Mohon tunggu...
RIMA RAHMAWATI
RIMA RAHMAWATI Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Bismillah. Semangat pantang menyerah tuk mencapai kesuksesan

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Mengajarkan Nilai dan Rasa Toleransi Siswa SD melalui Sastra Anak

2 Desember 2024   10:36 Diperbarui: 2 Desember 2024   11:42 57
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Dalam dunia pendidikan, toleransi harus ditanamkan sejak dini, terutama pada siswa SD sebagai generasi penerus bangsa. Pada usia ini, siswa mulai memahami persamaan dan perbedaan dengan orang lain. Dengan banyaknya kasus intoleransi, pendidikan dasar berperan penting dalam membentuk karakter siswa agar mampu menghadapi dan menghargai perbedaan budaya, agama, ras, suku, bahasa, golongan, dan pendapat.

Toleransi adalah sikap saling menghargai dan menerima perbedaan antara individu. Dalam pendidikan, toleransi berarti mengajarkan siswa untuk menghargai, menerima, dan terbuka terhadap keberagaman yang ada di sekitar mereka, baik itu perbedaan budaya, agama, suku, ras, bahasa, kekurangan fisik orang lain maupun pandangan hidup. 

Ciri-ciri toleransi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa SD antara lain adalah: menghormati teman yang berbeda keyakinan, saling bekerja sama meski memiliki latar belakang yang berbeda, serta menerima perbedaan pendapat dalam diskusi kelompok.

Sastra anak, baik cerita pendek, dongeng, maupun puisi, merupakan salah satu cara efektif untuk mengajarkan nilai-nilai moral kepada anak-anak. Nilai toleransi sering kali ditemukan melalui kisah-kisah yang menggambarkan persahabatan antar karakter yang berasal dari latar belakang yang berbeda. 

Contoh cerita yang mengajarkan toleransi adalah dongeng "Si Kancil dan Buaya," di mana karakter kancil yang cerdas dapat menjalin hubungan baik dengan berbagai karakter berbeda dalam cerita. Selain itu, cerita tentang persahabatan antar suku atau agama, seperti dalam cerita rakyat atau fabel, dapat memperkenalkan nilai-nilai saling menghargai dan toleransi.

Studi oleh Suriyadi (2019) mengungkapkan bahwa cerita dalam sastra dapat memperkenalkan anak-anak pada konsep-konsep moral, termasuk toleransi, dengan cara yang menarik dan mudah dipahami. Sastra dapat menyentuh perasaan dan membantu membentuk sikap toleransi anak-anak dalam kehidupan sehari-hari.

Ada beberapa pendekatan yang bisa digunakan guru untuk mengajarkan toleransi melalui sastra anak di sekolah dasar:

  • Guru dapat memilih genre sastra anak yang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa, seperti cerita tentang pertemanan antara anak dari latar belakang budaya yang berbeda.
  • Setelah membaca cerita, guru dapat mengajak siswa berdiskusi tentang pesan moral yang terkandung dalam cerita tersebut. Misalnya, setelah membaca cerita tentang kerjasama dalam keberagaman, siswa diajak untuk berbagi pengalaman mereka dalam menghadapi perbedaan di lingkungan sekolah.
  • Siswa dapat memerankan karakter dalam cerita yang menghadapi konflik antarbudaya, lalu mencari solusi bersama untuk menyelesaikan masalah tersebut.
  • Guru dapat mengajak siswa membuat proyek literasi dengan menulis cerita pendek, puisi atau menggambar tentang keberagaman di sekitar mereka.

Menggunakan sastra anak untuk mengajarkan toleransi di SD memiliki berbagai manfaat:

  • Meningkatkan Empati

Membaca cerita memungkinkan siswa merasakan apa yang dialami oleh karakter lain, yang membantu mereka memahami pentingnya menghormati orang lain terutama di lingkungan sekolah.

  • Mengembangkan Keterampilan Sosial & Nilai Positif

Cerita yang mengajarkan toleransi membantu siswa untuk lebih baik dalam berkomunikasi dan menjalin hubungan dengan teman-teman dari latar belakang yang berbeda.

  • Adil & Tidak Membeda-bedakan Teman

Sastra anak juga mengajarkan siswa untuk bersikap adil dan tidak memandang teman berdasarkan status ekonomi, seperti kaya atau miskin, pintar atau tidak. Hal ini membuat suasana kelas lebih inklusif.

  • Menghargai Pendapat

Melalui dialog antar tokoh dalam cerita ataupun drama, siswa dapat belajar cara mendengarkan dan menghormati pendapat orang lain, meskipun berbeda dari pendapatnya sendiri.

  • Menyelesaikan Konflik dengan Baik

Sastra anak sering menyajikan konflik yang diakhiri dengan solusi damai. Hal ini mengajarkan siswa untuk menyelesaikan masalah tanpa bertengkar.

  • Saling Menolong Tanpa Memilih

Seperti dalam cerita Kancil dan Buaya, menunjukkan sikap tolong menolong. Hal ini mengajarkan siswa bahwa menolong teman adalah hal baik yang tidak tergantung pada siapa teman tersebut.

  • Belajar Tentang Keberagaman

Dengan membaca cerita dari berbagai daerah, siswa bisa mengenal budaya yang berbeda-beda, baik suku, ras, agama, budaya Bahasa, dan golongan. Hal ini membantu mereka memahami bahwa keberagaman itu indah dan harus dihormati.

Mengajarkan nilai toleransi pada siswa SD melalui sastra anak adalah langkah penting dalam membentuk karakter generasi muda yang mampu hidup dalam masyarakat yang majemuk. Sastra anak, dengan kemampuannya untuk menyampaikan pesan moral melalui cerita yang menarik dan mudah dipahami, menjadi media yang efektif dalam menanamkan sikap saling menghargai perbedaan. 

Dengan pendekatan yang tepat, sastra anak dapat membantu menciptakan siswa yang lebih toleran dan empatik. Melalui sastra anak ini, berarti siswa akan belajar bekerja sama, saling melengkapi, dan menciptakan lingkungan kelas yang rukun. Dengan memahami keberagaman, mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang adil, peduli, dan mampu menghormati orang lain.

Toleransi bukan hanya nilai yang harus diajarkan, tetapi juga harus dirasakan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sastra anak merupakan alat yang efektif untuk menanamkan nilai ini kepada siswa, dan melalui pembelajaran yang menyenangkan, siswa dapat tumbuh menjadi individu yang penuh empati, menghargai perbedaan, dan siap untuk berkontribusi pada masyarakat yang lebih inklusif. 

Kedepannya, ketika siswa SD sudah memahami dan memiliki rasa toleransi, perbedaan seperti warna kulit, jenis rambut, bentuk mata, bahasa, dan budaya tidak akan menimbulkan konflik. Sebaliknya, perbedaan tersebut akan membuat mereka saling menghargai, menghormati, dan bekerja sama, sehingga tercipta lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan.

Daftar Pustaka

Dewi, A. (2022). "Tolernasi Otentik dalam Sastra Anak Sebagai IMplementasi Wawasan Multikultural." Jurnal Imliah Telaah, 7(1), 78-84

Dewi, F. (2021). "Pemanfaatan Cerita Rakyat dalam Membangun Sikap Toleransi Anak." Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 7(3), 220-232.

Kamal, A., & Maknun, L. (2023) "Implementasi Sikap Toleransi Siswa di Sekolah Dasar" Jurnal Gentala Pendidikan Dasar, 8(10), 52-63

Sumarni, S. (2020). "Pentingnya Pendidikan Toleransi dalam Kurikulum Pendidikan Dasar." Jurnal Pendidikan Karakter, 5(1), 89-101.

Suriyadi, A. (2019). "Pengaruh Sastra Anak Terhadap Pembentukan Karakter Toleransi Siswa." Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 21(2), 45-55

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun