, Tiongkok. Kini sudah merebak kemana-mana seluruh dunia. Termasuk juga Indonesia. 

Tidak bisa hidup secara normal?

Harus ada penanganan khusus seperti perawatan dalam ruang intensif pada bayi prematur. Ada yang memilih lockdown, ada yang memilih pambatasan sosial berskala besar (PSBB).  Tergantung keperluan dan kemampuan setiap pemerintahan masing-masing negara. Tapi semua enggan mengatakan tidak normal. 

Karena menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring normal adalah tidak sakit jiwa. Jadi tidak normal adalah sakit jiwa. Keadaan sekarang bukan sakit jiwa, hanya tidak bisa hidup secara normal gara-gara covid-19.

Pemerintahan Indonesia memilih PSBB. Daerah mana yang diijinkan melakukan PSBB dan protokol yang harus ditaati selama PSBB diatur oleh Menkes. Ukuran yang digunakan untuk menilai PSBB adalah   pertambahan nilai pasien yang positif, yang meninggal dan yang sembuh. Keberhasilan PSBB di sebuah daerah, dinilai dari ukuran tersebut.

New Normal

Keberhasilan PSBB tidak bisa dijadikan ukuran mutlak kembali ke kehidupan normal. Semua sudah menjalankan protokol yang harus ditaati selama PSBB, yang didasari 5 kewajiban berikut ...

  1. Gunakan masker di luar rumah.
  2. Cuci tangan dengan air mengalir dan menggunakan sabun selama 20 detik.
  3. Jaga jarak 1,5 - 2 m ke samping kanan kiri, depan belakang.
  4. Bekerja dan belajar di rumah.
  5. Tingkatkan imun dengan makan sesuai Pedoman Gizi Sempurna (PGS) dan minum vitamin C

Dengan melihat kegiatan pasar yang meledak saat menjelang Idul Fitri, membuat pengusaha untuk ingin ikut menikmati suasana produktif. Keinginan produktif berarti mengajak masyarakat membeli hasil produksi. 

Sedangkan pembeli adalah masyarakat umum yang masih harus menjalankan protokol PSBB secara ketat. Terpaksa melakukan pelonggaran dengan meniadakan lagi bekerja di rumah. 

Pengusaha diijinkan melakukan usaha dan masyarakat diharapkan membeli hasil produksi. Dengan suasana tetap tak bisa normal. Maka disebutlah sebagai new normal. 

Harapan dan kenyataan New Normal.

 Ajakan damai dengan corona memang sudah pernah dikumandangkan oleh presiden Jokowi pada tanggal 7/5/2020 melalui video yang diunggah Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden. Ajakan damai sebetulnya dimaksudkan dengan mengajak  produktif hingga vaksin ditemukan. 

Sebuah ajakan yang merdu, yang sangat dirindukan oleh banyak kalangan. Karena suasana tidak produktif ternyata sama berbahaya juga seperti ganasnya virus corona dalam bermutasi dan mencari inang. Juga membinasakan kehidupan, karena ekonomi yang terpuruk.

Mari bercermin pada pandemi polio 1950. Kantor dan sekolahan produktif saat pademi polio masih merebak. Saat itu memang belum ada play grup atau paud. Edukasi tentang covid-19 dan penularannya kepada siswa-siswi paud pastilah lebih sulit. Jadi sebaiknya paud tetap diliburkan selama keadaan belum normal. 

Tempat ibadah ditutup saat pandemi polio masih merebak. Beribadah di rumah sama sekali bukan halangan. Allah akan menerima doa yang baik di mana saja. Yakinlah. 

Dulu saja hiburan tidak semeriah sekarang, tetapi juga ditutup.  Apalagi sekarang, tempat hiburan lebih meriah, pastilah menjadi tempat berkumpulnya banyak orang. Sebenarnya hiburan bisa-bisa dilakukan di rumah masing-masing. Tetapi ... tetapi, masalahnya sekarang pariwisata dijadikan komoditas utama negara. 

Protokol new normal sudah dirancang dengan berbagai susunan kata yang manis. Tapi pada dasarnya tentulah masih didasari 5 kewajiban yang dilakukan saat PSBB.  Yang dihilangkan hanyalah bekerja dari rumah.

Pengoperasian mall dengan protokol jaga jarak, berarti mengurangi pengujung. Dengan pengunjung hanya 30%, apakah produktifitas sesuai yang diharapkan? Harus ada fasilitas cuci tangan,jangan lupa ada fasilitas cuci tangan di rumah. 

Pulang dari mall, sebelum masuk rumah sebaiknya mencuci tangan. Juga kantung belanjaan dari mall janganlah membawa virus ke mobil pribadi dan rumah, bagi pengguna mobil pribadi. Juga jangan membuat virus bercengkerama dengan virus di kantong orang lain di angkot, bagi pengguna angkot.

Mari mendahulukan yang perlu. Ijinkan gojek membawa penumpang, sebab tanpa penumpang sama aja tidak produktif. Pengguna jasa gojek harus menggunakan pikir dan rasa masing-masing. Menggunakan jasa gojek pada musim pandemi covid-19, harus memikirkan tentang jaga jaraknya dan pemakaian masker. Mungkin  mengenakan semi APD dengan desain yang sederhana dan menarik.

Produktif memang keharusan, tetapi sebaiknya tetap hemat juga keharusan. Gunakan uang sebaik-baiknya. Beli yang perlu saja, jangan asal mau. 

Normal kembali

Bilakah? Adakah? Sekali lagi mari bercermin pada pandemi polio 1950. Awal pandemi polio pada tahun 1950. Vaksin ditemukan pada tahun 1954 oleh Jonas Salk, seorang peneliti medis dan virolog. 

Vaksin temuan Jonas Salk digunakan pertama kali pada tahun 1955. Katanya dibuat dari virus polio yang tidak aktif , diberikan dengan cara disuntikkan. 

Pada tahun 1961 Albert Sabin mengembangkan vaksin polio yang katanya dibuat dari virus polio yang sudah dilemahkan, dan  penggunaannya ditelan. Vaksin temuan Albert Sabin selain lebih mudah dalam penggunaan, juga harganya lebih murah. 

Pada tahun 1961 vaksin Albert Sabin masuk dalam Daftar Obat Esensial Organisasi Kesehatan Dunia . Dan digunakan di seluruh dunia. Dengan melakukan vaksinasi dengan cara yang benar dan disiplin. Dunia terhindar dari polio.

Jadi Berapa lamakah vaksin corona bisa ditemukan? Seperti vaksin polio, apakah 4 tahun atau 11 tahun sejak awal pandemi covid-19?  Seluruh dunia menunggu sebenar-benarnya normal kembali. Seluruh dunia ingin rasanya memberangus virus-virus corona, agar gantian mereka yang harus mengikuti protokol new normal. 

Bumi Matkita,

Bandung, 01 Juni 2020.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun