Mohon tunggu...
Rifan Nazhip
Rifan Nazhip Mohon Tunggu... Penulis - Menebus bait

Karyawan swasta dan penulis. Menulis sejak 1989 sampai sekarang

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Sang Perampok

20 November 2019   17:29 Diperbarui: 20 November 2019   17:56 93
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber ilustrasi: pixabay

Kita membelok ke rumah berhalaman lapang. Sebuah bangunan bertingkat dua memayungi kita dari hembusan angin. Pintu depan gedung itu membuka. Seorang anak usia sekitar lima tahun, berjingkrak kesenangan. Dibelakangnya mengekor seorang perempuan gendut dan agak tua. Mungkin dia Mpok Lalah.

Kau bergegas turun ke halaman. Mengambil barang yang bertimbun, dan meletakkannya di teras. Kau sempatkan bertanya, apakah aku mau singgah. Tapi tegas aku menggeleng. Semua harus pelan. Smooth. Tak boleh gegabah. Harus setahap demi setahap. Sekali lagi kau bertanya. Kubalas dengan lambaian dan perlahan menjalankan pick up itu.

****

Bram, Rud, dan Sopantun tersenyum sumringah. Berganti-ganti mereka memperhatikan foto Yang kuberikan. Sebulan aku sudah berkenalan denganmu, jadi tak ada salahnya anak buah tahu sepak terjangku.

"Kapan kita bergerak, Bos?" Sopantun tersenyum cerah.

"Bergerak gundulmu! Perlu proses." Aku menepuk keningnya, kemudian menjelaskan rencanaku. Mereka mengangguk setuju.

Sementara kedekatanku denganmu mulai seperti lem dengan prangko. Kita sering jalan-jalan berdua ke mall. Di hari lain ke kebun binatang atau tepi pantai bersama anakmu. Dan kupikir sudah cukup penjajakannya. Aku sudah tahu kau luar dalam. Bahkan apa yang kau punya. 

Perkara tak ada lelaki di rumahmu, sudah aku ketahui sebelum kita berkenalan.  Kau seorang janda yang ditinggal mati suami empat tahun lalu. Seorang perempuan kaya dan hmm. 

Om Barda yang memberikan fotomu kepadaku. Dia mewanti-wanti agar aku hati-hati. Kukatakan selama ini aku sangat hati-hati terhadap perempuan seperti sedang membawa porselin mahal, hingga sedikit pun tak tergores.

Tiga bulan rasanya sudah cukup. Semua persiapan diatur agar pekerjaannya sukses. Aku tak boleh bersembunyi lagi. Berhari lalu tetap kusembunyikan siapa sebenarnya diriku. Tapi sekarang tidak lagi. Mobil Fortuner hitam metalik itu keluar dari sarang. Bram, Rud, juga Sopantun naik mobil pick up. Seluruh perlengkapan, mereka letakkan rapi di bak belakang.

Perlahan kami menyusuri kota Palembang yang lumayan hangat, meskipun  jam menunjukkan pukul delapan malam. Satu jam lebih kami melewati macet, akhirnya aku mengerem mobil sekitar dua puluh meter dari rumahmu. Tiga anak buahku itu menghentikan mobil pick up di halaman. Perlahan sekali seolah tak memiliki suara.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun