Mohon tunggu...
Rina Darma
Rina Darma Mohon Tunggu... Penulis - Ibu Rumah Tangga

Happy Gardening || Happy Reading || Happy Writing || Happy Knitting^^

Selanjutnya

Tutup

Ramadan Pilihan

Sarung Kotak-Kotak

14 Mei 2020   23:45 Diperbarui: 14 Mei 2020   23:50 414
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Tebar Hikmah Ramadan. Sumber ilustrasi: PAXELS

Untuk pertama kalinya, aku mendapat paket Tunjangan Hari Raya (THR) walaupun belum bekerja setahun penuh di perusahaan ini. Anehnya, aku mendapat satu buah sarung kotak-kotak yang tidak bisa aku identifikasikan warnanya. Abu-abu, nila, mungkin juga biru. Aku kan seorang perempuan? Kok sarung sih?

Pandanganku beralih kembali ke atas kasur. Mau diapain sarung itu. Buat Bapak saja di rumah? Ah, Bapak sarungnya sudah banyak dan setiap Ramadhan bakal menimbun sarung karena Bapak adalah penceramah. Atau dikasihin ke orang saja? Ah, tapi kok sayang. Ini kan bisa jadi kenang-kenangan. Buat selimut. Ya, buat selimut.

Nah, sebagaimana kebiasaan, aku bakal mencuci pakaian baru termasuk sarung ini. Katanya sih biar zat pewarna maupun bahan kimia yang dipakai pabrik tekstil larut. Jadi, aman digunakan.

Kos tempat aku tinggal terbagi menjadi dua lantai. Lantai satu untuk laki-laki dan lantai atas untuk perempuan. Begitu pula untuk tempat jemuran baju. Hanya satu garasi motor di dekat tempat jemuran cowok.

Sore itu, sepulang kerja dan memasukkan motor ke garasi, mataku menumbuk sarung kotak-kotak di tali jemuran cowok. Kenapa, sarungku bisa ada di sini, pikirku. Mungkin tadi terbang, karena dikira kepunyaan penghuni lantai satu makanya nyasar ke sini. Aku pun langsung menyomotnya begitu saja.

Untuk sampai ke kamarku, aku harus naik tangga melalui tempat jemuran cewek, dan melewati dua kamar. "Hei, baru pulang, Bi!" seru Lika dari dalam kamarnya tepat di kamar sebelahku.

Tanpa menjawab hanya menoleh dan tersenyum aku segera masuk. Pertanyaan retoris yang tak perlu aku jawab. Basa-basi.

Malam indah tanpa bintang di langit ibu kota. Aku kembali menatap magnet yang teronggok di salahsatu sudut kamar. Karena belum disetrika aku urung menjadikannya selimut. Aku terlalu malas untuk bangun mengambil jemuran baju lainnya. Lagian, jemuranku sudah biasa berlama-lama mejeng di sana sampai aku sempat mengambilnya. Mataku sudah terlalu berat.

--

Pagi itu, tak seperti biasanya, penghuni lantai satu melebihi penghuni lantai atasnya. Seakan mereka tengah berkerumun untuk bergosip. Pemandangan yang tak biasa. Mataku bertumbukan dengan mata seorang lelaki bersarung yang asing. Apakah bersarung sudah menjadi trend? Karena wakil presiden negeri ini pun bersarung? Sehingga aku pun mendapat THR berupa sarung?

Seperti biasa, usai melempar senyum basa-basi, aku pun melenggang.

"Mungkin terbang," samar-samar aku mendengar potongan pembicaraan empat laki-laki tersebut. Terbang, apanya yang terbang? Burung?

Belum genap setahun tinggal di kota, aku pun sudah terhanyut dengan kebiasaan kota ini. Cuek. Daripada melanjutkan rasa kepoku, lebih baik aku segera ke kantor daripada absensiku terlambat.

Jalanan kota ini rasanya tak pernah sepi semenjak aku datang delapan bulan lalu. Pepet sana, pepet sini. Awal kali pertama, motorku tergores aku menangis sejadi-jadinya. Lama-kelamaan, aku pun bisa beradaptasi. Seperti sore ini, bamper belakangku habis dicium entah siapa hingga retak. Aku hanya bisa memandangnya iba.

"Jatuh?" Lelaki bersarung yang tadi pagi kutemui itu, aku bertemu kembali. Masih mengenakan sarung.

Aku menggeleng. Aku terlalu malas memberi penjelasan.

"Ohya, apa kamu kemarin melihat sarung kotak-kotak di sini?" Kakiku yang hendak menaiki anak tangga tertahan. 

"Iya," jawabku. "Oh, jadi kamu yang menemukannya, terima kasih ya," seperti ucapan terima kasih yang tak tulus. Aku segera ngeloyor. Raut mukanya tampak bingung.

"Wibi... Wibi... " Lika mencegat dan mengikutiku. Kali ini ia tak hanya berteriak dari dalam kamar. Ia bahkan rela bangkit dari rebahannya. Si kaum rebahan itu, tak akan seantusias itu jika tak ada sesuatu, biasanya soal cowok.

"Ada cowok baru di bawah, loh!" sambungnya. Tebakanku benar kan? Soal kaum Adam.

"Ganteng dan..."

"Bersarung," potongku sebelum ia nerocos lebih panjang.

"Imam idaman banget. Dengar-dengar santri, loh. Eh, kamu sudah ketemu, ya, ?"

"Sudah ngobrol juga, barusan."

Lika menjadi sedikit senewen. Ia menganggapku colong start. Mencuri start apa? Saat tanganku yang baru saja mendorong gagang pintu, Lika kembali ngoceh, "Eh, tapi kasihan loh dia, baru pindah sarungnya hilang."

Belum sempat aku menanggapi, terdengar ibu kos, menaiki tangga diikuti langkah kaki... cowok bersarung kotak-kotak warna coklat. Sekarang aku memperhatikannya.

"Mas Rais, ini bukan sarungnya?" ibu kos yang masih terengah itu menunjuk jemuranku.

Ia tampak ragu. Itu kan sarungku, aku membatin, kok bisa disitu?

"Tapi ini sepertinya masih baru?" katanya sembari menerima sarung itu.

Otakku segera berpikir cepat, jika itu sarungku lalu yang di dalam kamar sarung siapa? Belum aku merangkai ulang potongan kejadian dari kemarin. Lika yang mau ikut masuk kamar berseru, "Kok sarung kotak-kotaknya sama yang ada di kamar kamu?"

Rais dan Ibu Kos bersamaan menatapku. Sekarang Lika ikut menyelidik.

Jika itu sarungku, lalu sarung siapa yang sudah bersamaku semalam?

---

 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ramadan Selengkapnya
Lihat Ramadan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun